Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Ledonggowo berulah 3


__ADS_3

Ledonggowo berancang-ancang. Nyi Dewi dan Nyi Pucung juga sudah siap sedia.


Pertarungan sengit antara Ledonggowo melawan Nyi Dewi serta Nyi Pucung kembali pecah. Entah siapa yang memulai serangannya terlebih dahulu. Ketiganya mulai beradu serangan serta kekuatan masing-masing.


Nyi Dewi mendominasi pertarungan, apalagi Nyi Pucung berdiri di sisinya sehingga bisa membuat Ledonggowo cukup kewalahan.


Ledonggowo berusaha tetap bertahan meski tahu dirinya sudah hampir mencapai batasnya. Ia terus berpikir keras untuk bisa meloloskan dirinya dari pertarungan.


Nyi Dewi pun hampir mencapai batasnya, hanya saja ia masih beruntung ada Nyi Pucung disisinya.


Nyi Dewi dan Nyi Pucung tiba-tiba terpisah. Hal ini tidak disia-siakan oleh Ledonggowo. Akhirnya ia memiliki kesempatan untuk bisa meloloskan diri dari pertarungan, ucapnya dalam hati.


Ledonggowo memberikan serangan bertubi-tubi ke arah Nyi Dewi dan juga Nyi Pucung. Nyi Pucung mampu menangkis setiap serangan Ledonggowo yang datang dengan ajian Selendang Sutra-nya.


Blarr! Blarr! serangan yang berbenturan membuat suara ledakan yang begitu keras.


Namun Nyi Dewi luput dari serangan itu. Meskipun beberapa kali berhasil menghindari serangan dari Ledonggowo, ia akhirnya terhempas jatuh ketika berupaya menangkis jurus ajian dari Ledonggowo hingga beberapa meter. Bahkan hingga Nyi Dewi mengeluarkan darah di mulutnya akibat serangan Ledonggowo yang membuat tenaga dalamnya ter- kuras. Begitupun dengan Ledonggowo, ia merasa tenaga dalamnya sudah hampir habis.


Demi melihat hal itu, Ledonggowo langsung pergi melarikan diri. Ia kemudian terbang secepat kilat meninggalkan padepokan Jaka dan anak buahnya yang sudah tak bernyawa. Seluruh anak buahnya ikut menghilang bersamaan dengan kepergiannya.


Nyi Dewi yang hendak bangkit dan berusaha untuk mengejar Ledonggowo pun segera dicegah oleh Nyi Pucung.


"Sudahlah Nyi, tak usah kau kejar lagi. Biarkan dia pergi. Aku yakin setelah ini dia takkan berani lagi mengacau di padepokan kita," cegah Nyi Pucung saat melihat Nyi Dewi hendak mencoba mengejar Ledonggowo.


Nyi Dewi pun akhirnya membiarkan Ledonggowo kabur dengan kondisi hampir tumbang mencapai ambang batasnya.


"Apakah kau baik-baik saja, Nyi?" tanya Ki Pucung mendekati Istrinya.


"Aku tidak apa-apa, Kakang. Tetapi sepertinya Nyi Dewi terluka cukup parah. Mari, kita tolong!"


Laras memburu Nyi Dewi dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan dan ketakutannya. Nyi Dewi berjalan dengan tubuh lemah. Terlihat sisa darah yang mengalir di bibirnya karena terhempas saat menangkis serangan Ledonggowo. Laras merasa begitu takut melihat akan kondisi Mbakyu-nya itu.


"Mbakyu.. Mbakyu.." seru Laras hampir menangis tersedu. Kepanikannya tergambar jelas di wajah ayunya saat itu. Rasa takutnya bahkan membuat bibirnya bergetar ketika ia memanggil Nyi Dewi. "Mbakyu.."


Ia berdiri mematung dihadapan Nyi Dewi. Derai air matanya hampir tak terbendung jika saja Nyi Dewi tidak menenangkannya saat itu.


"Mbakyu tidak apa-apa! Hanya sedikit lelah saja." Berusaha menenangkan Laras agar tidak khawatir. Laras lantas memeluk Nyi Dewi dengan amat erat, seakan itu adalah pelukan terakhirnya yang bisa ia lakukan.


Nyi Dewi berjalan lunglai dipapah Laras menuju ke arah beranda padepokan. Tiba-tiba saja Nyi Dewi kehilangan kesadarannya saat dipapah oleh Laras.


"Mbakyu! Mbakyu!.." Terisak keras. "Paman, Bibi! Mbakyu.. Ada apa dengan Mbakyu.." Laras cepat- cepat memanggil Ki Pucung dan Nyi Pucung agar mendekat dengan nada cemas. Ki Pucung dan Nyi Pucung bersegera mendekati.

__ADS_1


Mereka kemudian membantu Laras membopong tubuh Nyi Dewi yang tidak sadarkan diri ke dalam padepokan.


Laras masih terisak mengkhawatirkan keadaan Nyi Dewi. Nyi Pucung menenangkannya di sisinya. Sementara Ki Pucung dengan sigap memeriksa kondisi Nyi Dewi.


"Paman, bagaimana keadaan Mbakyu?" Memburu Ki Pucung begitu selesai memeriksa keadaan Nyi Dewi.


"Tidak apa-apa. Syukurlah tidak terjadi hal apapun padanya," ucap Ki Pucung merasa lega. "setelah ia beristirahat beberapa hari, keadaannya pasti akan segera membaik."


