
Ledonggowo menghadapi jelmaan ular Nyai Gendhis. Ia bersama dengan kedua tubuhnya yang lain bersatu padu langsung menyerbu dan mengelak setiap serangan-serangan ketiga kepala ular bertubuh besar yang dihadapinya. Ketika satu kepala ularnya mematuk tanah saat Ledonggowo mengelak, tanah pun serasa bergetar, seperti suara gemuruh guntur yang menggelegar dengan keras. Tanahnya pun serasa sedikit bergoyang-goyang. Segara Jati yang berada cukup jauh dari pertarungan pun dapat merasakan hal itu. Sekarwati sedikit menjauh karena takut melihat ular besar itu. Ia juga merasa khawatir akan terkena serangan-serangan yang mungkin saja datang mengarah kepadanya tanpa disadarinya.
Ledonggowo terus memberikan serangannya. Ia menapaki angin, terbang ke hadapan kepala ular dan memberikannya perlawanan. Kepala ular itu begitu lincah dengan lidahnya yang terus menjulur keluar disertai suara mendesis. Ditambah lagi, ular itu memiliki dua cabang kepala yang membuatnya lebih leluasa untuk melihat ke arah sekelilingnya.
Ular jelmaan dari tongkat yang ditancapkan Nyai Gendhis menyerang lebih beringas. Bahkan kini, ular itu mengibas-ngibaskan ekornya dengan gencarnya sehingga membuat salah satu dari ketiga Ledonggowo terhempas setelah beberapa kali berusaha mengelak dari serangan ekornya.
"Hahaha! Rasakan! Kau takkan mungkin bisa menang melawanku! Hahaha!"
Suara tanpa rupa seakan menggema di sela-sela pertarungan sengit mereka. Amat jelas dan seolah-olah suaranya memenuhi udara. Suara itu berasal dari jelmaan ular besar yang tak lain adalah Nyai Gendhis. Ucapan itu cukup untuk membuat emosi Ledonggowo tersulut seketika.
"Kita buktikan saja, bagaimana aku mampu mengalahkan mu!"
"Jangan berpikir bahwa kau sudah berada di atas angin! Buktikan saja ucapanmu itu!"
"Baiklah. Aku tidak akan menahan diriku. Jika kau tidak ingin dirimu terluka, kau boleh menyerah saat ini juga dan mengakui kehebatanku." Mengambil ancang-ancang untuk bersiap menyerang.
"Lancang!"
Wussh!! Wussh!! Suara kibasan dari ekor ular besar itu terdengar begitu jelas ketika ular itu mengibaskan ekornya ke arah Ledonggowo. Bertubi-tubi dan tanpa ampun. Lebih cepat dari sebelumnya. Secepat telapak tangan yang diputar balikkan.
Ketiganya segera menyingkir dari kibasan ekor ular besar. Wussh!! Wussh! Kibasan ekornya kembali datang. Ketiganya tiba-tiba saling berpencar dan segera mengelilingi tubuh ular besar dari tiga sisi serta langsung melancarkan serangan secara bersamaan. Untuk sementara waktu, ketiganya mampu membuat ular besar itu terkepung dan sulit untuk memberikan perlawanan kendatipun serangannya masih bisa ditangkis dengan kibasan ekornya.
Ular besar itu terus berusaha menghalau serangan dari ketiga Ledonggowo yang dilancarkan ke tubuhnya. Ketiga Ledonggowo kembali bersatu. Ketika kibasan dari ekor ular itu datang, ketiganya dengan cepat menghindarinya. Melompat ke udara, berjungkir balik, atau melakukan gerakan lain yang sekiranya dapat membuatnya terhindar dari kibasan ekor ular besar.
__ADS_1
Ahkk!! Jelmaan ular Nyai Gendhis meraung keras setelah terkena serangan dari ketiga Ledonggowo tepat di tubuhnya. Serangan ular besar itu sedikit melemah walaupun belum tumbang. Ular itu masih bisa bergerak bebas. Menggelosor di atas tanah, mencoba untuk berpindah tempat.
