Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Bermalam di Dusun Banggolan 1


__ADS_3

Di tengah-tengah dusun kecil itu terdapat sebuah penginapan yang cukup besar. Karena gelap yang hampir menutup senja, Jaka pun memutuskan untuk bermalam dan menyewa sebuah kamar di penginapan itu dan meneruskan perjalanan pada esok harinya.


"Apa kau ingin menyewa bilik kamar?" tanya seorang penjaga penginapan saat Jaka ingin menanyakan apakah masih ada kamar kosong yang masih tersedia untuk disewa.


"Iya! Berapa biaya untuk satu malamnya?"


"Hanya dua koin perak! Berapa malam kau ingin menyewanya?"


Jaka tersenyum canggung. "Hanya untuk malam ini. Kami hanya mencari tempat untuk istirahat saja sebelum melanjutkan perjalanan."


Penjaga penginapan itu terlihat acuh terhadap Jaka. Wajahnya menunjukkan senyum kecut saat Jaka memberitahukannya menyewa selama semalam saja. Seakan ia merasa sia-sia telah bertanya. "Baiklah. Apakah kau ingin memilih ruangan sendiri? Atau mungkin ruangan acak?" tanya penjaga penginapan mengecek buku catatan daftar kamar yang disewakan.


"Apakah ruangan paling ujung sudah terisi?"


"Penuh!" Lagi-lagi penjaga penginapan itu berucap dengan menunjukkan sikap acuhnya meskipun seluruh pertanyaan dari Jaka dibalasnya dengan segera.


"Bagaimana dengan ruangan di sebelahnya?"


"Kosong! Ada lagi?"


"Tidak, tidak! Aku akan mengambil ruangan itu saja."


"Ruangannya lurus ke depan, lalu ke kanan. Kedua dari bilik kamar yang paling ujung," ucap penjaga penginapan menuduhkan. Namun, pandangan matanya tetap tidak melihat ke arah Jaka barang sesaat pun. Penjaga penginapan itu hanya terus menundukkan kepalanya dan fokus menghitung segunduk uang koin yang terserak di samping buku catatannya.


"Maaf, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


"Katakanlah!"


"Apakah pasar Banggolan benar berada di dusun ini?"

__ADS_1


"Ya. Tempatnya ada di ujung dusun Banggolan ini. Kurang dari jarak waktu lima belas menit dari penginapan ini, kau akan sampai di sana."


"Terima kasih banyak! Ini biaya sewanya!" Jaka memberikan dua koin perak yang diletakkannya di atas meja. Penjaga penginapan pun secepat kilat menyambar koin perak yang Jaka letakkan hingga membuat Jaka sedikit terkejut dibuatnya. Setelah Jaka meletakkan biaya penginapannya, Jaka segera berbalik dan menuju ke arah ruangan yang disewanya.


Baru beberapa langkah Jaka berjalan, penjaga penginapan tiba-tiba berteriak, "Janganlah saling mengganggu dengan penghuni ruangan lainnya! Urusi saja urusan masing-masing!"


Jaka tidak menghiraukan teriakan dari penjaga penginapan. Jaka tetap saja berjalan meskipun benaknya bertanya-tanya, apakah perkataan dari penjaga penginapan tadi itu ditujukan kepadanya atau mungkin ia sedang berteriak kepada orang lain.


Jaka segera menemui Nyi Dewi dan juga Laras yang masih berada di luar penginapan setelah menemukan ruangannya.


"Kangmas, ada apa dengan wajah Kangmas? Mengapa terlihat seperti telah mengalami mimpi buruk saja?"


"Tidak apa-apa! Aku hanya berbicara dengan penjaga penginapan ini saja barusan. Tetapi sikapnya kurang baik terhadap pengunjung."


"Apakah ia berbicara kasar pada Kangmas?"


"Tidak. Lupakan saja! Mungkin ia sedang banyak pikiran atau barangkali perasaannya tidak begitu baik. Paling tidak, kita sudah mendapatkan bilik kamar untuk kita beristirahat malam ini. Besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan kita lagi."


"Iya, Mbakyu. Dinda juga sedikit mengantuk," ucap Laras.


Nyi Dewi tertawa renyah sembari menggelengkan kepalanya. Jaka pun ikut tertawa saat mendengar ucapan Laras. "Bukankah Diajeng baru terbangun? Bagaimana bisa rasa kantuknya datang kembali secepat itu?"


"Entah! Dinda juga tidak tahu, Mbakyu!" Menutup mulutnya yang terbuka karena menguap.


"Kalau begitu, sebaiknya kita segera beristirahat saja!" ajak Jaka menuntun Laras dan Nyi Dewi menuju ke ruangan yang telah disewa. Ketiganya pun segera beranjak dengan cepat.


Ruangan-ruangan dalam penginapan tak begitu besar. Terbagi dalam deretan petak-petak ruangan yang berurut memanjang. Ukuran luasnya hanya beberapa meter dengan dinding dari bilik bambu. Pintu ruangannya pun hanya tertutup oleh kain tirai tebal sebagai pintunya. Nyi Dewi dan Laras mengikuti langkah Jaka yang sudah mengetahui dimana letak ruangannya.