Laras memandang Nyi Dewi yang terbaring lemah. Merasa sedikit tenang karena tidak terjadi apapun seperti yang ia takutkan.


"Kakang, bisakah kita berbicara diluar," pinta Nyi Pucung memberikan isyarat agar Ki Pucung cepat mengikutinya. "Laras, kau temanilah Mbakyu-mu sebentar. Kami akan berbicara sebentar."


Laras mengangguk pelan, kemudian duduk disisi Nyi Dewi.


"Kakang, apakah kau melihat kejanggalan ketika Ledonggowo kabur setelah ia melawanku dan Nyi Dewi?" tanya Nyi Pucung sembari berjalan ke luar padepokan kemudian duduk di beranda.


"Ya, aku ada merasakan sesuatu yang tidak biasa. Sepertinya Ledonggowo membawa bala bantuan dengan meminta tolong kepada bangsa siluman." Mengikuti duduk.


"Aku juga berpikir demikian, Kakang. Hanya saja.."


"Hanya saja apa, Nyi?" Mengerutkan dahi. Merasa penasaran dengan maksud ucapan Nyi Pucung.


"Apa kau sempat melihat jurus ajian Ledonggowo? Bukankah ajian itu sedikit tidak asing, Kakang?"


"Benar, Kakang. Selain itu juga Ledonggowo tadi mengatakan bahwa gurunya itu mengetahui ajian Selendang Sutra-ku. Apakah mungkin dia.."


Nyi Pucung dan Ki Pucung saling pandang. Seolah mencapai satu titik temu, mereka segera kembali ke dalam padepokan.


...###...


Pagi hari di keesokan harinya..


Jaka sampai di padepokan setelah ia menempuh perjalanan dari istana kerajaan.


Jaka menyadari adanya sesuatu yang tidak beres yang menurutnya telah terjadi di padepokan.


Tanpa mengikat kendali kudanya, Jaka pun segera turun kemudian memasuki padepokan.


Dilihatnya Ki Pucung dan Nyi Pucung berada di kamar Nyi Dewi. Ia juga melihat Nyi Dewi terbaring dengan Laras yang tertidur disampingnya.


"Paman, Bibi.." Berusaha mengatur napas.

__ADS_1


Ki Pucung dan Nyi Pucung yang melihat kehadiran Jaka segera menghampirinya.


"Apa yang telah terjadi? Ada apa dengan Nyimas?"


"Nyi Dewi terkena ajian Seribu Gledekan ketika ia bertarung menghadapi Ledonggowo," terang Nyi Pucung. "syukurlah tidak ada luka serius apapun yang terjadi padanya," pungkasnya.


Ki Pucung lalu menceritakan kejadian yang terjadi di padepokan kepada Jaka. Mendengar penuturan Ki Pucung tersebut, Jaka menjadi geram seketika.


"Apakah Ledonggowo datang ke padepokan kita?"


"Betul, Raden. Dia datang mencari Raden. Namun, karena ia tidak menemukan Raden, pada akhirnya ia mengacau di padepokan dan hendak membawa paksa Laras. Beruntunglah kami masih sanggup menghadapinya, sehingga Laras baik-baik saja."


"Beraninya dia.."


Jaka terlihat marah dan ia hampir melampiaskan kemarahannya itu. Ki Pucung tahu betul apa yang hendak Jaka lakukan.


"Raden, jangan terbawa emosi sesaat," Ki Pucung mencoba menahan langkah Jaka. "Dinginkanlah kepala Raden. Ini pastilah apa yang diinginkan oleh Ledonggowo agar Raden mendatanginya. Nyi Dewi juga pasti tidak ingin melihat Raden terbawa oleh kemarahan Raden," ucap Ki Pucung berusaha menenangkan Jaka agar tidak bertindak gegabah.


Jaka menyadari hal yang hendak dilakukannya. Ia sungguh bodoh jika sampai termakan oleh trik licik Ledonggowo, batinnya.


Sembari mendinginkan pikirannya yang dipenuhi kemarahan, Jaka berusaha membuat dirinya agar tetap tenang. Memandang ke arah Nyi Dewi yang terbaring. Memikirkan dalam benaknya bahwa apa yang diucapkan Ki Pucung ada benarnya.


"Paman, apakah Laras sudah lama tertidur dengan menunggui Nyimas?"


"Ya. Dia hampir saja terisak hebat saat melihat Nyi Dewi tiba-tiba tidak sadarkan diri dihadapannya. Bahkan Laras belum makan apa-apa sejak malam. Dia hanya berkata ingin terus menunggui Nyi Dewi terbangun di sampingnya, sehingga tanpa sadar ia akhirnya tertidur."


Jaka mengangguk. Ia tahu betul bagaimana rasa sayang Laras kepada Mbakyu-nya itu. Jadi wajar baginya jika Laras menunjukkan perasaan yang berlebihan.


...###...


Note;


Kepada para pembaca yang budiman..


Kami mohon maaf..


Dikarenakan adanya beberapa kesibukan penulis sehingga Novel "Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin" tertunda update selama satu tahun lebih.


Terima kasih banyak atas dukungan dan apresiasi yang begitu besar dari para pembaca sekalian.


Kami akan kembali meng-update episode-episode terbaru setiap hari Selasa.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2