
Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa Laras sudah tinggal bersama Jaka selama lebih dari satu tahun.
Kala itu mereka tengah berada di beranda depan padepokan.
Suara-suara bising binatang malam turut menghadiri keberadaan mereka.
Di depan mereka jamuan berupa beberapa buah-buahan dan minuman terhidang.
Bintang-bintang di langit ikut menerangi suasana malam meski tanpa disinari oleh cahaya rembulan.
“Laras, sudah berapa tahunkah usiamu sekarang ini?”
“Lima belas tahun. Mengapa memangnya, Kanda?”
“Kau sudah tumbuh besar rupanya.” Jaka terlihat manggut-manggut, seolah ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.
“Beberapa bulan terakhir ini kau sudah mulai terlihat begitu hidup. Amat berbeda dengan kondisimu saat pertama kali kau datang ke padepokan ini.”
“Ini semua berkat Kanda. Dinda bersyukur Kanda sudah mau menjaga Dinda meski Dinda bukanlah Adik kandung Kanda. Terima kasih, Kanda,” ucapnya terharu.
Hampir saja matanya mulai berkaca-kaca, namun Laras segera menyamarkannya. Ia segera menyandarkan dirinya pada Jaka, seolah-olah menunjukkan rasa sayangnya dan terima kasihnya karena menjaganya dengan baik selama ini.
“Kau tidak usah merasa sungkan begitu. Aku sudah berjanji pada Ayahmu untuk menjagamu, tentu saja aku pasti akan menepatinya."
"Kalau mau pun, aku pasti akan pergi dan meninggalkanmu waktu itu. Tetapi, aku pikir kau pasti membutuhkan seseorang yang bisa memberikanmu pegangan untuk bersandar."
"Lagi pula kau sudah aku anggap seperti Adikku sendiri. Tentu saja aku juga akan menjaga dan merawatmu.”
Laras memanja. Mengusap-usapkan jari telunjuknya pada lengan Jaka. “Kanda..”
“Hmm?!”
“Apakah Dinda boleh duduk di pangkuan Kanda?” Bertanya dengan malu-malu.
“Tentu saja! Kemarilah!”
Laras tersenyum. Ia terlihat amat senang mendengar ucapan Jaka. Lantas bersegera duduk di pangkuannya begitu tahu Jaka memperbolehkannya. Ia merasa seakan-akan ia memiliki seseorang yang sayang kepadanya melebihi dirinya sendiri. Jaka membelai rambut Laras dengan lembut.
“Apa yang membuatmu begitu senang?” tanya Jaka heran melihat tingkah Laras yang terus tersenyum.
Laras menggeleng pelan. Merasa sungkan untuk memberitahukan perasaannya saat itu kepada Jaka.
“Baiklah, kalau kau memang tidak ingin memberitahukannya padaku. Aku tidak akan memaksamu.” Masih mengelus-elus rambut Laras dengan satu tangan lainnya mendekap tubuh Laras.
Laras tersipu malu. Ia membiarkan Jaka mengelus rambutnya lebih lama.
“Kanda, apakah Dinda boleh menanyakan sesuatu?” ucap Laras tiba-tiba.
“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?”
__ADS_1
“Kenapa dulu Kanda menolong Dinda saat kelompok Kuda Hitam menyerang Dinda dan Ayahanda?”
“Hmm, kenapa, ya?”
Jaka menghela napas panjang, mencoba menerawang kejadian yang dulu pernah ia alami saat pertama kali bertemu dengan Laras.
“Dulu, ada seorang anak yang malang, ia sering diolok-olok oleh beberapa orang yang merasa dirinya lebih baik darinya hanya karena ia tidak memiliki keluarga.” Ucapan Jaka terhenti beberapa saat.
Pandangannya menerawang ke arah langit seakan ia sedang mengenang seseorang. Laras hanya bisa tertegun heran melihat tingkah laku Jaka. Lalu Jaka melanjutkan ucapannya.
“Suatu waktu, anak itu bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek tua itu pernah berkata kepadanya, “Di dunia ini derajat manusia tidak ada yang berbeda, ucapnya. Semua sama. Baik itu bangsawan maupun rakyat biasa, semua memiliki derajat dan kedudukan yang sama”. Kata-katanya itu selalu tertanam di dalam hati anak kecil itu hingga sekarang” Ucapan Jaka kembali terhenti. Ia tak meneruskan ucapannya.
“Lalu, apa yang terjadi pada anak kecil itu sekarang?” Laras bertanya karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
“Apakah kau ingin tahu bagaimana kisah akhirnya?”
“Ya. Dinda ingin tahu! Bagaimana dengan kisah akhirnya, Kanda?”
“Baiklah, akan kuberitahu kau bagaimana kisah akhirnya.”
Jaka kembali melanjutkan ucapannya yang terhenti.
“Ada satu waktu dimana ia merasa sangat putus asa dan penuh dengan ketakutan. Anak itu bahkan tidak mempunyai siapa-siapa untuk dijadikan sebagai tempat ia bersandar."
