
"Nyimas, kau amat dekat dengan Kakang Braga Sakti sepertinya?" tanya Jaka begitu kakak seperguruannya telah pergi jauh.
"Ya, dia sudah menjagaku sejak aku masih kecil," jawab Dewi Mayasari. "selain itu dia juga menganggapku sebagai adiknya. jadi wajar saja aku begitu dekat dengannya."
"Pantas saja ia terlihat akrab denganmu. Apalagi ia sampai memanggilmu Adinda."
Dewi Mayasari mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jaka.
"Kangmas, apa kau merasa cemburu?"
"Tidak!" Memalingkan wajahnya seraya berbalik. "Mari kita masuk!" Kemudian melangkah masuk ke dalam padepokan.
"Apa benar kau tidak merasa cemburu? Wajahmu sepertinya tidak mengatakan hal itu?"
"Kau terlalu banyak berpikir!" Melangkah dengan cepat tanpa menghiraukan Dewi Mayasari yang mengejar langkahnya.
"Aku sungguh penasaran? Apa kau benar-benar merasa cemburu?"
"Sudahlah! Jangan bermain di air keruh! Lebih baik kita segera beristirahat saja! Bukankah lusa kita akan pergi ke istana kerajaan?"
"Tapi aku masih penasaran! Apakah kau benar-benar cemburu atau tidak?" goda Dewi Mayasari.
Jaka tak menjawab. Hanya mempercepat langkahnya.
"Hei, katakan padaku! Bagaimana? Kau cemburu atau tidak? Bukankah dirimu memiliki saingan sebagai Kakakku?" goda Dewi Mayasari lagi.
Jaka tak menjawabnya hingga memasuki ruang padepokan. Dewi Mayasari terus saja menggodanya hingga sampai ke dalam padepokan tanpa sedikit pun Jaka menggubrisnya.
Dua hari kemudian..
Matahari memancarkan terik panasnya, menemani perjalanan yang ditempuh oleh Jaka dan Dewi Mayasari menuju istana kerajaan Suryalaya.
Perjalanan keduanya pun melewati Desa Kadipaten, tempat dimana ibu angkatnya dikebumikan tak jauh dari tempat ia dan ibu angkatnya dulu tinggal.
Jaka dan Dewi Mayasari menyempatkan diri untuk mampir sejenak, mengunjungi makam ibu angkat Jaka.
“Ibu, aku sudah menemukan keluargaku yang lain,” ucap Jaka tersenyum bahagia. Tangannya menyentuh nisan pusara ibu angkatnya, seakan ia mampu menyentuh wajah ibu angkatnya saat itu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya tanpa terasa, sedikit demi sedikit mengalir pelan di pipinya.
“Kangmas, aku akan pergi sebentar untuk mencari angin.” Mengusap pundak Jaka dan melangkah pergi meninggalkan Jaka.
__ADS_1
“Panggil saja aku kalau Kangmas sudah selesai berbicara,” ucap Dewi Mayasari lagi.
“Ibu.. aku sungguh merindukanmu..” Air matanya makin menetes deras. Ia tak bisa menahan isakannya agar tidak terdengar.
“Andai saja Ibu masih hidup, tentu saja Ibu pasti akan merasakan bahagia seperti yang kurasakan sekarang ini.” Ucapannya terhenti. Tangannya masih mengusap-usap nisan pusara ibu angkatnya.
Jaka menghela napas panjang, mencoba menahan isakannya, menengadahkan wajahnya menatap langit, lalu tertunduk.
Entah apa yang membuatnya begitu sedih bila teringat akan ibu angkatnya. Seolah dirinya belum bisa sepenuhnya merelakan kepergiannya.
"Aku hendak pergi untuk menemui Kakek. Kalau Ibu bertemu dengan Kakek, pasti Kakek akan senang. Kalau saja waktu itu.."
Jaka tak melanjutkan ucapannya. Hanya tersedu-sedu lebih dalam. Ia mengingat kembali setiap bayang ingatannya kala ia masih bersama dengan ibu angkatnya dulu sembari memejamkan mata.
Ia kembali menghela napas lebih dalam. “Aku berharap Ibu baik-baik saja di alam sana. Tolong, jagalah aku dari sana, Bu!”
Tak lama ia berdiri dan mendekati Dewi Mayasari, lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan.
“Nyimas, mari kita lanjutkan perjalanan kita!”
Dewi Mayasari mengangguk. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju istana kerajaan Suryalaya.
“Kangmas, apakah jarak menuju istana kerajaan sudah dekat dari sini?” tanya Dewi Mayasari.
“Sepertinya begitu, Nyimas,” jawab Jaka. “setelah berbelok di depan, seharusnya kita sudah bisa melihat pintu masuk ke dalam istana kerajaan.”
