Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Rencana perjalanan ke Desa Runggal


__ADS_3

Jaka terlihat senang, rasa kecewanya seakan sirna begitu mendengar ucapan Paman Datuk.



“Paman, katakan padaku, di mana aku bisa mendapatkannya?” tanya Jaka penuh antusias.



“Apakah kau sangat senang ketika mendengarnya?”



“Iya, Paman. Barang yang Paman sebutkan adalah barang yang mesti kudapatkan bagaimanapun juga.”



“Begitu rupanya. Aku turut merasa senang mendengarnya jika itu permasalahannya. Tapi kalian juga harus ikut menemaniku pergi untuk mencarinya.”



“Ke mana kita akan pergi, Paman?” Terlihat bingung.



“Barang yang kau cari ada di Desa Runggal. Di sana ada teman lamaku yang memiliki barang yang kau cari. Letaknya lumayan jauh dari sini. Jaraknya memakan waktu sekitar lima atau enam hari perjalanan. Apakah kalian bersedia untuk pergi ke sana denganku?”



“Nyimas, bagaimana menurutmu?” tanya Jaka merasa senang. Ia lupa kalau Dewi Mayasari masih merasa sedikit kesal kepadanya.



“Terserah pada Kangmas saja.” Menjawab datar.



“Paman, kami akan ikut denganmu ke sana,” ucap Jaka.



“Baguslah kalau begitu,” sambut Paman Datuk. “kalau begitu, kita akan berangkat besok pagi,” tambahnya lagi.


__ADS_1


“Apakah Paman tak apa pergi dengan kami ke Desa Runggal. Bukankah Paman baru saja sampai di penginapan tadi siang?”



“Tidak apa. Lagi pula Gurumu itu teman baikku. Aku pasti akan bersedia untuk menolongnya.”



“Terima kasih, Paman. Kalau begitu, kami undur diri dulu,” ucap Jaka. Jaka lalu mengisyaratkan pandangannya pada Dewi Mayasari agar mengikutinya pamit.



Dewi Mayasari menangkap maksud dari pandangan Jaka kepadanya. “Paman, aku juga undur diri dulu. Terima kasih atas bantuan Paman,” ucapnya penuh kesopanan.



“Sudah, sudah. Tidak perlu merasa sungkan. Kalian beristirahatlah!” ucap Paman Datuk. “oh, Iya. Ngomong-ngomong, apa kau tahu ke mana perginya Kasim? Aku belum melihatnya sejak aku datang ke penginapan. Biasanya dia akan menyambutku begitu aku turun dari kuda.” Memandang ke arah Jaka, berharap Jaka tahu akan keberadaan orang yang dicarinya.



Jaka terdiam sejenak. “Nyimas, kembalilah ke kamar. Nanti aku akan menyusulmu.” Menatap Dewi Mayasari.



“Baik, Kangmas,” ucap Dewi berlalu meninggalkan Jaka dan Paman Datuk.




“Begitulah kira-kira yang terjadi pada Kasim, Paman. Ini buktinya kalau Paman tidak percaya.” Menunjukkan luka yang terbalut di tangannya.



“Aku sungguh tidak menyangka. Dia adalah orang yang baik, selalu mau dimintai tolong. Bahkan dia orang yang tidak banyak tingkah,” sesal Paman Datuk atas meninggalnya Kasim.



“Aku juga sempat bertanya, kenapa dia harus melakukan hal itu, tapi sepertinya dia merasa enggan untuk membicarakannya,” papar Jaka.



“Mungkin ada hal yang harus kita ketahui, ada pula hal yang semestinya kita tidak perlu tahu juga.”

__ADS_1



“Kalau begitu, aku undur diri dulu, Paman. Aku akan kembali ke kamar untuk menyusul Adikku,” pamit Jaka pada Paman Datuk seraya bangkit dari duduknya.



“Ya, ya. Segeralah beristirahat.”



“Baik, Paman. Aku permisi dulu.”



Di ruang kamar..



Dewi Mayasari sudah menunggu kedatangan Jaka semenjak dirinya tiba di kamar sambil bertolak pinggang.



“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jaka begitu masuk kamar mendapati Dewi Mayasari sedang bertolak pinggang.



“Kau berhutang sesuatu padaku. Kenapa aku harus terus berpura-pura menjadi Adikmu?” Mendekati Jaka yang baru saja sampai sambil mengepalkan tangannya.



“Apakah kau ingin sebuah pelukan?” Jaka mencoba menggoda Dewi Mayasari sembari merenggangkan kedua tangan.



Dewi Mayasari terkejut mendengar ucapan Jaka. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah.



“Si, siapa yang ingin dipeluk olehmu?” Marah dan memukul-mukul dada Jaka. Jaka menangkisnya dengan tangannya yang terluka dan mengaduh kesakitan. Dewi Mayasari berhenti memukul. Ia menjadi khawatir mengenai luka di tangan Jaka. “Apakah..”



“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau suka sekali memukuli dada orang? Bukankah sekarang ini aku adalah Kakakmu? Kenapa aku tidak boleh memeluk Adikku barang sekali saja?” Marah dan cemberut.

__ADS_1



“Siapa yang Kakakku? Sejak kapan aku pernah mengizinkanmu menjadi Kakakku?” Tiba-tiba menjadi kesal dan kembali memukul-mukul dada Jaka lebih keras. Jaka tidak lagi menahan dengan tangannya yang terluka. Ia hanya tertawa dalam hati melihat tingkah konyol Dewi Mayasari.


__ADS_2