Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Mpu Anggar Maya jatuh sakit


__ADS_3

"Yang terakhir, hari sudah gelap! Sampai kapan kalian berdua akan terus berbicara di sini? Apa kalian berencana menunggu pagi datang kembali?"


Suara seseorang tiba-tiba menghentikan percakapan Jaka dan Mpu Anggar Maya. Suara yang tak asing di telinga mereka.


Keduanya segera mencari asal suara yang dikenalnya. Terlihatlah oleh mereka Dewi Mayasari tengah berdiri menyandarkan diri di pintu sembari mendekap kedua tangannya.


"Ini sudah saatnya makan. Apa sebaiknya aku memakannya sendiri saja?" tanyanya lagi.


"Nyimas, sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya Jaka.


"Sejak kau disamakan dengan orang bodoh." Menjawab datar. "kupikir ucapan Ayahanda ada benarnya juga."


"Kau.. Lihat saja! Aku akan membalasmu nanti!" ancam Jaka.


Dewi Mayasari mengolok-olok Jaka seolah sedang mempermainkannya.


"Guru, lihat perbuatannya itu?! Apakah pantas berbuat seperti itu?"


"Sudahlah, sebaiknya kita segera masuk ke dalam!"


"Tapi, Guru, percakapan kita masih belum tuntas."


"Kita lanjutkan nanti saja." ucap Mpu Anggar Maya. Kemudian bangkit dan berjalan masuk ke dalam padepokan.

__ADS_1


"Guru.. tunggu dulu.. Guru.." Jaka tak bisa menahan langkah gurunya yang telah berlalu masuk ke dalam padepokan.


"Ini semua pasti gara-gara kau!" Menatap Dewi Mayasari dengan tajam. "Kau pasti sengaja berbuat sesuatu seperti itu!"


"Kalau kau tidak segera bergegas, kau tidak akan mendapatkan jatah makanan." Berlalu masuk tanpa menghiraukan Jaka.


"Awas saja kau!" gumam Jaka. Ia turut masuk ke dalam padepokan.


Di ruang makan..


Mpu Anggar Maya, Dewi Mayasari dan juga Jaka Umbara tengah menyantap menu makan malam mereka.


Mereka begitu khidmat menyantap makanan masing-masing tanpa berucap sepatah kata pun.


Setelahnya, ketiganya langsung kembali dengan aktivitas masing-masing.


Jaka maupun Dewi Mayasari bergantian merawatnya. Terkadang keduanya merawat Mpu Anggar Maya bersamaan.


Suatu malam..


"Jaka, Dewi. Kalian tidak perlu menjagaku sepanjang hari. Cukup saat waktu kalian senggang atau tengah beristirahat saja," pinta Mpu Anggar Maya. Ia berucap pelan dan tak bertenaga.


"Guru, tidak usah memikirkan hal itu. Yang terpenting untuk sekarang adalah kesembuhan Guru."

__ADS_1


"Betul, Ayahanda. Kami akan senantiasa menjaga Ayahanda sebagai bakti kami."


"Aku tidak apa-apa. Lihatlah! Aku pasti hanya merasa kelelahan saja. Aku pasti akan.."


"Ayahanda.." potong Dewi Mayasari. "ini sudah hampir satu minggu lebih sejak Ayahanda terbaring. Bagaimana bisa Ayahanda merasa baik-baik saja?"


"Guru, tidak perlu dipikirkan. Aku dan Nyimas akan bergantian untuk merawat Guru." timpal Jaka


"Ya, Ayahanda tak perlu sungkan dengan kami. Kami pasti akan terus merawat sampai kondisi Ayahanda membaik."


"Baiklah, sepertinya aku akan merepotkan kalian kedepannya."


"Ini bukanlah sesuatu yang merepotkan," tambah Jaka.


"Sejak kapan kalian saling memanggil tanpa nama kalian?" tanya Mpu Anggar Maya yang melihat keduanya tak lagi saling memanggil nama masing-masing.


"I, itu.. kupikir karena kami seringkali berpura-pura menjadi adik-kakak saat berada di luar, sehingga tanpa disadari panggilan itu melekat begitu saja." papar Jaka.


"Sepertinya begitu Ayahanda," jelas Dewi Mayasari.


"Syukurlah, kalian terlihat cukup rukun!"


"A, Ayahanda, aku pamit undur diri untuk menyiapkan makanan." Tersipu dan bergegas pergi.

__ADS_1


"Jaka, duduklah! Aku ingin berbicara empat mata denganmu," pinta Mpu Anggar Maya.


Jaka menurut. Ia segera duduk di samping Mpu Anggar Maya


__ADS_2