Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Markas kelompok Kuda Hitam


__ADS_3

Markas kelompok Kuda Hitam. Di ruangan sempit nan gelap..


Ledonggowo menghampiri seorang gadis dengan tangan yang terikat dan mulutnya terbungkam serta pandangan matanya yang tertutup oleh kain. Gadis itu tidak lain adalah Laras, adik Jaka.


Ia membuka penutup mata dan mulutnya, tapi membiarkan ikatan di tangannya.


"Gadis manis! Apa kau berharap Kakakmu itu akan datang mencarimu kemari?"


Laras tak menyahut, ia memandang tajam ke arah Ledonggowo.


"Uh, rupanya burung kecil ini menyalak."


Laras masih membisu tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Merasa jemu. "Hah, ayolah! Apa tidak ada satu pun kata pujian untukku?"


"Kau orang jahat! Kanda pasti akan datang kemari dan menumpas orang sepertimu."


"Baik, kuanggap itu sebagai pujian darimu untukku."


Pandangan Laras semakin tajam menatap wajah Ledonggowo.


"Tapi, kau harus ingat satu hal. Kakakmu tidak akan menang kali ini. Setelah itu kau akan kujadikan ladang yang berharga untukku."


"Kanda pasti akan datang! Lihat saja! Kau pasti akan menyesal karena membawaku pergi!" Berteriak memaki Ledonggowo.


"Ya, ya, ya. Terserah kau mau mengatakan apa. Setelah aku mengalahkan Kakakmu, kita akan bersenang-senang. Kau tunggu saja." Tidak menghiraukan makian Laras.


Ledonggowo berjalan mengarah ke luar ruangan. "Kembalikan kondisinya seperti semula!" perintahnya pada penjaga yang berdiri di muka pintu ruangan tersebut.


"Baik, Tuan!"


Di tempat lain..


Setelah memasuki hari keempat mencari di mana keberadaan Laras. Jaka dan Nyi Dewi terus menyisir wilayah hutan yang mereka masuki.


Perjalanan keduanya hampir mencapai titik terang.


Berbekal informasi singkat dari Lembing Wuluh yang mengatakan posisi markas kelompok Kuda Hitam berada di sisi lain hutan itu. Jaka dan Nyi Dewi berusaha keras demi menemukan keberadaannya.


Di penghujung jalan sewaktu melintasi jalan tikungan, Jaka dan Nyi Dewi melihat ada sebuah bangunan. Jaka mempercepat laju kudanya mendekati bangunan itu.


Setelah sampai, keduanya memastikan bahwa bangunan tersebut adalah tempat yang mereka tuju.


"Apakah ini markas mereka, Kangmas?"


"Mungkin, sepertinya memang benar ini markas mereka."


Keduanya turun dari kuda dan mengintai area sekitarnya.


Empat orang penjaga berjaga di samping pintu gerbang. Gerbang itu sebagai pintu masuk menuju bagian dalam bangunan tersebut. Terdapat dua buah pintu masuk yang posisinya bersebelahan menyerupai bentuk gapura.


"Kangmas, apa ini benaran lokasi markas mereka?"


"Aku tidak yakin! Tapi, mari kita mencoba melihat dulu dari sini! Siapa tahu kita 'kan menemukan sesuatu sebagai petunjuk."


Keduanya mengintai di tempat yang agak jauh dari pintu masuk bangunan tersebut.


Kemudian, setelah beberapa saat, seorang wanita datang hendak memasuki gerbang tersebut.


"Kangmas, ada seseorang yang datang."


"Ya, sepertinya dia akan masuk ke dalam."


"Siapa kau? Apa keperluanmu?" Seorang penjaga menanyai wanita tersebut.


"Aku ingin bertemu dengan tuan kalian, Ledonggowo. Tolong, sampaikan padanya. Teman lamanya ingin bertemu!" pintanya sembari menunjukkan sesuatu.


Melihat apa yang ditunjukkan oleh wanita itu, seorang penjaga bergegas masuk guna menyampaikan permintaannya.


"Baik, tunggulah sebentar!"


Wanita itu pun menunggu. Tak berselang lama penjaga yang pergi telah kembali.


"Tuan kami telah menunggumu di dalam," ucap penjaga tersebut. "kau bisa masuk sekarang," tambahnya.

