Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Kembali melanjutkan perjalanan


__ADS_3

"Ah.." Menyeka air mata. "tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya terharu dan teringat akan Tuan saja. Aku seperti melihat sosok Tuan dalam diri Raden."


"Begitukah?! Bisakah Bibi memberitahuku bagaimana sosok Ayahanda lebih dalam?"


"Tentu. Dengan senang hati, Raden." ucap Lasmi senang.


Lasmi menceritakan segala yang ia ingat dan belum pernah diceritakannya kepada Jaka.


Sesekali tawa ria terlukis di wajah mereka. Jaka sesekali berlinang air mata ketika ia mendengarkan perjalanan hidup Ayahnya. Terkadang pula ia tertawa terkekeh-kekeh saat mendengar tingkah konyol ayahnya.


"Itulah semua hal yang kuketahui tentang Tuan, Ayahanda Raden," papar Lasmi.


"Tidak kusangka hidup Ayahanda begitu berat. Lalu, bagaimana dengan Ibunda?"


"Ibunda Raden.. ah, maksudku, Puteri Sri Ratih, adalah pribadi yang suka menolong tanpa memikirkan status sosialnya, sama seperti Raden. Mungkin saja sifat Raden merupakan bagian yang ditinggalkannya untuk Raden. Selain itu, sikap Raden yang tidak ingin disandangkan oleh kedudukan Raden, persis sekali dengan pribadi Tuan."


Jaka terlihat malu-malu kala mendengar hal yang berkaitan dengan kedua orang tuanya terukir dalam kepribadiannya.


Tawa ria disertai air mata yang menetes membuat suasana malam itu terasa begitu syahdu.


Malam itu seolah menjadi malam yang tak terlupakan bagi mereka. Laksana suasana indah sebuah keluarga kecil yang hangat.


...###...


Siang hari di keesokan harinya..


Jaka tengah bersiap hendak melanjutkan perjalanannya yang tertunda.


Semua hal yang dibutuhkannya telah siap sedia. Kemudian ia bergegas menghadap Suwira dan Lasmi.


Jaka meminta izin supaya Lembing Wuluh ikut pergi menemaninya. Suwira maupun Lasmi sama-sama memberikan izinnya.


"Paman, Bibi.. aku akan berangkat menuju istana kerajaan. Terima kasih Paman dan juga Bibi telah merawatku," pamit Jaka di hadapan Suwira dan Lasmi.


"Raden, berhati-hatilah di perjalanan."


"Tolong sampaikanlah hormat kami untuk Baginda Raja." Suwira dan Lasmi sama-sama menundukkan kepala menghaturkan permohonannya.


Jaka mengangguk pelan. "Baik, nanti akan kusampaikan pada Kakek."


"Wuluh, kau harus melayani Raden Jaka dengan segenap jiwa dan ragamu," pesan Suwira yang tak lain adalah ayahnya.


"Aku pasti akan mengingat pesan Ayah," sahut Lembing Wuluh mantap. Suwira tak meragukan sedikit pun ucapan putranya itu. Ia tahu betul bagaimana pribadinya. Dan tanpa berat hati ia melepas kepergian putranya menemani Jaka Umbara menuju istana kerajaan.


Keduanya segera berangkat, pergi menuju istana kerajaan untuk menemui Baginda Raja yang merupakan kakek Jaka Umbara.


...###...

__ADS_1


Perjalanan yang mereka tempuh dari Desa Runggal sampai istana kerajaan memakan waktu sekitar dua hari satu malam, karena saat itu, Jaka Umbara dan Lembing Wuluh berangkat pergi memulai perjalanannya di saat hari masih terang.


Saat di perjalanan..


"Jaka berapa lama lagi kita akan sampai di istana kerajaan?"


"Mm, Untuk bisa sampai di sana dari Desa Runggal, setidaknya membutuhkan waktu dua hari satu malam. Kita akan melewati tempat dimana kita bertemu sewaktu kau tengah dikejar-kejar oleh seseorang."


"Apakah itu jalan yang biasa kau lalui?"


"Ya, biasanya aku melewati jalan setapak itu. Menurutku jalan itulah yang tercepat untuk sampai di istana kerajaan saat aku berangkat dari padepokan. Jalan setapak itu akan berakhir hingga Desa Kadipaten sebelum akhirnya sampai di sekitar istana kerajaan. Setidaknya besok sore kita akan sampai di tujuan."


Jaka tiba-tiba berhenti sejenak. Sesaat ia memikirkan sesuatu yang datang tiba-tiba sehingga membuat hatinya sedikit cemas karenanya.


"Ada apa?"


"Aku merasakan firasat yang buruk tengah mendekat. Tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu di padepokan," resah Jaka. Ia terlihat gusar dan merasa tidak tenang.


