
Keesokan harinya, Jaka dan Dewi Mayasari berangkat menuju Desa Kadipaten, tempat dimana ibu angkat Jaka dikuburkan.
Keduanya segera sampai, karena jarak yang ditempuh hanya memakan waktu setengah hari dari tempat padepokan berada.
Sebuah pusara dengan nisan papan kecil polos terpampang di hadapan Jaka. Pusara itu terlihat tak terawat dengan baik. Tanahnya terlihat tak terbentuk, papan nisan yang sedikit hancur termakan waktu, serta keadaan sekitar yang tak begitu diperhatikan.
Jaka terduduk di depan pusara ibu angkatnya. Memandangi papan nisan yang tak lagi utuh, memandanginya dengan lekat seolah sedang memandang seseorang yang dirindukannya.
"Ibu.. aku datang berkunjung. Bagaimana kabar Ibu? Apakah Ibu baik-baik saja di sana?" Tiba-tiba rasa sesak menyelimuti dadanya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, semakin penuh dan hampir tumpah.
"Lihatlah, Bu! aku sudah tumbuh besar. Aku sudah bisa hidup mandiri meskipun Ibu tak di sisiku lagi" Mulai terisak. Air matanya yang menggenang kini perlahan tumpah dan mengalir pelan di pipinya.
"Aku kini sudah mempunyai tempat kembali. Aku sudah mengikuti semua nasihat Ibu. Aku, aku.." Mencoba menahan diri agar tidak terisak.
"Aku rindu pada Ibu.." Mengelus papan nisan. "aku ... aku ingin makan makanan kesukaanku yang selalu Ibu masak untukku. Bu, meski aku bukanlah putra Ibu, aku sudah anggap Ibu sebagai keluargaku, sebagai Ibuku. Apa Ibu juga merindukanku di sana? Bisakah aku bertemu Ibu walaupun dalam mimpi saja?"
Jaka kian hanyut dalam kesedihannya. Ia kembali mengingat bayang ingatannya saat Ibu angkatnya hidup dulu menemani hari-harinya. Bahkan, hingga sampai detik terakhir kalinya ia bisa menemani Ibu Angkatnya hidup.
__ADS_1
Di saat yang sama..
Dewi Mayasari terlihat berdiri di samping kuda yang ditunggangi oleh Jaka dan dirinya saat berangkat menuju Desa Kadipaten.
Ia terlihat gusar menunggu Jaka. Ia tidak berkenan saat Jaka mengajaknya ke tempat pusara ibu angkatnya berada.
"Apa yang membuatnya begitu lama? Kenapa ia belum juga kembali?"
Dewi Mayasari hendak melangkahkan kakinya menghampiri keberadaan Jaka.
Tiba-tiba dari balik pohon beberapa orang muncul dan menghentikan langkahnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Kami hanya butuh kau untuk ikut dengan kami. Kalau kau tidak memberontak dan mengikuti kami, kami jamin kau tidak akan terluka. Tapi kalau kau melawan, maka tak ada jaminan dirimu takkan terluka sedikit pun," ucap seseorang dihadapannya.
"Tidak! Aku tidak mau! Lagipula aku tidak mengenal kalian. Untuk apa aku ikut dengan kalian?"
"Kalau begitu, kami yang memaksamu untuk ikut," ucap seseorang yang lain. Ia bergerak menghampiri Dewi Mayasari.
__ADS_1
Dewi Mayasari menjadi sedikit waspada. "Apa yang ingin kalian lakukan?" teriaknya. Ia segera bersiap dengan segala kemungkinan yang akan dihadapinya. "Mimpi saja jika aku menuruti kemauan kalian. Jika kalian ingin terluka, hadapi aku!" ancam Dewi Mayasari memberanikan diri.
Pertarungan akhirnya terjadi. Dewi Mayasari mencoba menghadapi beberapa orang yang ingin membawanya pergi. Ia mengeluarkan beberapa ajian yang telah dipelajarinya.
Serangan-serangan yang datang kepadanya masih sanggup ditangkisnya. Namun, beberapa serangan yang lain hampir-hampir membuatnya terdesak.
Di tempat lain..
Jaka yang tengah terhanyut dalam kesedihan mendengar suara pertarungan yang begitu jelas.
"Siapa yang tengah bertarung?" gumamnya seraya bangkit.
Ia lalu teringat akan Dewi Mayasari yang menunggu di samping kuda. "Mungkinkah? Dewi.."
Jaka bergegas mendekati arah asal suara pertarungan yang di dengarnya.
Sebelum ia sampai, tiba-tiba suara teriakan yang begitu jelas terdengar di telinganya. Seperti suara teriakan Dewi Mayasari.
__ADS_1
"Dewi!"