"Anak kecil itu hampir saja menyerahkan hidupnya pada langit. Jika saja kakek tua itu tak datang dan menolongnya, tentu saja ia akan lebih terpuruk lagi. Bahkan mungkin anak itu tidak akan mempunyai gairah hidup lagi seperti yang kau alami dulu karena tidak ada seorang pun yang menolongnya untuk bangkit. Begitulah akhir ceritanya.”
“Apakah Kanda mengenalnya?”
“Apakah dia keluarga Kanda?”
“Dulu ia adalah saudaraku. Semenjak ia ditolong oleh sosok kakek tua itu, kini ia tidak ada ikatan saudara lagi denganku.”
“Di manakah dia sekarang? Apakah Kanda tahu siapa namanya?”
“Aku tidak tahu di mana keberadaannya kini, semoga ia masih baik-baik saja.” Jaka menghela napas lebih dalam. “dan untuk namanya siapa? Dia tidak ingin ada seorang pun yang tahu akan namanya.”
Jaka tak bisa memberitahukan siapa sosok sebenarnya dari anak kecil itu. Jaka tak mungkin mengatakan bahwa dirinyalah sosok dibalik anak kecil yang ia ceritakan pada Laras. Untuk suatu hal, Jaka memilih lebih baik merahasiakan hal itu darinya.
“Mengapa begitu, Kanda?”
Jaka tiba-tiba mencubit hidung Laras dan membuat Laras mengaduh kesakitan.
"Kanda.. mengapa Kanda melakukan itu?" Berucap dengan nada cemberut.
“Kau terlalu banyak bertanya! Bukankah ini sudah malam? Apakah kau tidak akan pergi untuk tidur?"
“Tidak! Dinda tidak mengantuk! Lagi pula Dinda ingin tidur bersandar pada Kanda,” ucap Laras memanja. "apakah Dinda tidak boleh melakukannya?..”
“Baiklah, lakukanlah apa yang kau sukai. Aku tidak akan pernah bisa menang sekali pun darimu.” Mengusap rambut Laras agak kasar.
__ADS_1
“Kanda.. Berhenti melakukan itu! Nanti rambut Dinda akan habis kalau Kanda melakukannya.”
Keduanya tertawa riang, seakan tak ada beban apa pun yang perlu dikhawatirkan.
“Kanda..”
"Hmm!"
Laras terdiam. Mengusap-usapkan jari telunjuknya di tangan Jaka.
“Ada apa?” Keheranan melihat tingkah Laras.
“Bagaimana jika suatu hari nanti Dinda mengalami hal yang sama dengan anak kecil yang Kanda ceritakan itu? Apakah Kanda akan menjadi sosok kakek tua itu dan datang menolong Dinda?”
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengalami hal yang sama dengannya.”
“Kalau Dinda benar-benar mengalaminya, bagaimana?”
“Kau takkan pernah mengalami hal itu!”
“Tapi, bagaimana kalau Dinda..”
Jaka memotong dengan cepat'. “Apa kau sedang meragukan Kakakmu?”
“Baik. Dinda percaya, Kanda yang paling menyayangi Dinda melebihi siapa pun di dunia ini.”
Jaka tersenyum dan mengelus rambutnya dengan lembut “Apa kau akan pergi tidur sekarang?”
“Dinda ingin tertidur seperti ini.” Berkata datar sembari mendekapkan tangannya.
“Kenapa kau tidak tidur di kamarmu?”
“Mengapa Kanda menyuruh Dinda untuk masuk? Dinda ingin tidur di pangkuan Kanda seperti ini!” rengek Laras dengan manja dan hampir terisak. Ia memukuli tangan Jaka yang memeluk tubuhnya.
"Apakah Kanda tidak sayang pada Dinda lagi?" Terlihat sedih.
“Baiklah. Kau bisa tidur seperti ini jika memang itu kemauanmu. Aku tidak akan melarangmu lagi.”
Hmm! Sikap Laras mulai melunak.
“Kalau begitu, tidurlah!”
Laras segera tertidur. Jaka menjaga Laras yang tertidur dalam pangkuannya. Ia tak mengira Laras benar-benar akan tertidur pulas dengan bersandar padanya.
“Tidurlah dengan pulas. Kau tidak usah memikirkan apa pun lagi. Aku akan selalu menjagamu.” Jaka berucap lirih sembari mengusap rambut Laras dengan lembut. Tersenyum sembari memandangi langit, berharap ia bisa terus menjaga Laras selama yang ia mampu.
Laras terusik akan ucapan Jaka barusan, seakan ia mendengar ucapan Jaka, namun tak membuatnya terjaga dari tidurnya.
“Kau ini.” Menusuk pipi Laras pelan.
__ADS_1
Laras kembali terusik, sehingga membuat Jaka tertawa melihat tingkahnya.
Tak lama, Jaka segera membawa Laras di pangkuannya, memindahkannya ke dalam kamar karena malam kian larut dan angin dingin sedikit berhembus kencang.