Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Musibah yang tiba-tiba muncul 1


__ADS_3

Jaka tersenyum, akhirnya Dewi Mayasari bisa memaklumi niatan baik Jaka yang hendak menolongnya supaya dirinya tidak merasa kedinginan.



“Kalau begitu, bersandarlah lebih merapat,” pinta Jaka.



Seolah ucapan Jaka telah menghipnotisnya, Dewi Mayasari merapatkan sandaran tubuhnya pada tubuh Jaka. Tangan Jaka dan Dewi Mayasari saling berdekapan.



“Apakah sekarang kau tidak merasa kedinginan lagi?”



Hmm! Dewi Mayasari mengangguk tanpa kata. Pandangannya tertunduk dengan wajah yang sedikit memerah.



“Kalau begitu, tidurlah! Akan kubangunkan jika pagi sudah tiba.”



Hmm! Lagi-lagi Dewi Mayasari mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung memejamkan matanya mengikuti perintah Jaka.



Pagi telah tiba, namun udara masih terasa begitu dingin sehabis diguyur hujan lebat semalam.


__ADS_1


Dewi Mayasari terbangun, lalu mengusap matanya. Ia masih bisa merasakan tangan Jaka masih memeluknya, yang berarti Jaka masih belum terbangun dari tidurnya.



Dewi Mayasari merasa sungkan untuk membangunkan Jaka. Wajah Jaka tertambat di bahunya sambil tertidur. Ia tiba-tiba teringat kejadian semalam saat ia mulai tertidur di pelukan Jaka. Ia membayangkan hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi saat dirinya tertidur. “Apa yang sedang kupikirkan?” batinnya sambil menepuk-nepuk wajahnya merasa malu.



Beberapa saat ditunggunya, tapi Jaka tak kunjung bangun. Dewi Mayasari mencoba memberanikan diri untuk membangunkan Jaka dengan menepuk-nepuk tangannya.



“Hei, sampai kapan kau akan terus tertidur?”



Tak ada jawaban apa pun. Mata Jaka masih terpejam. Dewi Mayasari mencoba sekali lagi membangunkan Jaka. Tapi tetap saja tidak ada tanggapan. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.




Dewi Mayasari menggoyangkan tubuh Jaka, namun reaksinya tetap sama, tak berubah sama sekali. Ia menjadi gelisah melihat Jaka yang tak kunjung bangun. Sekali lagi Dewi Mayasari mencoba, namun tetap dengan hasil akhir yang sama.



Ia mencoba menggunakan cara lain. Mencoba membangunkan Jaka dengan menutup hidungnya. Tetap saja, hasilnya tak jauh berbeda. Akhirnya ia meletakkan dua jarinya di leher Jaka. Nadinya masih terasa, tapi sedikit lemah. Suhu tubuh Jaka terasa dingin di jarinya. Lalu menurunkan jarinya ke tangan Jaka, kembali merasakan denyut nadi di tangan Jaka. Denyut nadinya masih terasa, namun semakin lemah.



Dewi Mayasari semakin panik bukan kepalang. Ia tiba-tiba tertuju pada sebuah bercak seperti luka kebiruan di tangan Jaka. Tidak! Lebih tepatnya seperti sebuah luka bekas gigitan taring ular besar.

__ADS_1



Dewi Mayasari tersentak. Mengingat kembali setiap kejadian yang telah terjadi sejak kemarin, dari mulai berangkat menjalani hukuman hingga saat ini.



Ia kini ingat, dirinya dan Jaka sempat berhadapan dengan ular besar di awal-awal perjalanan mereka mencari tanaman obat. Mungkinkah ini luka dari gigitan ular besar itu? Ataukah ia terluka saat menghindari amukan \*\*\*\* hutan sebelum hujan turun, tapi tidak diberitahukan kepadanya? Atau mungkin..? pertanyaan terus bermunculan memenuhi benaknya. Tapi tak satu pun yang bisa terjawab.



Tak mau ambil pusing, dengan sigap Dewi Mayasari menggendong Jaka menuju padepokan. Dengan sekuat tenaga ia membawa pulang Jaka yang entah tertidur atau tidak sadarkan diri.



Antara dua, tiga jam kemudian, Dewi Mayasari berhasil membawa Jaka sampai ke padepokan. “Ayahanda! Ayahanda!” teriak Dewi Mayasari di depan pintu padepokan. Mpu Anggar Maya yang mendengar teriakan putrinya segera menghamburkan diri dan menemuinya.



“Apa yang terjadi pada Jaka?” tanyanya dengan nada kepanikan pada putrinya yang membawa Jaka dalam kondisi yang dilihatnya.



“Ayahanda, tolonglah! Jaka... Jaka..” Terisak hampir menangis.



“Baiklah! Kita bawa dulu dia ke kamarnya. Setelah itu baru kita periksa apa yang sebenarnya telah terjadi.”



“Baik, Ayahanda. Tolong bantu aku membawa Jaka ke kamarnya.”

__ADS_1



Dewi Mayasari dibantu oleh ayahnya segera membawa Jaka menuju ke kamar Jaka.


__ADS_2