Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Firasat buruk


__ADS_3

Malam mulai larut. Jaka masuk kembali ke dalam kamar. Ia tetap melangkah masuk meskipun nanti Dewi Mayasari bisa jadi akan kembali mengusirnya keluar. Ia memantapkan langkah kakinya memasuki ruang kamar.



Setelah sampai di ruang kamar, ia berniat hendak kembali meminta maaf soal kejadian tadi. Namun, dilihatnya Dewi Mayasari sudah tertidur pulas. Bahkan Dewi Mayasari merebahkan seluruh tubuhnya hampir menutupi seluruh bagian tempat tidur.



Jaka mengerutkan keningnya. “Apa dia pikir aku juga akan ikut tertidur di sampingnya?” ucap Jaka pelan sembari membetulkan selimut yang dipakai Dewi Mayasari karena terlihat tak beraturan.



Tak lama selimut itu kembali tak beraturan karena Dewi Mayasari mengibaskan selimutnya dengan tangannya. Jaka terpaksa membetulkannya lagi. Baru selangkah berbalik, Dewi Mayasari lagi-lagi mengibaskan selimutnya, hingga kembali tak beraturan.



Jaka menjadi kesal. “Anak ini! Apakah dia sengaja melakukannya karena masih marah kepadaku?” Memegangi selimut dan hendak membetulkannya lagi.


“kalau kau mengibaskan selimutnya lagi, percaya atau tidak, aku akan menarik seluruh selimutnya.” Berkata seolah sedang mengancam.


Setelah itu selimut yang dibetulkan letaknya oleh Jaka cukup lama bertahan. Lama-kelamaan Jaka mulai mengantuk. Tapi ia masih terlihat waspada. Ia belum bisa melupakan kejadian tadi yang membuat Dewi Mayasari marah kepadanya.

__ADS_1


Ia masih belum tahu persis siapa yang menjadi target utamanya, dirinya atau Dewi Mayasari. Bahkan ia juga tidak tahu pasti apa motif si pelaku sebenarnya melakukan serangan tiba-tiba seperti itu. Akhirnya Jaka tetap berjaga dengan cara tidur ayam hingga pagi.



Jaka duduk di sebuah kursi di samping Dewi Mayasari yang tertidur, duduk bersebelahan dengan kepalanya agak jauh. Jaka mengasumsikan untuk sementara ini, bahwa target korbannya mengarah kepada Dewi Mayasari ketimbang dirinya.



Pagi telah nampak. Jaka masih berjaga. Memejamkan mata. Sebentar membuka mata, sebentar kemudian memejamkan matanya. Dewi Mayasari belum terbangun dari tidurnya. Ia terlihat masih asyik berkelana di alam mimpinya.



Jaka memandang Dewi Mayasari yang masih tertidur sesekali. Kantung matanya berwarna hitam akibat tidurnya yang tak menentu. Meski rasa kantuknya begitu berat ia rasakan, ia mencoba menahannya sekuat tenaga.




Dewi Mayasari membuka mata tatkala pagi hampir mendekati siang. Matanya yang terbuka tertuju pada satu titik, Jaka. wajahnya menghadap ke arah dimana Jaka duduk di kursi yang sedang berjaga semalaman. Pandangan Dewi Mayasari begitu lama tertuju pada Jaka.


__ADS_1


“Kau sudah bangun.” Memandang Dewi Mayasari yang terbangun sambil mengganti posisi kakinya.



Dewi Mayasari terkejut melihat Jaka yang tengah duduk di sebelahnya. Tiba-tiba dirinya merasa malu melihat Jaka yang tengah menatapnya saat ia baru membuka matanya. Seketika itu juga ia membalikkan badannya membelakangi Jaka. Menyembunyikan rasa malunya agar tidak diketahui oleh Jaka.



Jaka yang melihat hal itu beranggapan bahwa Dewi Mayasari masih marah kepadanya soal kejadian semalam. Ia berusaha memaklumi sikap Dewi Mayasari kepadanya. "Aku tahu kau masih marah kepadaku," ucap Jaka mengikuti prasangkanya. Dewi Mayasari tidak menggubris. Ia bahkan masih tak sanggup untuk menatap wajah Jaka, apalagi membalas ucapan Jaka.



“Kenapa kau tidak memakan makanan yang kubawakan?” Kembali merubah posisi kakinya. Dewi Mayasari masih tak membalas. “tak apa kalau kau masih belum bisa memaafkanku. Tapi setidaknya kau harus mengisi perutmu agar tidak kelaparan.”



Krukk! Sejurus kemudian ucapan Jaka terbukti. Suara perutnya yang berontak membuat Dewi Mayasari semakin malu. Ia tak mengira bahwa suara dari perutnya yang kosong tiba-tiba saja di dengar oleh Jaka.



Jaka menghela napas panjang, kemudian bangkit. “Aku sudah menyiapkan air di atas meja. Setelah kau membersihkan wajahmu, segeralah mengisi perutmu,” ucap Jaka melangkah pergi.

__ADS_1



Untuk ketiga kalinya, Jaka lagi-lagi pergi keluar meninggalkan ruangan kamar meskipun saat itu Dewi Mayasari tak memintanya pergi.


__ADS_2