Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Percakapan hangat


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Guru bertingkah aneh hari ini?"


"Bukan hanya kau saja yang berpikiran seperti itu?"


Jaka dan Dewi Mayasari bangkit, lalu pergi meninggalkan ruangan, segera beranjak ke kamar masing-masing.


Pagi Hari yang cerah..


Udara masih terasa segar. Belum terpapar sinar mentari pagi. Butir-butir embun masih terasa menghangatkan suasana meski rasa dingin belum sepenuhnya menghilang.


Jaka tengah berada di depan padepokan. Seperti biasa, ia selalu bangun di pagi hari dan menyempatkan diri menghirup udara segar sebelum pergi membersihkan badan agar sedikit mengurangi rasa dingin.


Ia merenggangkan kedua tangannya, mencoba merelaksasikan setiap otot di tubuhnya.


Hari itu suara-suara kicau burung di pagi hari tidak terdengar seperti biasa. Hanya saja Jaka menangkap suara kicauan burung yang nyaring dari belakang padepokan.


Kicauan itu terdengar seperti kicauan burung Sirit Uncuing, yang konon menurut tradisi yang begitu dipercaya, burung itu adalah burung yang membawa kabar kematian dari seseorang.


Jaka tiba-tiba menjadi gelisah. "Kuharap ini bukanlah pertanda buruk," batinnya berusaha menghilangkan kegelisahannya.


Ia segera bergegas menuju sebuah ruangan untuk membersihkan diri.


Siang hampir mendekati sore..

__ADS_1


Jaka berada di beranda depan padepokan. Ia terduduk memandangi halaman depan dan seakan tengah merenungkan sesuatu.


"Jaka, Apa yang tengah kau lakukan di sini?"


Tiba-tiba Mpu Anggar Maya telah berdiri di dekatnya.


"Guru.." Kaget dan terperanjat melihat Mpu Anggar Maya yang tengah berdiri di dekatnya. "apa yang Guru lakukan hingga mengagetkanku?" Menarik napas, lega.


"Aku sedang berkeliling, dan kulihat kau sedang berada di sini, akhirnya kuputuskan untuk menghampirimu." ungkap sang guru menerangkan. "tak kusangka kau akan terkejut dengan kedatanganku." Sedikit menahan tawanya agar tidak keluar.


"Tak bisakah Guru memanggilku saja agar aku tidak merasa kaget?" Merasa malu akan penuturan gurunya itu.


"Baiklah, aku minta maaf bila hal itu membuat dirimu tidak nyaman. Lain kali aku akan melakukan seperti yang kau minta barusan." ucap Mpu Anggar Maya seraya duduk di dekat Jaka.


"Tidak ada!"


"Apa hal yang tempo hari itu masih mengganggu pikiranmu?"


"Tidak, itu tidak begitu menggangguku. Aku hanya sekadar duduk dan merasakan angin saja."


"Begitu rupanya," komentar Mpu Anggar Maya. "Apa Dewi Masih belum keluar dari kamarnya?" tanya Mpu Anggar Maya kemudian.


"Sepertinya begitu, Guru. Aku juga belum melihatnya sedari pagi. Mungkin ia masih merasa lelah setelah kami berlatih hampir seharian penuh kemarin."

__ADS_1


"Bagaimana hasil latihan yang kalian jalani? Apa kau merasakan ada perubahan besar?"


"Hmm..." Jaka berpikir sejenak mengolah dan menyaring inti pertanyaan dari Mpu Anggar Maya sebelum melemparkan jawabannya.


"Aku kira latihan kami berjalan dengan baik. Aku juga merasa ajianku kian hari kian meningkat saja. Tapi, aku belum sepenuhnya yakin apakah jurusku sudah sampai tahapan sempurna atau belum?"


"Berlatih lebih giat lagi! Aku yakin akan ada hasil bagus dalam setiap ajian yang kau latih. Ajian yang kau kuasai juga akan mumpuni."


"Baik, Guru."


Keduanya terdiam.


"Guru.." Kembali membuka percakapan.


"Ya, apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"


"Iya, Guru."


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa Guru masih ingat saat pertama kali kita bertemu? Dan saat itu aku tengah terduduk berlutut dibawah siraman hujan yang deras?"


"Ya, aku masih ingat. Apa yang ingin kau tanyakan tentang hal itu?"

__ADS_1


"Aku masih terus terpikirkan. Kira-kira apa arti hidup yang sesungguhnya itu?


__ADS_2