
"Di mana Istrimu? Aku tidak melihatnya!" Mengalihkan pandangannya kepada Jaka.
"Mmm.." Merasa kebingungan bagaimana harus menanggapi ucapan Baginda Raja.
"Siapakah yang bersamamu?" Memandang orang yang baru dilihatnya. Mengalihkan ucapan sebelumnya.
"Salam hormat, Paduka. Mohon terimalah hormat Hamba." Memberi penghormatan dengan wajah tertunduk dan badan yang sedikit membungkuk.
"Bangunlah! Siapa gerangan namamu?"
Lembing Wuluh mengangkat pandangan. "Nama Hamba, Lembing Wuluh, Paduka."
"Kakek, dia ini kawanku. Dia adalah putra dari Paman Suwira dan Bibi Lasmi," terang Jaka.
"Suwira? Lasmi? Apa yang kau maksud?.."
"Kakek, benar. Keduanya merupakan dua pelayan setia yang mengabdikan diri pada Ayahanda dan Ibunda . Aku beberapa kali mengunjungi kediaman mereka," jelasnya lagi.
Lembing Wuluh membungkukkan tubuh. "Ayah dan Ibu juga menghaturkan hormat untuk Paduka. Mohon, Paduka berkenan menerima hormat mereka," ucap Lembing Wuluh.
"Hamba dimintai oleh Ayah dan Ibu untuk senantiasa melayani Raden Jaka," tambah Lembing Wuluh menjelaskan.
"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak memanggilku dengan sebutan seperti itu lagi?" Menyikut lengan Lembing Wuluh.
"Ma, maaf.." Menundukkan wajah.
Baginda Raja mengangguk paham diiringi tawa renyah di wajahnya.
"Kakek, apa yang Kakek tertawakan?"
"Tidak ada. Kalian, istirahatlah! Aku akan menyiapkan beberapa pakaian dan kamar tidur untuk kalian berdua."
"Tapi, Kek, ada hal penting yang ingin aku bahas bersama Kakek.."
"Baiklah, aku akan mencari waktu. Kalian istirahat saja terlebih dahulu. Perjalanan kalian yang cukup panjang pasti membuat kalian kelelahan. Beristirahatlah sebentar supaya tubuh kalian kembali bugar."
"Baik, Kek. Kami akan pergi beristirahat."
"Dayang! Kemari!" Baginda Raja kemudian memanggil dayang istana yang tersebar di setiap bagian istana.
"Sendiko Gusti Prabu!" Dua orang dayang istana mendekat. Kemudian memberikan penghormatan terbaik mereka di hadapan Baginda Raja.
"Apakah kalian berdua tak memiliki tugas yang lain?"
"Sendiko Dawuh Gusti Prabu. Kami tidak memiliki tugas lain. Kiranya, hal apa yang perlu kami kerjakan?" tanya dua dayang tersebut bersamaan.
"Siapkanlah pakaian bersih dan dua kamar untuk mereka," titah Baginda Raja kepada dua dayang tersebut.
"Sendiko Gusti Prabu!"
__ADS_1
Dua dayang tersebut segera bangkit, lalu menundukkan wajah menghadap ke arah Jaka. "Mari, Raden!"
"Kakek, aku akan pergi beristirahat dulu." Jaka undur diri, lantas mengikuti langkah dua orang dayang. "aku akan menagihnya. Kakek harus menepati ucapan Kakek tadi."
"Baik, baik. Kau memang tidak sabaran."
"Hamba mohon undur diri, Paduka." ucap Lembing Wuluh bersiap menyusul Jaka.
"Ya, pergilah untuk beristirahat."
Dua dayang tersebut menuntun Jaka dan Lembing Wuluh. Keduanya bersama-sama mengikuti langkah dua orang dayang yang menuntun keduanya menuju kamar yang dipersiapkan untuk keduanya.
Selama menunggu persiapan kamar yang belum selesai. Keduanya terlihat memulai sebuah percakapan ringan sembari duduk menunggu dua orang dayang keluar dari ruang kamar.
"Jaka, Kakekmu tadi, maksudku, Paduka, sewaktu tadi bertanya mengenai Istrimu?! Apakah kau sungguh sudah menikah? Apa mungkin orang yang bersamamu sewaktu kau memasuki hutan itu adalah Istrimu?"
Jaka pun seketika merasa malu. "Ti, tidak! Aku .." Menjawab gelagapan. "lupakan saja apa yang dikatakan Kakekku," pinta Jaka.
Merasa bingung dengan permintaan Jaka. "Baik, aku tidak akan membahasnya lagi."
