
“Nyimas, awas!” Menarik tubuh Nyi Dewi dengan spontanitas.
Nyi Dewi kehilangan keseimbangannya dan terpaksa harus bertumpu pada tubuh Jaka. Keduanya pun saling berkontak fisik beberapa saat. Nyi Dewi merasa malu dan wajahnya mulai memerah.
“Nyimas, apa kau baik-baik saja?” tanya Jaka. Tangannya mendekap erat tubuh Nyi Dewi yang terjatuh di tubuhnya. Nyi Dewi semakin merasa malu dibuatnya.
“Ka, Kangmas, kau sudah bisa melepaskan peganganmu,” ucap Nyi Dewi gugup.
“Ahh, ma, maafkan aku!” Segera melepas dekapannya. Suasana menjadi canggung seketika.
“Aduh, lagi-lagi kalian saling bermesraan! Membuatku kehilangan selera bertarung saja!”
Ucapan dari orang itu mengurangi sedikit suasana canggung diantara Jaka dan Nyi Dewi.
“Begini saja, kita tunda pertarungan kita untuk sementara waktu. Kalau kau benar-benar ingin tahu siapa yang menyuruhku, datanglah ke Gua Batu di bukit Tinggling. Aku akan menunggumu di sana. Akan kuceritakan semuanya padamu, termasuk soal keluargamu.”
Jaka dan Nyi Dewi saling pandang merasa kebingungan. Apa yang harus dilakukan keduanya, seolah seperti orang linglung.
“Baiklah, aku pamit dulu. Sampai bertemu lagi di bukit Tinggling.”
“Tung, tunggu..” Jaka hendak mengejar orang itu.
“Ah, iya, aku lupa! Kalian sungguh serasi,” ucapnya lagi sebelum orang itu benar-benar menghilang dari hadapan keduanya.
Nyi Dewi tersipu malu, begitu pun dengan Jaka. Keduanya kembali diliputi suasana canggung semenjak orang itu menghilang.
“Nyimas, mari kita lanjutkan perjalanan kita.” ucap Jaka berusaha menghilangkan rasa canggung.
Nyi Dewi sedikit gugup dan tidak keruan “Ba, baiklah,” balasnya beberapa saat kemudian.
Keduanya segera mencari kuda masing-masing supaya bisa kembali melanjutkan perjalanan mencari di mana keberadaan Laras seperti yang sudah direncanakan.
Beberapa orang yang terkapar sebelumnya ikut menghilang bersama kepergian orang itu. Tak ada satu pun dari mereka yang terbaring seperti sebelumnya.
"Ke mana perginya para pengikutnya itu? Apakah orang itu membawa mereka pergi bersamanya juga?" batin Jaka. Namun, ia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.
Jaka lantas bersiul memanggil kudanya. Tak lama, kuda yang ditunggangi olehnya meringkik keras dan mendekat padanya, seolah mengerti dengan bahasa panggilan Jaka. Namun, kuda yang ditunggangi oleh Nyi Dewi tak kunjung datang mengikuti kuda Jaka seperti biasanya.
Jaka bersiul sekali lagi, sayangnya tak ada yang berubah.
"Nyimas, kudamu biasanya menyahutiku begitu kupanggil?" Memandang Nyi Dewi. "apa mungkin terjadi sesuatu pada kuda Nyimas?"
Nyi Dewi tak menanggapinya. Wajahnya masih menunjukan rasa malu yang belum hilang.
Jaka kembali bersiul sekali lagi memanggil kuda yang ditunggangi oleh Nyi Dewi. Sayangnya, kuda itu tak kunjung datang.
__ADS_1
Beberapa siulan yang diulangnya tetap tak berarti.
Saat mendengar siulan Jaka, kuda yang ditungganginya meringkik keras. Kuda itu berjalan seolah sedang menarik Jaka dan Nyi Dewi agar mengikutinya.
Keduanya pun sama-sama pergi mengikuti langkah kuda yang sepertinya tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
Benar saja, kuda yang ditunggangi oleh Nyi Dewi ternyata telah mati tertusuk tombak, sehingga tidak menyahut ketika Jaka bersiul memanggilnya.
Jaka berjalan mendekati kuda itu, lantas mengusap punggungnya seakan tengah mengucapkan kata perpisahan.
Setelah kembali, ia merasa kebingungan bagaimana caranya ia harus meneruskan perjalanan, sementara kuda yang tersisa tinggal kuda miliknya.
Jaka memutar akal, bagaimana keduanya bisa bersama-sama kembali melanjutkan perjalanan, dan hanya ada satu cara yang terlintas dipikirannya saat itu.
“Nyimas, karena kuda yang Nyimas pakai telah mati, sementara kita harus kembali melanjutkan perjalanan kita, maka kita mahu tak mahu harus duduk di atas satu kuda bersama-sama. Bagaimana menurut Nyimas?” Jaka membuang pandangannya. Ucapan Jaka terdengar seakan ragu-ragu.
“Sepertinya kita tak punya pilihan lain, Kangmas.” ucap Nyi Dewi dengan wajah tertunduk. Ia tak berani menatap wajah Jaka saat itu.
Keduanya sama-sama naik ke atas kuda dan kembali melanjutkan perjalanan. Jaka duduk di belakang memacu laju kudanya, sedang Nyi Dewi duduk menyamping di depan.
Sepanjang perjalanan yang ditempuh, tak ada satu pun kata yang bersahutan. Hanya suara langkah kaki kuda yang terdengar amat jelas.
Senja hampir mendekati waktunya, dan sebentar lagi mereka mulai memasuki hutan.
