Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Berteduh di bawah hujan


__ADS_3

Wajah Dewi Mayasari semakin memerah. “Kau..” Dewi Mayasari segera bangkit, menurunkan tubuhnya dari tubuh Jaka. Jaka bangun dan melihat ke arah \*\*\*\* hutan yang menabrak pohon besar. “Syukurlah, hewan itu sudah mati!” ucap Jaka lega. “Apakah kau baik-baik saja?” Memandang Dewi Mayasari. Huh! Dewi Mayasari berpaling muka.



Jaka merasa heran. Ia menggaruk-garuk kepalanya meski tak ada yang terasa gatal sedikit pun. Disela-sela kebingungannya itu ia sungguh tak tahu apa yang harus dilakukannya. “Maafkan aku! Aku tidak bermaksud seperti itu padamu. Aku ... Aku hanya mencoba untuk menyelamatkan diri kita. Itu saja.. kumohon, maafkanlah aku!” Hanya permintaan maaf yang mungkin bisa dilakukannya saat itu. "Toh ini juga salahku yang menarik-narik tangannya tanpa seizinnya," batin Jaka.



Tak ada sahutan apa pun dari Dewi Mayasari. Ia masih memalingkan wajahnya yang memerah. “Itu.. Terima kasih.. Kau sudah bersedia menyelamatkanku,” ucap Dewi Mayasari masih berpaling muka menutupi merah di wajahnya.



Mendengar jawaban dari Dewi Mayasari, Jaka kian bertambah lega. Ia kembali melemparkan tubuhnya berbaring di rerumputan. Aaah! Memejamkan mata, seolah merasakan lelah yang begitu berat.



Dewi Mayasari terperanjat demi melihat apa yang dilakukan oleh Jaka. “Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau hewan itu terbangun dan menyerang kita lagi?”



“Tenang saja! Hewan itu sudah mati. Ia tidak akan bisa menyerang kita lagi.” Membuka mata, lalu memandang Dewi Mayasari “Lihatlah! Dia sudah seperti itu, mau bagaimana lagi untuk menyerang kita?”


__ADS_1


Dewi Mayasari melirikkan pandangannya ke pohon besar dimana \*\*\*\* hutan itu terkapar, lalu kembali memandang Jaka. “Lantas, kenapa kau berbaring lagi?”



“Aku kelelahan, apa kau tidak tahu? Setelah berlarian beberapa kali tadi, aku menarik tubuhku terlalu keras hingga terjatuh, kemudian kau juga terjatuh dan menindih tubuhku. Apalagi tubuhmu sedikit terasa berat. Bagaimana mungkin aku tidak merasa lelah?”



“Itu.. Aku..” Kembali teringat saat tubuhnya berada di atas tubuh Jaka. “Itu salahmu yang seenaknya menarik-narik tanganku.” Wajah Dewi Mayasari kembali memerah.



“Baik, baik. itu memang salahku! Bukankah aku juga sudah meminta maaf padamu? Apakah kau masih belum bisa menerimanya?”




Keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju padepokan. Hari terasa semakin gelap. Tiba-tiba saja hujan turun cukup deras. Keduanya kebingungan mencari tempat berteduh. Akhirnya keduanya mencoba berteduh di bawah pohon besar yang rindang. Namun, tak lama curahan hujan semakin menembus dedaunan hingga hampir membasahi pakaian.



Jaka mulai berpikir, mengingat-ingat kembali setiap ruas jalan yang telah dilaluinya sebelum mencapai atas bukit. Ia ingat di suatu tempat setelah membunuh ular besar yang menyerangnya, ia tidak sengaja memperhatikan sekitaran dan sekilas melihat gua kecil. Tempat itu tak terlalu jauh dari tempat ia dan Dewi Mayasari berteduh.

__ADS_1



“Ikuti aku!” ucap Jaka menarik tangan Dewi Mayasari.



“Tunggu! Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Mengapa kau sangat suka menarik-narik tangan orang tanpa izin?” protes Dewi Mayasari terkejut oleh perbuatan Jaka.



“Nanti saja kujelaskan. Sekarang yang terpenting kita harus mencari tempat berlindung terlebih dahulu.”



Jaka menarik tangan Dewi Mayasari ke tempat di mana ia melihat gua kecil secara sekilas. Dewi Mayasari tak bisa protes lagi. Ia hanya bisa mengikuti kemauan Jaka.



Tempat yang dipikirkan oleh Jaka akhirnya ditemukan. Keduanya bersegera masuk.



Gua itu tidak cukup besar, tapi tak terlalu kecil untuk ukuran beberapa orang. Luasnya hanya seukuran lima ekor gajah apabila kelimanya berjalan beriringan. Tingginya pun hampir mendekati kepala manusia. Beberapa batu terdapat di bawah dinding gua dalam berbagai ukuran.

__ADS_1



“Sepertinya di sini kita bisa berteduh dari derasnya hujan untuk sekarang, setidaknya pakaian kita tidak akan basah kuyup terkena air hujan,” ucap Jaka sambil mengatur napas yang terengah-engah akibat berlarian.


__ADS_2