__ADS_1


Wanita itu akhirnya memasuki bangunan tersebut meski dengan wajah yang sedikit kesal.


"Kangmas, setelah melihat percakapan mereka, bisa dipastikan ini memang benar markas yang tengah kita cari. Apakah kita akan menerobos ke dalam?"


"Ya. Kita tak perlu buang waktu lagi. Mari, Nyimas!"


Keduanya menerobos memasuki gerbang depan yang dijaga oleh beberapa penjaga.


“Siapa kalian ini? Apa yang ingin kalian lakukan di sini?” tanya seorang penjaga tiba-tiba menahan langkah Jaka dan Nyi Dewi.


“Aku mencari Ledonggowo. Cepat, panggil dia kemari!”


“Tuan sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun saat ini. Lebih baik kalian cepat-cepat pergi dari sini.” sahut penjaga lain dengan tanggapan yang tidak bersahabat. Melambai-lambaikan tangannya seperti mengusir pergi.


"Kalian tidak diizinkan masuk!" timpal yang lain.


Seorang penjaga lain menarik tangan Nyi Dewi hendak mengusirnya. Jaka menarik Nyi Dewi ke depan dan dengan sekejap ia melumpuhkan para penjaga yang berjaga di pintu gerbang.


“Kalau begitu izinkan aku untuk memaksa masuk,” ucap Jaka berlalu meninggalkan para penjaga yang sudah tidak berdaya.


Jaka bergegas menuju pintu masuk utama diikuti oleh Nyi Dewi. Ia berteriak keras memanggil-manggil Ledonggowo agar keluar menemuinya.


“Ledonggowo! Ledonggowo! Keluar kau!”


Beberapa penjaga yang mengetahui Jaka dan Nyi Dewi berhasil masuk ke markas mereka segera menyerbu ke arah Jaka dan Nyi Dewi.


Di dalam bangunan..


"Ledonggowo!"


"Hoh, ternyata Ambarwati toh! Angin apa yang membawamu datang kemari?"


"Ada sedikit masalah penting yang perlu kubahas denganmu."


"Apa itu?"


"Selain itu, kenapa aku harus melakukan pemeriksaan sebelum aku masuk kemari? Apa kau tidak mempercayai aku berada di pihakmu?"


"Oh, baiklah. Maafkanlah para penjaga itu. Mereka hanya menjalankan tugas mereka. Aku akan mengingatkan mereka jika kau akan kemari lagi."


"Masalah apa yang ingin kau bahas itu?"


"ini tentang.."


Belum tuntas bicara, tiba-tiba seseorang menerobos memasuki ruangan. "Tuan, Tuan.."


"Apa kau tidak mau hidup lagi? Siapa yang menyuruhmu untuk masuk kemari, hah!?" Ledonggowo terlihat marah.


"Ledonggowo, kau akan terlihat tua jika kau terlalu sering marah-marah."


"Aku tidak butuh nasihatmu! Aku mampu mendisiplinkan mereka dengan caraku."


Sri Ambarwati tak membalas ucapannya.


"Aku akan berbaik hati mendengarkan apa alasanmu. Jika aku tidak menerima alasan itu, kau akan mati sekarang juga."


"Maafkan kelancangan saya, Tuan." Tiba-tiba gemetaran. "Ta, tapi di luar ada dua orang yang mencari-cari tuan." Menunduk takut.


"Katakan, siapa yang berani mencariku?"


"Mereka seorang pria dan wanita, Tuan."


"Pria? Wanita? Siapa mereka? Ada urusan apa mencariku?" batin Ledonggowo.


Tiba-tiba Ledonggowo teringat seseorang. "Mungkinkah..?" gumam Ledonggowo


"Apa yang kau pikirkan di kepalamu itu?"


"Ambarwati, kita tunda dulu masalahmu sebentar. Kau ikutilah aku menemui dua orang yang mencariku. Sepertinya akan ada hal yang menarik."


Sri Ambarwati keheranan dengan ucapan Ledonggowo. Ia terpaksa pergi mengikuti langkah Ledonggowo.


Ledonggowo melirik seseorang yang tadi menerobos ruangannya sambil berjalan ke luar ruangan.


"Kau beruntung! Hari ini kau kubiarkan hidup! Jika lain kali aku melihatmu seperti itu lagi. Kau akan mati saat itu juga. Ingat itu!"