"Mungkin kau hanya merindukan mereka saja," hibur Lembing Wuluh agar Jaka tak terus menerus memikirkan firasatnya itu.


"Ya, mungkin akulah yang berpikir terlalu jauh. Padahal baru beberapa hari lalu aku berpisah dengan mereka."


"Sepertinya mereka memiliki tempat yang istimewa di hatimu hingga kau begitu tak tenang hanya dengan sebuah firasat saja."


Jaka tersenyum simpul. "Mari, lanjutkan perjalanan kita." Lantas menarik kendali kudanya. "Hyaaatt.."


...###...


Sementara itu, Arya Dhanu yang dibawa pergi oleh seseorang mulai tersadar.


Ia dibawa oleh ayahnya yang merasakan bahaya tengah mengancam putranya.


Ayahnya bernama Arya Wangsa, termasuk golongan beraliran hitam. Kedudukannya tidak diketahui karena tidak banyak yang berinteraksi dengannya dari golongannya.


“Kau sudah bangun?"


“Ayah? Kenapa aku terbaring di sini? Apa ada sesuatu yang telah terjadi padaku?”


“Bodoh! Apa kau cari mati? Jurus ajianmu itu belumlah sepenuhnya kau kuasai. Lagi pula, kau juga baru saja pulih setelah kau mengalami luka dalam. Kenapa kau tidak memperhatikan kondisimu?”


Arya Dhanu tersentak. Ia teringat sesuatu yang telah dilakukannya.


“Maafkan aku, Ayah! Aku sungguh sangat ceroboh!” sesal Arya Dhanu.


“Sudahlah!" Menghela napas. "setidaknya kau beruntung masih hidup. Bagaimana jika aku tidak sempat datang waktu itu? Hargailah hidupmu! Jangan kau sia-siakan nyawamu begitu saja!”


“Baik, Ayah. Maafkan kebodohanku!”

__ADS_1


“Ya sudah. Kalau begitu, beristirahatlah! Aku ada urusan yang perlu kuurus. Aku akan segera kembali. Kau jangan pergi ke mana pun sebelum aku kembali!"


"Baik, Ayah."


...###...


Setelah melewati satu hari satu malam, Jaka dan Lembing Wuluh akhirnya tiba di istana kerajaan Suryalaya.


"Raden.."


Para penjaga menyambut kedatangannya. Memberikan penghormatan seperti halnya yang mereka lakukan di hadapan Baginda Raja.


Jaka turun dari kudanya. Lembing Wuluh mengikuti langkah Jaka. Setelah mengikat kendali kuda, keduanya berjalan masuk ke dalam melewati pendopo dan melintasi beberapa bunga-bunga dengan semerbak harumnya. Jaka pun teringat saat dirinya dan Dewi Mayasari datang ke istana untuk pertama kalinya. Menciumi semerbaknya bunga-bunga tersebut seakan mengenang waktu itu.


Saat hampir mendekati aula, Jaka bertemu dengan Penasihat Kerajaan, Patih Laya.


"Raden.." Menyapa Jaka. Tertunduk penuh penghormatan.


"Paman Laya, apa saat ini Kakek berada di dalam istana?"


"Benar, Raden. Saat ini Paduka berada di ruangannya."


"Bisakah Paman Laya mengantarku untuk menemui Kakek? Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan Kakek."


"Baik, Raden. Mari, Hamba antar Raden menemui Paduka Raja!"


Jaka dan Lembing Wuluh pun mengikuti langkah Patih Laya menuju tempat yang dimaksud.


Setelah sampai di tempat yang dimaksud. Patih Laya mengetuk pintu dan membuka pintu perlahan sembari menundukkan wajahnya.


"Siapa?" Terdengar suara yang tidak asing di telinga Jaka.


"Hamba, Paduka, Patih Laya." Patih Laya membalas dengan wajah masih tertunduk.


"Ada apa? Masuklah!"


Patih Laya perlahan masuk ke dalam guna memberitahukan kedatangan Jaka kepada Baginda Raja. Tak berselang lama, Patih Laya keluar bersama dengan Baginda Raja.


"Kakek, aku datang mengunjungi Kakek. Terimalah hormatku! Semoga Kakek tetap sehat dan panjang umur!"


"Bangunlah!" titah Baginda Raja.


Baginda Raja pun menyambut kedatangan Jaka Umbara dengan pelukan hangatnya.


"Paduka, Raden, Hamba izin pamit undur diri. Ada beberapa hal penting yang perlu Hamba kerjakan."


"Baiklah, kau boleh pergi."

__ADS_1


Patih Laya menunduk sebentar, kemudian melangkah mundur meninggalkan mereka.


__ADS_2