Setelah sampai, ketiganya pun segera memasuki ruangan. Di dalamnya hanya terdapat sebuah dipan sedang berbalut tikar sebagai alasnya. di sisi ruangannya terdapat pula sebuah meja kecil tanpa kursi di sampingnya.

__ADS_1


Jaka mengamati ruangan penginapan sesaat setelah menyimpan barang bawaan di atas meja. Berjalan mondar mandir untuk mengecek seluruh ruangan. Dinding bilik bambu terlihat masih baru. Belum ada bekas-bekas lapuk atau tua. Mungkin penginapannya belum lama berdiri, batin Jaka. Obor kecil sebagai penerang ruangan tersimpan pada bilah-bilah kayu yang ada di dekat jendela ruangan. Jendela itu tak bertirai. Hanya dibatasi oleh potongan-potongan kayu kecil yang renggang dan berjajar rapi seperti susunan pagar dengan dua buah pintu untuk membuka-tutup jendelanya.


...***...


Di tempat lain..


Lembing Wuluh menghampiri sebuah kedai tempat minum-minum. Langkah kakinya terlihat seperti orang yang tidak sabaran untuk segera sampai pada tempat itu.


Di tempat itu, beberapa orang terlihat tengah meminum-minum arak dengan iringan canda tawa mereka. Salah seorang yang berada di tengah bahkan terlihat sudah mabuk dan berkata tak keruan. Kedua tangannya asyik memeluk dua gadis belia di sampingnya. "Ayo! Tambah lagi! Habiskan! Habiskan semuanya!" teriaknya sambil menggenggam sebuah kendi berisi arak di salah satu tangannya.


"Waluh, mari kita kembali saja! Aku takut Kakang Wuluh akan menemukan kita di tempat ini seperti yang sudah-sudah," ajak seseorang yang ikut minum-minum. Beberapa lainnya yang juga turut serta ikut membenarkannya.


Orang yang dipanggil Waluh itu berucap enteng, "Kalian tenang saja! Kakang Wuluh tidak akan menemukan kita di tempat ini." Pandangannya entah kemana. Ia hanya tahu gadis-gadis belia di kedua sisinya itu terus memintanya untuk tetap meminum araknya seteguk demi seteguk. "jika Kakang Wuluh ada di sini, maka aku akan.."


Langkah Lembing Wuluh akhirnya sampai. Ia berdiri di belakang beberapa orang yang terus meminta orang yang bernama Waluh tanpa ada seorangpun yang tahu di antara mereka. Lembing Wuluh sampai saat ketika beberapa orang itu meminta Waluh agar cepat kembali. Lembing Wuluh berdiri tanpa suara dari saat itu hingga Waluh berucap dengan entengnya bahwa dirinya tidak mungkin akan datang.


"Apa yang akan kau lakukan!" potong Lembing Wuluh dengan suara tegas dan keras.


Waluh merupakan saudara kandung Lembing Wuluh. Nama aslinya Waluh Angge. Akan tetapi ia kentara dengan nama Waluh Kuning. Entah dari mana asal mula sebutan "Kuning" yang melekat pada namanya. Umur Waluh Kuning hanya terpaut beberapa tahun saja di bawah Lembing Wuluh, dengan tinggi yang hampir sepantaran. Satu hal yang tidak pernah lepas dari pada sifat Waluh Kuning, yaitu ia akan meminta Lembing Wuluh untuk membantunya membereskan setiap kali permasalahan yang dibuatnya tak bisa ia selesaikan.


Beberapa orang yang meminta Waluh Kuning untuk menyudahi aktivitas minum-minum, sontak saja merasa amat terkejut hingga membuat beberapa orang itu langsung bangkit seketika dan menoleh karena tahu suara siapa yang mereka dengar.


"Kakang Wuluh!" ucap dua tiga orang bersamaan yang mengetahui kedatangan Lembing Wuluh dengan tatapan tajam ke arah mereka.


"Kakang Wuluh!.." ucap yang lainnya bersuara pelan dan sedikit terlambat karena takut melihat sorotan tajam dari pandangan Lembing Wuluh.


"Siapa yang mengajak kalian datang ke tempat seperti ini?" tanya Lembing Wuluh.


Seketika mereka menunjuk ke arah Waluh Kuning yang telah mabuk. Lembing Wuluh lalu melangkah maju. Memandangi dua orang gadis belia yang berada di pelukan Waluh Kuning untuk sejenak. "Pergilah!" pinta Lembing Wuluh dengan suara tegasnya tetapi lebih lembut.

__ADS_1


Dua orang gadis belia itu pun segera beranjak dan melepaskan pelukan Waluh Kuning yang tengah memeluknya. Kemudian terburu-buru masuk ke dalam setelah mendengar suara Lembing Wuluh yang terdengar menakutkan dalam pandangan mereka.


Kini, tinggallah Waluh Kuning seorang diri dalam kondisi mabuk. Dan di saat itu, Lembing Wuluh sudah berdiri di hadapan Waluh Kuning.


__ADS_2