
Sementara itu jauh di kedalaman hutan, di markas kelompok Kuda Hitam, dalam ruangan sempit tak bercahaya, seorang gadis bersandar di dinding ruangan itu.
Tangan dan kakinya terikat. Mulutnya tak bisa bersuara karena tersumpal kain. Pandangannya terlihat gelap akibat kain cukup tebal yang menutupi matanya.
Dua penjaga berdiri tegap di muka pintu ruangan tersebut, lengkap dengan senjata menjaga ketat ruangan tersebut.
Di ruangan lain, dua orang terlihat tengah duduk-duduk di meja makan membahas tentang rencana mereka.
“Hei Ledonggowo, kerjamu hanya mengisi perutmu saja. Cepatlah, katakan padaku! Mau kita apakan gadis itu?”
“Akan kujadikan dia sebagai umpan untuk memancing Jaka Umbara keluar.”
“Bagaimana kalau nanti kita gagal? Bisa-bisa mampuslah kita!”
“Tenanglah, Ambarwati. Tak usah cemas!” ucap Ledonggowo penuh keyakinan. “aku yakin rencana kita akan berjalan mulus.” Ia berbicara dengan entengnya sembari terus menyodorkan daging yang ia pegang ke mulutnya.
“Kalau dia tidak datang kemari, Adiknya itu akan kubuat sebagai gudang uang yang berharga untukku.” Ledonggowo tertawa puas, seolah kemenangannya atas Jaka Umbara sudah diraihnya.
“Terserah kau sajalah! Kalau tak berhasil, jangan salahkan aku yang sudah banyak mengingatkanmu agar cepat bertindak."
"Ini masalah dendam pribadimu. Tak ada sangkut paut sedikit pun denganku. Jika saja dulu kau tidak menolongku, maka aku tidak akan sudi ikut membantumu membalaskan dendam.”
"Ya, ya. Bersenang-senanglah! Kau tunggu saja bagaimana hasilnya nanti."
Sri Ambarwati hanya bisa menelan ludah dengan perasaan dongkol, meninggalkan Ledonggowo yang masih asyik mengisi perut. Ia menggelengkan kepalanya atas tindakan yang dilakukan Ledonggowo.
Pagi-pagi sekali Jaka dan Nyi Dewi serta Ki Pucung dan Nyi Pucung siap berangkat untuk mencari keberadaan Laras.
Mereka membagi target arah pencarian menjadi dua arah. Jaka dan Nyi Dewi pergi menuju arah barat, sedang Ki Pucung dan Nyi Pucung ke arah utara.
“Kita bagi saja arah pencarian kita. Paman dan Bibi sebaiknya mencari ke arah utara, sedangkan aku dan Kangmas Jaka pergi ke arah barat. Dengan begitu kita akan cepat menemukan keberadaan Laras,” ucap Nyi Dewi.
"Ada kemungkinan juga kita akan bertemu di sekitaran hutan. Hanya saja tak pasti," tambah Nyi Dewi.
“Baiklah, kalau begitu kita akan berpisah di sini,” ucap Nyi Pucung.
“Di mana sebaiknya kita akan berkumpul lagi nanti?” sambung Ki Pucung.
“Lebih baik kita berkumpul di padepokan saja,” usul Jaka.
Ki Pucung dan Nyi Pucung mengangguk. Keduanya segera bersiap untuk berangkat. “Kalian berhati-hatilah kalau begitu. Kami berangkat lebih dulu,” pesan Nyi Pucung.
Jaka dan Nyi Dewi mengangguk. Tak lama, Jaka dan Nyi Dewi pun segera bergegas.
“Kangmas, menurutmu, siapa orang yang telah menculik Adik Kangmas itu?” tanya Nyi Dewi saat memulai perjalanan.
“Entahlah, Nyimas! Aku juga tidak tahu pasti siapa dalang dibalik semua ini.”
“Mungkinkah semua ini ulah Ledonggowo yang Kangmas ceritakan kemarin? Bisa jadi ia masih dendam pada Kangmas atas kejadian tempo hari itu.”
__ADS_1
“Entahlah! Bisa jadi itu juga kemungkinan yang mengarah pada apa yang terjadi saat ini. Tapi, selama kita tak punya bukti yang kuat, akan sulit bagi kita untuk bisa membuktikan kebenarannya.
Menghela napas. "Hal yang saat ini bisa kita lakukan untuk sekarang hanyalah mencari kebenarannya terlebih dahulu.”
"Tapi, apakah Kangmas tidak mencurigai Ledonggowo terlibat dalam masalah ini?"
"Aku pun berpikir begitu. Hanya saja, aku belum terlalu yakin."
Keduanya langsung menarik kendali kuda dan dengan cepat meninggalkan daerah padepokan mengarah ke arah hutan.
Perjalanan mereka sudah menempuh jarak perjalanan sekitar dua jam lebih.
Sesaat tiba-tiba, Jaka menarik kendalinya sehingga membuat Nyi Dewi keheranan.
“Kangmas, ada apa? Kenapa kita berhenti di sini?”
Jaka mengamati sekitaran nya. “Pelankan suaramu, Nyimas! Ada beberapa orang yang tengah diam memperhatikan gerak-gerik kita. Setidaknya mereka berjumlah sepuluh orang atau mungkin lebih.”