Akhirnya mereka sampai di dekat gerbang istana kerajaan. Seusai pemeriksaan dan menyerahkan sesuatu agar permohonan izin mereka untuk masuk ke dalam istana kerajaan diterima, seorang penjaga segera menuntun mereka guna menghadap pada Baginda Raja Baskara Nara Diningrat, sesuai dengan permintaan Jaka.
Penjaga tersebut tidak menuntun masuk terlalu dalam. Ia hanya menunjukkan arah mana saja yang harus dilalui kepada Jaka dan Dewi Mayasari.
Setelah itu penjaga tersebut kembali dan meninggalkan keduanya.
"Kangmas, dari mana kau mendapatkan benda yang kau serahkan barusan?"
"Guru yang memberikannya padaku."
"Ayahanda?"
"Ya, Guru bilang asalkan kita memiliki benda itu, kita akan diperbolehkan untuk masuk menuju istana kerajaan."
__ADS_1
Keduanya berjalan mendekati pendopo istana kerajaan. Pendopo istana kerajaan tersebut terbuat dari kayu Cendana yang diukir membentuk sebuah gapura dengan hiasan burung sejenis burung Rajawali di kedua sisinya.
Dibalik pendopo tersebut terdapat sebuah taman bunga yang indah dan bermekaran. Taman itu sepertinya terawat baik, karena susunannya yang teratur dengan rapi serta sedap dipandang mata.
Di sisi lainnya, sebuah danau kecil terlihat asri dengan tanaman bunga bermekaran di sisi danaunya, terlihat seakan memikat mata untuk sejenak melihat keasriannya.
Jaka dan Dewi Mayasari berjalan lebih dalam. Kali ini keduanya melewati taman lain yang juga tak kalah indahnya.
Setelah beberapa saat berjalan, keduanya sampai juga di aula utama istana kerajaan. Seseorang yang sedang mereka cari-cari terlihat tengah menunggu kedatangan keduanya, ditemani oleh beberapa orang dayang dan seorang penasihat kerajaan, Patih Laya.
“Kau akhirnya datang juga, Jaka,” ucap seseorang yang tidak lain adalah Baginda Raja Baskara Nara Diningrat.
“Kakek, aku datang untuk bertemu Kakek. Aku sudah mengetahui tentang Kakek dari Guru," ucap Jaka seraya memberikan hormatnya.
"Terimalah hormatku ini! Semoga Kakek panjang umur!”
“Bangunlah!" pinta Baginda Raja. "jangan terlalu sungkan. Kau adalah Cucuku. Aku juga bagian dari keluargamu sekarang.” Segera merengkuh tangan Jaka. Jaka lalu bangkit, Baginda Raja lantas merangkul Jaka sesaat, melepas rasa rindunya setelah perpisahan yang begitu lama dengan sang cucu.
“Kau sudah tumbuh besar. Maafkan atas kebodohan Kakek! Karena keegoisan dan setitik kebencian dalam diriku, sampai-sampai aku tega menelantarkan dirimu hingga ke daerah yang jauh di luar istana kerajaan.”
“Sudahlah, Kek. Itu semua sudah berlalu. Aku masih bersyukur, saat ini aku masih bisa bertemu dengan Kakek!”
“Ngomong-ngomong, dengan siapa kau kemari? Apakah dia istrimu?” Memandang lekat ke arah Dewi Mayasari.
Wajah Dewi Mayasari tiba-tiba memerah. Ia lantas memberikan hormat seperti yang Jaka lakukan pada Baginda Raja. Jaka pun terlihat malu mendengar ucapan Baginda Raja Baskara Nara Diningrat barusan.
“A, Aku datang bersama dengan murid satu perguruanku, Kek,” ucap Jaka gugup.
“Siapa gerangan namamu, Nduk?” tanya Baginda Raja.
(Sebagai catatan: kata "Nduk" merupakan panggilan seseorang kepada orang yang lebih muda sebagai panggilan sayang)
“Namaku Dewi Mayasari, Paduka," jawab Dewi Mayasari penuh penghormatan. "aku putri dari Raden Surya Wisesa,”
“Jangan memanggilku Paduka! Panggillah Kakek saja seperti Jaka!” pinta Baginda Raja.
Dewi Mayasari sempat bingung dengan ucapan Baginda Raja. “Baik, Ka.. Kakek,” balasnya dengan wajah tertunduk malu.
“Sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat. Hm, sebentar, sebentar.” Baginda Raja berpikir sejenak. "di mana aku pernah mendengar nama itu?" gumam Baginda Raja berusaha mencari tahu siapa pemilik nama yang disebutkan oleh Dewi Mayasari.
__ADS_1