Lembing Wuluh masih menerka-nerka apa yang sedang Jaka tahan dibalik ucapannya barusan. Belum sempat mendapatkan apa yang ada dipikirannya, pikiran Lembing Wuluh pun buyar ketika dua orang dayang kembali setelah pekerjaan mereka selesai.
"Raden, ruangan kamar telah selesai kami siapkan. Raden bisa memanggil kami bila ada sesuatu yang Raden butuhkan," ucap salah seorang dayang pada Jaka.
"Baiklah, kalian boleh melanjutkan tugas yang lain. Aku akan memintanya jika ada sesuatu yang kubutuhkan,"
Jaka dan Lembing Wuluh segera masuk ke dalam kamar masing-masing yang terletak bersebelahan, tak lama setelah dua orang dayang yang menyiapkan ruangan kamar untuk keduanya berlalu pergi.
...###...
Ruangan pribadi Baginda..
Setelah tinggal selama dua hari di istana kerajaan tanpa melakukan hal apa pun. Akhirnya Jaka
"Kakek, aku ingin menanyakan sesuatu."
"Hal apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah Kakek pernah mendengar tempat bernama Gua Batu yang terletak di Bukit Tinggling?"
"Tidak. Aku belum pernah mendengarnya. Untuk apa kau menanyakan tempat itu?"
"Ah, bukan, bukan apa-apa. Ada seseorang yang menyuruhku untuk pergi ke tempat itu. Dia bilang akan menungguku di sana."
"Mungkinkah dia mengenalimu? Apa kau tahu siapa dia?"
Menggeleng. "Aku hanya bertemu dengan orang itu sekali saja. Setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi."
Baginda Raja mencoba memikirkan akan ucapan Jaka lebih dalam.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan sebelumnya?"
"Tidak ada."
"Lantas, untuk apa dia menyuruhmu pergi ke tempat itu dan menemuinya?"
Jaka mau tak mau harus menceritakan apa penyebab utamanya. Akhirnya ia berterus terang tentang kejadian yang dialaminya sewaktu ia dan Nyi Dewi harus bertarung bersama-sama melawan seseorang ketika keduanya mencari akan keberadaan Laras.
"Begitulah yang terjadi. Aku masih merasa bingung, Kek. Apakah yang dikatakannya itu sungguh benar atau hanyalah sekadar bualannya saja."
"Kau mempunyai seorang adik perempuan rupanya. Kenapa kau tidak mengajaknya?"
"Mmm.. Aku tidak sempat. Lain waktu aku akan membawanya saat menemui Kakek."
"Apakah dia Adik perempuannya?"
"Bukan! Ini tak ada hubungannya dengan Nyimas. Ceritanya sangat panjang untuk kujelaskan sekarang."
"Kau bahkan tidak mengajak serta Istrimu saat berkunjung kemari."
Merasa malu. "Bukannya begitu, Kek.."
"Apa kalian tidak berdampingan lagi?"
"Kakek.. Aku dan Nyimas bahkan belum .."
Baginda Raja tiba-tiba memotong ucapan Jaka. "Apa kau tidak ingin menikahinya?"
Jaka terdiam seketika. Pandangannya pun tertunduk dengan wajah sedikit memerah.
"Kakek, bisakah kita tidak membahas hal itu sekarang?.."
"Baiklah, mari kembali pada pembahasan kita mengenai orang yang menyuruhmu untuk pergi ke suatu tempat bernama Gua Batu." Baginda Raja menarik napas pelan, lalu mengeluarkannya. Kini aura wajahnya tampak lebih serius. "bagaimanakah ciri-ciri orang itu? Apakah kau masih ingat?" tanya Baginda Raja
"Iya." Tertegun dan tidak bisa mengatakan apa-apa saat mendengar ucapan Baginda Raja, seolah Kewibawaannya terpancarkan dengan jelas dari pandangannya.
"Ia memakai sebuah topeng di wajahnya yang menutupi sebagian wajahnya. Mmm, seperti ini." Jaka menggambarkan bentuk topeng yang diingatnya. Sebisa mungkin menjelaskan lebih detail kepada Baginda Raja.
"Sepertinya ciri yang kau sebutkan sedikit terasa familiar dalam ingatanku."
"Apakah Kakek mengenal orang itu?" tiba-tiba bersemangat.
Menghela napas. "Tidak! Mungkin hanya perasaanku saja."
"Kupikir Kakek benar-benar mengetahui identitasnya." Tertunduk lesu.
"Lantas, apa yang akan kau lakukan?"
"Entah! Mungkin sebaiknya aku temui dia saja untuk membuktikan kebenaran dari ucapannya itu."
__ADS_1