“Nyimas, kalau kau merasa mengantuk, tidurkanlah! Aku akan membangunkanmu saat kita sampai nanti. Kau bisa bersandar padaku jika tidak keberatan. Biarlah laju kudanya kupelankan untukmu.” ucap Jaka memecah keheningan.
Nyi Dewi seketika merebahkan tubuhnya dan bersandar di tubuh Jaka. Meski kedua matanya terpejam, namun pikirannya tak bisa ia hilangkan, malah semakin terjaga.
Jaka perlahan memacu kuda menembus hutan yang mulai gelap.
Suasana sunyi kian terasa. Dingin sedikit menembus kulit berhembus semilir angin. Kegelapan makin pekat setiap kali makin dalam bagian hutan yang terlewati.
Sebagian hutan sudah dilalui keduanya. Untuk sementara ini, tak ada kendala yang berarti.
Nyi Dewi terlihat gusar. Meskipun ia telah memejamkan matanya, namun hal itu tak bisa membuatnya langsung tertidur. Ada sekelumit beban yang dirasanya merasuki pikirannya. Ia tak tahu apa itu, namun hal itu sungguh mengganggu pikirannya saat itu. Matanya pun kembali terbuka.
“Ada apa, Nyimas? Adakah sesuatu yang mengganggumu?” tanya Jaka.
Nyi Dewi menggeleng. Tak tahu apa yang mesti diucapkannya pada Jaka. Ia hanya tahu bahwa jiwanya sedikit bergejolak.
Jaka dan Nyi Dewi Sudah masuk ke dalam hutan agak dalam. Jaka pun memutuskan untuk berhenti dan beristirahat sejenak.
“Nyimas, apa kau lapar? Bagaimana kalau kita beristirahat sejenak?” tanya Jaka lagi.
Nyi Dewi tetap tak menjawab. Ia hanya mengangguk.
__ADS_1
Jaka bergegas turun dan membantu Nyi Dewi turun dari kuda. "Nyimas, hati-hati! Mari kubantu."
Nyi Dewi berpegangan pada tangan Jaka yang membantunya turun dari atas kuda. Sekelumit beban yang dirasa mengganggu pikirannya itu, kini semakin bertambah, gejolak di jiwanya seakan mulai meluap.
Setelah itu, Jaka segera mengambil bahan berupa daging untuk makan yang sudah dipersiapkannya, kemudian menyalakan api dan membakarnya.
Nyi Dewi terduduk di sebelah Jaka. Jaka terheran-heran melihat tingkah Nyi Dewi yang tidak seperti biasanya, seolah jiwa dan tubuhnya berada di dua tempat yang berbeda.
Sesekali ia memandang wajah Jaka dengan tatapan kosong, kemudian memandangi arah lain. Terkadang pula, pandangan dari keduanya saling bertautan.
“Nyimas, apa yang mengganggumu saat ini? Kulihat Nyimas seperti bukan Nyimas yang biasanya. Apakah ada sesuatu yang sedang kau risaukan?”
Lagi-lagi tak ada tanggapan apa pun dari Nyi Dewi. Nyi Dewi hanya menggeleng pelan. Jaka makin bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Jaka hanya menyibukkan diri membakar bahan daging yang belum matang. Ia tak mau ambil pusing dan membiarkannya sendiri.
“Nyimas, makanlah selagi hangat! Hmm.. ciumlah aromanya!? Harum sekali! Apa Nyimas ingin mencobanya.” Melemparkan senyuman, berusahaa merubah suasana.
Jaka menyodorkan daging matang yang telah dibakarnya kepada Nyi Dewi. Nyi Dewi terdiam, memandangi Jaka sejenak. Entah apa yang dipikirkan Nyi Dewi saat itu, tak ada tanggapan apa pun. Datar dan kosong.
Dan tanpa banyak bicara, Nyi Dewi meraih daging matang yang sudah Jaka bakarkan dan segera melahapnya pelan-pelan.
Jaka kembali menyibukkan diri membakar bahan-bahan daging yang belum matang. Jaka sesekali mengamati Nyi Dewi, karena menurutnya tingkah Nyi Dewi agak aneh.
Setelah menyantap daging yang dibakar sembari beristirahat sejenak, keduanya kembali melanjutkan perjalanan, masih dengan posisi yang sama seperti di awal perjalanan.
Di bawah sinar terang rembulan..
Lambat laun jarak yang ditempuh sudah mulai memasuki hutan. Meskipun dengan keadaan yang semakin gelap dan hanya bercahayakan sinar rembulan, tapi hal itu tak menyurutkan tekad keduanya untuk tetap mencari keberadaan Laras.
Nyi Dewi tiba-tiba bersuara, “Kangmas.. Kangmas..” Jaka memandangi Nyi Dewi. Badannya terasa panas seperti demam.
Nyi Dewi terus memanggil-manggil Jaka. Jaka merasakan firasat yang buruk sedang mengancam.
Jaka bersegera membangunkan Nyi Dewi yang tidur bersandar di tubuhnya,
“Nyimas, Nyimas.. bangunlah!"
Jaka berulang kali menggoyangkan tubuh Nyi Dewi agar segera sadar. Tapi, Nyi Dewi tak kunjung tersadar.
Di kejauhan Jaka merasakan keberadaan beberapa orang yang sedang menunggu kedatangannya. Laju kuda masih ia pacu secara pelan-pelan.
“Siapa di sana?”
Beberapa orang yang tengah menunggu kedatangannya lantas menampakkan diri.
__ADS_1
“Siapa kalian?"
"Semoga kali ini bukanlah masalah besar,” batinnya.