Ledonggowo mengejar ular itu. Sekarwati yang menyingkir karena khawatir akan keselamatan dirinya ikut pula mengejar begitu mengetahui Ledonggowo mengejar ibunya yang masih berwujud jelmaan ular besar.
"Kau takkan bisa lari dariku. Kemanapun kau pergi, aku masih bisa mengejar mu!" ucap Ledonggowo ketika ia berdiri di hadapan ular besar yang berhenti menggelosor dan berdiri seketika di hadapannya.
Ssthh!! Ular besar itu seketika mendesis. Wussh!! Wussh! Kibasan ekornya kembali menyerang dengan cepat. Ledonggowo yang mengetahui kibasan ekor ular besar itu datang ke arahnya, segera mengelak dan cepat-cepat melepaskan sebuah ajian yang ia miliki sehingga membuat ular itu menarik kembali ekornya dengan sangat cepat.
"Hngh! Aku takkan jatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama," ucap Ledonggowo mantap dan terkesan sedikit meremehkan. Merasa bahwa dirinya telah mengetahui kelemahan dari pada jelmaan ular bertubuh besar itu. "seranganmu itu tidak akan berhasil untuk kedua kalinya," ucap Ledonggowo lagi.
Nyai Gendhis mulai berpikir lebih keras. Ledonggowo bukanlah seorang lawan yang dapat ia hadapi dengan mudah. Meskipun Ledonggowo telah mencapai pada usia kepala empat, seolah hal itu tidak sedikitpun mengurangi kemampuan yang dimilikinya. Nyai Gendhis pun harus berusaha ekstra memutar otaknya agar ia bisa mengimbangi serangan-serangan Ledonggowo.
Pertarungan keduanya terhenti sejenak. Nyai Gendhis kembali ke wujud semula. Sedangkan Ledonggowo menarik tubuh lainnya sehingga tubuhnya hanya tersisa dirinya sendiri. Hal itu lantaran cukup menguras tenaga dalam dari keduanya.
"Banyak cincong!" Nyai Gendhis tidak terima atas perkataan Ledonggowo terhadapnya. Ia langsung maju menyerang ke arah Ledonggowo yang sudah bersiap menunggu serangannya.
Whukk!! Whukk!! Nyai Gendhis menyerang Ledonggowo dengan tongkat kayunya sebagai penyokong dirinya dalam memberikan serangan-serangannya. Ledonggowo menghindar dengan cepat kala tongkat kayu Nyai Gendhis melayang di sekitar tubuhnya. Ledonggowo mengelak ke arah kiri, kanan, bahkan mundur beberapa langkah. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tersembunyi dibalik tongkat kayu Nyai Gendhis, meski ia tidak tahu hal apa yang tersembunyi. Ia hanya merasakan firasat, bahwa tongkat kayu itu tidak boleh sampai mengenai tubuhnya entah bagaimanapun.
Ledonggowo menapaki angin dan kembali ke tempat awal pertarungan. Nyai Gendhis ikut menapaki angin mengejar Ledonggowo. Keduanya kembali saling terlibat pertarungan sengit. Nyai Gendhis menyerang lebih banyak daripada Ledonggowo dan terlihat sedikit mendominasi.
"Kemana kepercayaan diri yang kau tunjukkan barusan? Ternyata hal itu hanyalah gertakan semata saja," ucap Nyai Gendhis sembari terus menyerang dan membatasi ruang gerak Ledonggowo. Ledonggowo hanya mampu terdiam dan tetap bertahan dari serangan-serangan Nyai Gendhis yang terus menerus dilancarkan kepadanya.
