Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Teman baik


__ADS_3

“Lihatlah, Dawul! Betapa banyaknya tanaman obat yang kita dapatkan. Pamanmu pasti akan senang sekali.” ucap Jaka penuh antusias.


“Iya, Jaka... pasti Pamanku akan sangat senang dan berterima kasih banyak pada kita,” balas Dawul dengan tidak kalah senangnya.


Keduanya segera memetik setiap tanaman obat yang mereka cari. Hingga tiba ancaman mendekati, sayangnya tak ada kewaspadaan sedikit pun diantara keduanya. Namun, Dawul merasakan firasat buruk sedang menghampiri tempat mereka.


Benar saja, seekor ular dengan ukuran cukup besar datang dengan cepatnya ke arah mereka berada. Dawul yang mengetahui hal itu segera mendorong Jaka dengan keras.

__ADS_1


“Jaka, awas! Ada seekor ular besar yang datang ke arah kita.”


Jaka yang terjatuh akibat dorongan Dawul segera bangkit. Ia segera meraih sebilah pisau yang tergeletak di tempat ia mengambil tanaman obat.


“Dawul, berhati-hatilah! Apakah kau terluka?” Jaka segera memburu ke arah Dawul yang juga terjatuh karena mendorong Jaka.


“Aku juga tak apa-apa. Ahh, ular itu datang! Cepat raih pisaumu! Mari selamatkan diri kita.”

__ADS_1


Tanpa banyak kata Dawul segera meraih pisau di dekatnya. Ular itu kembali datang ke arah mereka.


“Hati-hati, Jaka,” ucap Dawul mengingatkan. Keduanya menjadi siaga. Kedatangan ular itu begitu cepat. Mereka berusaha menghindarinya dengan cepat.


Aahhh! Dawul berteriak keras. Ular itu mengibaskan ekornya dan mengenai kaki Dawul hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh dari bukit. Dawul!! Jaka ikut berteriak keras. Suaranya lebih kencang dari teriakan Dawul. Ia hendak menolong Dawul, namun langkahnya terhenti. Ular besar itu kini mengarah ke tempatnya berdiri. “Aku harus bisa membunuh ular ini dulu, baru memastikan keadaan Dawul. Saat ini utamakan keselamatanmu terlebih dahulu,” batin Jaka. Ia segera bersiap, serangannya harus bisa lebih cepat dari serangan ular itu. Ia memasang kuda-kuda menunggu waktu dan posisi yang tepat. Ketika ular itu datang dengan cepat ia segera menghindar dan menyerang ular itu bertubi-tubi. Akhirnya ular itu kalah di tangannya. Darah ular mengaliri pisaunya. Sebagian mengenai pakaian dan tangannya. Ia tak mempedulikannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Memastikan keadaan Dawul.


Jaka segera menuruni bukit mencari keberadaan Dawul. Dawul.. Dawul.. Apa kau bisa mendengarku? Jaka memanggil temannya dengan keras berharap tahu akan keberadaannya. Jaka terus mencari sembari memanggil-manggil teman baiknya itu. Jaka mencari di bawah bukit secara keseluruhan. Namun tak ada hasil sedikit pun. Setelah berputar-putar cukup lama ia merasa kelelahan dan hendak beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon. Belum sempat terduduk, dari kejauhan Jaka melihat sepasang kaki di semak-semak. Itu pasti Dawul! pikirnya. Ia segera berlari ke arah sepasang kaki itu berada. Setelah sampai tiba-tiba tubuhnya lemas seketika. Ia tak mampu berkata apa pun, seakan lidahnya kelu dan mulutnya tiba-tiba terkunci rapat. Ia melihat Dawul, dan menemukannya dalam keadaan yang tidak disangkanya. Kedua matanya jelas melihat keadaan Dawul, namun ia sedikit pun tak ingin mempercayai apa yang dilihat mata kepalanya.

__ADS_1


Dawull! Jaka memandang temannya dengan amat sedih. Sebuah kayu ranting menancap di tubuh Dawul, tepat di area sekitar jantungnya. Jaka hanya mampu menangis sambil memanggil-manggil Dawul yang terluka di hadapannya, terduduk, lantas merangkak perlahan mendekati Dawul. Dalam tangisnya itu ia mencoba meraih tangan Dawul, satu-satunya teman yang ia punya.


__ADS_2