__ADS_1


"Baik, Tuan! Saya pastikan mengingatnya! Terima kasih Tuan telah membiarkan saya hidup. Terima kasih, Tuan."


"Jaga gadis itu! Jangan biarkan siapa pun mendekatinya!"


"Baik, Tuan!"


"Ledonggowo, apakah kau tidak terlalu kejam pada bawahanmu?" komentar Sri Ambarwati.


"Sudahlah! Jangan bahas masalah itu. Saat ini ada hal menarik yang telah menunggu kita."


"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"


"Lihat saja. Inilah hasil yang kujanjikan padamu."


Sri Ambarwati semakin penasaran dengan ucapan Ledonggowo.


Setelah sampai di muka pintu masuk..


Ledonggowo dan Sri Ambarwati melihat Jaka Umbara dan Nyi Dewi yang bertarung dengan anak buah kelompok Kuda Hitam.


"Inikah hasil yang ingin kau perlihatkan padaku?"


"Ya. Dialah pemicu dendam pribadiku!"


"Diakah Jaka Umbara yang kau sebutkan?"


"Ya. Meski aku tidak ingin mengakuinya. Tapi dia cukup hebat juga."


Ledonggowo berjalan hingga keluar pintu masuk diikuti Sri Ambarwati.


“Wah, wah, wah. lihatlah! Siapa yang tiba-tiba datang kemari?!”


Ledonggowo begitu antusias menyambut kedatangan Jaka Umbara. Ia pun tertawa puas dan kegirangan karena rencananya memancing Jaka Umbara berbuah manis.


“Tamu tidak diundang sepertinya, Tuan,” sahut penjaga yang berdiri di pintu depan.


"Haha! Bahkan seorang penjaga pun bisa mengatakan hal seperti itu."


Anak buahnya menyingkir jauh dari Jaka Umbara dan Nyi Dewi.


“Apa kalian sudah siap mati? Beraninya kalian datang ke tempat ini!” Memandang remeh.


“Ledonggowo! Di mana kau sembunyikan Adikku, hah!?”


“Adikmu? Hahaha! Mana kutahu Adikmu ada di mana? Kalaupun dia ada padaku, kau pikir aku akan sudi menyerahkannya begitu saja kepadamu. Jangan mimpi!” Ledonggowo berucap dengan entengnya.


“Aku yakin kau pasti dalang dibalik semua ini,” tuduh Jaka pada Ledonggowo.


“Apa kau punya buktinya kalau aku telah menculik Adikmu?”


Jaka terdiam tak mampu berkata-kata.


“Aku tahu kau menyembunyikan Adikku dalam ruangan itu. Cepat, lepaskan dia!”


“Ah, sepertinya sudah ketahuan,” celoteh Ledonggowo bersikap seolah-olah dirinya kelepasan berbicara.


"Sudah kuduga, dia pasti terlibat," ucap Jaka dalam hati.


“Ahaha! sepertinya aku akan bersenang-senang bersama Adikmu malam nanti. Kau lihat saja! Apa yang akan kulakukan dengannya setelah aku mengalahkanmu?” Ledonggowo mencoba menyulut amarah Jaka, dan sepertinya berhasil.


Amarah Jaka terpancing saat mendengar kata-kata Ledonggowo.


“Lepaskan Adikku! Kalau tidak ...” sahut Jaka geram.


“Kangmas, jangan terpancing emosi.” Nyi Dewi mencoba menenangkan Jaka.


“Kau benar, Nyimas, aku tidak seharusnya terbawa emosi.” Jaka berusaha meredam emosinya.


“Ledonggowo! Cepat katakan di mana kau sembunyikan Adikku? Kalau tidak..”


Buru-buru memotong ucapan Jaka. “Apa yang hendak kau lakukan? Apa kau akan mengamuk? Ataukah ... kau akan memelas belas kasihanku supaya aku melepaskan Adik tercintamu itu?”


“Aku takkan sudi memelas belas kasihan di hadapan bajingan sepertimu!”


Ledonggowo mulai naik pitam. “Bangsat! Nyalimu besar juga rupanya. Kalau begitu akan kubuat kau menyesali kata-katamu itu.”

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu, akan kuladeni kau sekarang juga.”


__ADS_2