
Jaka berlarian dari kamarnya, mencari di mana keberadaan Mpu Anggar Maya. Ia ingat sang guru sering kali berada di ruang membaca, ia juga sepertinya mendengar suaranya dari arah ruang membaca. Jaka langsung mengarahkan langkahnya menuju ke ruang tersebut. “Guru, guru, aku ingin belajar..” Langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia mendapati sang guru tengah berbicara dengan seorang gadis perempuan yang ia taksir seusianya.
Jaka membalikkan badan, berjalan beberapa langkah sambil berkata, “Guru, nanti aku akan kembali lagi. Kalian mengobrol saja dulu.”
“Tidak perlu! Untunglah, kau kemari! Kebetulan aku sedang ingin mempertemukanmu dengan seseorang. Kemarilah!”
Jaka menghentikan langkahnya, berbalik dan menghampiri Mpu Anggar Maya. Seorang gadis yang berdiri di samping sang guru terlihat memandangnya dengan tatapan yang tak bersahabat dan sedikit acuh.
“Jaka, mulai sekarang dia adalah murid seperguruan denganmu, namanya Dewi Mayasari. Kau harus mengakrabkan diri dengannya. Tetaplah rukun dan saling membantu.”
“Baik, Guru,” patuh Jaka menuruti ucapan gurunya.
“Aku Jaka Umbara. Siapa namamu?” tanya Jaka pada seorang gadis di samping Mpu Anggar Maya. Gadis itu tak menanggapi pertanyaan Jaka. Jaka merasa heran karena tak ada sahutan sepatah kata pun dari gadis itu. Jaka tak begitu mempersoalkannya. Mungkin gadis itu tidak bisa berbicara, pikirnya.
“Dewi, perkenalkanlah dirimu pada Jaka,.” pinta Mpu Anggar Maya pada gadis itu. Namun, tak ada tanggapan apa pun darinya. “apakah kau tidak mau memperkenalkan dirimu kepadanya.”
__ADS_1
“Ayahanda, kenapa aku harus memperkenalkan diriku padanya. Apa untungnya bagiku?” ucap gadis itu dengan acuh.
“Mulai saat ini, dia adalah murid seperguruanmu. Kau harus rukun dengannya. Jadi, kau harus memperkenalkan dirimu dengan baik.”
“Tidak mau! aku tidak mau memperkenalkan diriku padanya. Terkecuali kalau dia memohon padaku.”
Mpu Anggar Maya yang juga merupakan ayah dari gadis itu hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku putrinya yang kelewatan. “Kau tidak berhak berkata seperti itu. Kau harus..”
“Kau..” Gadis itu terperangah melihat Jaka yang berlalu begitu saja. Jaka tak menggubrisnya dan melanjutkan langkahnya kembali menuju kamarnya.
“Ayahanda, lihatlah, bagaimana sikapnya! Apa aku harus mengakrabkan diri dengannya? Aku tidak akan pernah menyetujuinya!" ucap gadis itu dengan nada kesal. Ia lantas melangkah cepat menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal ia mendobrak pintu yang tertutup. Jaka yang tengah membaca dibuat terkejut karenanya.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya gadis itu dengan marahnya. "cepat, keluar kau dari kamarku!”
Jaka tak banyak berpikir. Ia hanya menunjuk ke arah tempat belajar. Gadis itu mengerutkan keningnya mencoba menangkap isyarat dari tangan Jaka. Gadis itu tersadar, ia tahu ruangan itu bukan kamarnya. Tanpa sedikit pun rasa malu, ia membanting pintu kamar Jaka. “Jangan harap aku akan meminta maaf, huh!”
Jaka hanya menghela nafas. Mencoba mengganggap tak ada apa pun yang terjadi, melanjutkan membaca gulungan buku ajian yang dibacanya.
Pagi hari seperti hari-hari biasanya. Jaka selalu bangun tidur lebih awal dari gurunya. Biasanya ia akan menghirup udara segar di pagi hari sebelum ia pergi membersihkan badannya, agar mengurangi hawa dingin yang terasa.
Saat itu Jaka terburu-buru bangun, ia tidak menghirup udara segar terlebih dahulu seperti biasanya. Ia langsung menuju suatu tempat untuk membersihkan badannya pagi itu.
Jaka melangkah pelan. Tak ada sesuatu yang mencurigakan. Ia melangkah mantap masuk ke ruangan itu untuk segera membersihkan badannya.
__ADS_1
Sesaat setelah Jaka masuk, terpampang sebuah kondisi yang tak terduga. Aaaahh! Suara jeritan seorang gadis terdengar amat keras. Dan seketika saja, sebuah penyiuk air dari tempurung kelapa melayang cepat ke arah wajahnya.