Ledonggowo bergerak mundur dan menjauh. Ia tahu Nyai Gendhis adalah lawan yang cukup tangguh, tetapi bukan berarti dirinya tidak bisa mengalahkannya. Ia hanya tengah memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa membalikkan keadaan sembari terus menangkis setiap serangan Nyai Gendhis. Ledonggowo berniat memancing Nyai Gendhis agar terus menerus menyerangnya sembari mencari celah kosong yang dapat ia gunakan untuk memberikan sebuah serangan balasan. Ia terus bertahan agar Nyai Gendhis berpikir telah memojokkannya dan tak bisa menyerang balik.
__ADS_1
Nyai Gendhis yang merasa telah mampu membatasi ruang gerak Ledonggowo tidak sadar dirinya mulai terjebak dalam permainan gerakan Ledonggowo. Ia terus memberikan serangannya tanpa sadar Ledonggowo terus memperhatikan gerakan tangannya demi mencari satu celah. Dan, tak menunggu lama, Ledonggowo sudah bisa mengetahui bagian mana yang menjadi celah yang dapat ia manfaatkan.
Ketika apa yang dipikirkan Ledonggowo terjadi, dan serangan Nyai Gendhis dapat ditangkisnya, ia langsung melakukan gerakan tangan dengan cepat. Memutar-mutar telapak tangannya dan memberikan serangan balasan ke arah tubuh Nyai Gendhis. Ledonggowo lalu menekankan telapak tangannya saat ia memberikan serangan balasan.
Nyai Gendhis terhempas mundur dan menahan langkah kakinya yang ikut terbawa berat tubuhnya. Nyai Gendhis pun berusaha bertumpu pada tongkat kayunya agar tetap bisa berdiri tegak. Bhuakk!! Darah segar seketika menyembur keluar dari mulutnya. Mengaliri sebagian mulutnya. Nyai Gendhis berdiri memegangi tongkat kayunya dengan kurang stabil.
"Ibu.. Ibu.." teriak putrinya, Sekarwati, yang langsung memburu ke arahnya secepat kilat. Sekarwati segera menahan tubuh ibunya agar tidak terjatuh ke tanah.
Ledonggowo memandangi Nyai Gendhis yang memuntahkan darah setelah menerima serangannya. Merasa puas karena dirinya telah mengalahkan Nyai Gendhis.
"Kau.. Apa yang sudah.." Sekarwati merasa patah hati dan dipenuhi oleh amarahnya melihat keadaan ibunya. Ia ingin segera membalaskan apa yang telah Ledonggowo perbuat kepada ibunya. Akan tetapi Nyai Gendhis langsung menangkap tangan Sekarwati dengan cepat sehingga langkahnya tertahan. Sekarwati menatap lekat wajah ibunya. Dibalik pandangan matanya, Sekarwati dapat menyimpulkan bahwa ibunya seakan berkata bahwa dirinya bukanlah tandingan seorang Ledonggowo. Sekarwati pun akhirnya mengurungkan niatnya.
Ledonggowo melangkah mendekati kudanya dan langsung menungganginya. Memandang ke arah Nyai Gendhis dan Sekarwati seraya berkata, "Nyai, aku akan sedikit berbelas kasih untuk saat ini, mengingat bahwa kita berdua bersama-sama menghadapi musuh yang sama. Akan tetapi, lain kali, aku tidak akan menahan diriku lagi jika kita harus kembali berhadapan pada suatu hari nanti." Setelah itu Ledonggowo segera memacu kudanya dan pergi meninggalkan tempat pertemuan.
Sekarwati berteriak-teriak memanggil Segara Jati agar membawa dokarnya dan mendekat.
"Nyai, apa yang terjadi?" tanya Segara Jati dengan wajah panik dan penuh tanda tanya melihat keadaan Nyai Gendhis.
"Tidak usah banyak tanya! Cepat, bantu aku menaikkan Ibuku dan kembali!"
"Ba, baik!"
Segara Jati dengan sigap membantu Sekarwati menaikkan ibunya ke dalam dokar. Kemudian Segera Jati segera menarik tali kekang untuk meninggalkan tempat pertemuan.
__ADS_1