“Siapakah mereka, Kangmas?”
“Aku juga tidak tahu pasti. Tapi sepertinya mereka tidak bermaksud baik terhadap kita.” Masih memperhatikan sekitarannya dengan seksama.
Nyi Dewi turut memperhatikan sekitaran seperti yang dilakukan oleh Jaka.
“Kangmas, aku pikir tidak ada siapa pun di sini. Mengapa kita tidak melanjutkan perjalanan kita saja?”
“Tunggu, Nyimas,” tegas Jaka. Ia masih menunggu kehadiran orang-orang yang diam bersembunyi sambil memperhatikan gerak-gerik keduanya.
“Hebat juga kau bisa tahu keberadaan kami.”
Seseorang muncul dan memotong ucapan Jaka, diikuti beberapa orang yang keluar dari balik pohon.
"Kau pasti lumayan hebat. Pantaslah aku disuruh untuk membereskanmu. Rupa-rupanya aku menemukan seseorang yang sebanding denganku," ucapnya dengan nada merendahkan.
“Siapa yang telah mengutusmu untuk berurusan denganku?” tanya Jaka. Orang itu tak menggubris pertanyaan Jaka.
“Kalau kau bisa mengalahkanku, mungkin aku bersedia memberitahumu siapa yang mengutusku,” tantangnya.
“Baiklah! Kau yang memintanya.”
Jaka menekan tangannya, berpijak pada punggung kuda dan membuatnya terbang melayang turun dari kudanya, kemudian menapaki angin menyerbu seorang diri ke arah orang yang menghadangnya.
“Kangmas, hati-hati!” teriak Nyi Dewi. Ia hendak memacu kudanya, tapi beberapa orang keburu menahannya.
“Hei, manis! Kau mau ke mana?” cegah seseorang yang menghadang jalannya.
“Ya, ya. Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu. Temani kami sebentar, ya!” ucap yang lain sambil cengengesan.
"Bersenang-senang dengan kalian?"
__ADS_1
"Benar, benar. Patutlah, dan kami tidak akan menyakitimu," sahut yang lain.
"Kami akan membuatmu seperti sedang melayang di surga," timpal yang lainnya.
Nyi Dewi bermuka masam, menganggap rendah mereka dengan pandangannya. “Coba saja jika kalian sudah bosan hidup.”
Nyi Dewi mencoba untuk memprovokasi beberapa orang itu agar langsung marah dan menyerangnya.
“Dasar cecunguk! Banyak tingkah! Habisi saja dia!”
Beberapa orang itu langsung mengangkat senjata mereka, dan menghunuskannya ke arah Nyi Dewi. Nyi Dewi menghindari sabetan senjata tajam yang dihunuskan kepadanya, lantas bergegas menuju ke tempat Jaka yang tengah beradu pedang dengan seseorang.
“Kangmas, bagaimana kondisimu?”
“Aku tak apa. Bagaimana denganmu?”
“Aku tak apa. Tapi belakangku sepertinya lumayan terbuka. Kukira Kangmas bisa sedikit lebih memperhatikannya.”
“Serahkan saja padaku, kita sama-sama jaga belakang kita.”
“Baiklah."
Jaka dan Nyi Dewi berusaha menghindar dan menjaga area belakang mereka.
“Kangmas, sepertinya bagianmu sangat terbuka, berhati-hatilah!”
“Apakah kau mencoba untuk membuatku sedikit ketakutan,” seloroh Jaka. Nyi Dewi hanya mengulum senyum.
“Hohoho, kurasa ini bukan saatnya bagi kalian untuk saling bermesraan!. Kalau kau tidak memperhatikan sekitarmu, aku ragu kau bisa menang dariku.”
“Kita lihat saja!” ucap Jaka mantap.
Setengah jam berlalu dan waktu berjalan begitu cepat. Baik Jaka Umbara dan Nyi Dewi, maupun orang yang menantangnya, belum ada satu pun dari mereka yang terluka.
Beberapa orang yang mengikutinya masih sanggup menyerang Jaka dan Nyi Dewi, sedangkan sebagian yang lainnya sudah terkapar di tanah.
Beberapa jam terlewati dan waktu kian berputar semakin tak terasa. Kini, hanya tersisa ketiganya yang masih kuat untuk berdiri dan menahan serta mengeluarkan serangan.
Ketiganya masih gigih membuktikan siapa yang masih sanggup berdiri tegak.
“Aku rasa kita tidaklah seimbang dalam pertarungan ini. Satu lawan dua! Tidakkah ini terlihat tidak cukup adil bagi kita? Apa pendapatmu?”
Jaka tak menanggapinya, begitupun dengan Nyi Dewi. Keduanya hanya fokus menangkis dan menghindari serangan orang itu.
Orang itu semakin gencar melancarkan serangannya kepada Jaka dan Nyi Dewi.
Sebuah serangan sempat mengancam Jaka, namun Jaka masih sanggup untuk menghindarinya.
Sementara itu, Nyi Dewi juga mendapat serangan yang sama, namun luput dari padanya.
__ADS_1
Nyi Dewi terhuyung, hampir saja terjatuh dan nyaris mendapati dirinya tersentuh ketajaman pedang orang itu jika saja Jaka tak segera menarik tubuhnya sehingga mampu menyelamatkan hidupnya.