
Suara jeritan gadis itu membuat Jaka terkejut. Apalagi penyiuk air yang melayang hingga mengenai wajah Jaka membuat wajahnya sedikit memar di dahinya. Jaka yang semula dalam kondisi setengah mengantuk, tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar.
“Ke, ke, kenapa kau ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk?”
Jaka menangkap sosok seorang gadis di hadapannya yang hanya berselimutkan kain tipis yang menutupi sebagian tubuhnya, ternyata gadis itu adalah orang yang diperkenalkan oleh gurunya, Dewi Mayasari. “Oh, rupanya ada orang. Kupikir tidak ada siapa pun di dalam,” ucap Jaka enteng.
“Kau..” Gadis itu menjadi marah. Ia berlari hendak memukul Jaka. Sebelum langkahnya sampai, kain yang dipakainya untuk menutupi tubuhnya terjerat di kakinya. Ia akhirnya terhuyung hendak jatuh. Jaka yang mengetahui hal itu, dengan spontan berusaha menolongnya agar tidak jatuh. Alhasil, yang terjadi adalah Jaka tertimpa tubuh gadis itu. Gadis itu segera menyingkir dari tubuh Jaka. Hampir sebagian tubuhnya terlihat oleh Jaka. Aaaahh! Gadis itu kembali berteriak. Jaka menatap datar ke arah gadis itu, masih menerka apa yang tengah terjadi.
Melihat hal itu, wajah gadis itu tiba-tiba menjadi merah, dan sesaat kemudian, Plakk! Gadis itu melayangkan tamparan yang cukup keras hingga terlihat bekas tangannya di wajah Jaka.
Seolah Jaka belum sepenuhnya sadar, tak ada respon apa pun dari padanya. Tatapannya seolah kosong tanpa ada pikiran.
“Kau, kau.. kenapa kau masih diam saja? kenapa kau belum keluar juga dari sini?”
Jaka masih tak merespon. Gadis itu akhirnya menangis sambil memanggil-manggil ayahnya, Mpu Anggar Maya. Tak lama orang yang di maksud akhirnya tiba di tempat.
“Ayahanda.. hu.. hu..” Gadis itu terisak sambil menutupi badannya dengan kain tipis yang dipegangnya.
“Guru, aku di tampar oleh seseorang,” ucap Jaka seakan tak tahu apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Di ruang tempat membaca..
Mpu Anggar Maya ditemani oleh seorang gadis yang merupakan putrinya sedang menunggu kedatangan Jaka.
“Ayahanda, kau harus hukum dia dengan seberat-beratnya!” pinta gadis itu dengan sangat. “dia harus meminta maaf padaku juga!”
Sesaat kemudian, Jaka memasuki ruang membaca. Wajahnya terlihat agak suram. Gambar telapak tangan menghiasi wajahnya, sementara di dahinya tampak sebuah memar, meskipun terlihat agak samar.
“Guru, aku sudah datang,” ucap Jaka dengan lesu.
“Baiklah! kemari dan duduklah!” pinta Mpu Anggar Maya.
“Kau juga, duduklah di situ!” Mpu Anggar Maya menunjuk sebuah tempat pada putrinya.
“Ayahanda, Kenapa aku harus duduk di sampingnya?”
“Bukankah kau ingin menyelesaikan masalahmu dengannya.”
“Emm, itu.. ya, aku ingin menyelesaikannya. Tapi aku tidak mau duduk di sampingnya.”
__ADS_1
“Baiklah, baiklah. Kau bisa duduk lebih jauh.”
Gadis itu mulai menerima saran ayahnya.
“Baiklah, sekarang mari kita lihat duduk permasalahannya. Mari kita mulai dengan mengawali ceritanya dari Jaka terlebih dahulu.”
Jaka segera menceritakan tentang kejadian yang dialaminya tadi pagi hingga Mpu Anggar Maya melihat dirinya berakhir dengan sebuah tamparan keras di wajahnya. “Begitulah ceritanya, Guru,” tutur Jaka berterus-terang.
Mpu Anggar Maya memandang ke arah putrinya, “Sekarang kita dengarkan sisi lain dari ceritamu. Apakah ada kesamaan dalam ceritamu dengan cerita Jaka.”
“Tidak! Bukan seperti itu ceritanya! Aku hendak memukulnya karena ia masuk ingin mengintipku!.” sahut gadis itu marah. “Ayahanda, kau harus membelaku. Dia pantas mendapatkan hukuman!”
“Kau tidak bisa hanya memikirkan ego-mu saja. Jaka tidak sepenuhnya bersalah dalam masalah ini. Kau juga harus mendapatkan hukuman bila ingin masalah ini mendapat keadilan masing-masing dari kalian.”
“Tidak! Aku tidak setuju!” Tetap bersikeras merasa dirinya tak bersalah.
“Lihatlah wajah Jaka. Apakah kau pikir kau tidak melakukan tindakan keras padanya?”
“Aku..” Gadis itu tidak dapat mengelak dari perbuatannya lagi.
__ADS_1
“Guru, biarlah aku yang menerima hukuman itu.” Akhirnya Jaka membuka suaranya. Mpu Anggar Maya tersenyum mendengar ucapannya.