Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Bermalam di Dusun Banggolan 3


__ADS_3

"Apakah Kanda akan cepat kembali?" Laras hendak menahan langkah Jaka agar tidak pergi.


Jaka mengusap lembut rambut Laras dan melirik ke arah Nyi Dewi sesaat sebelum ia keluar dari ruangan. "Aku akan kembali secepatnya! Kau tidurlah dahulu bersama dengan Mbakyumu, ya? Aku hanya akan pergi barang sebentar saja. Takkan lama!"


"Baiklah." Laras mengangguk dan memandangi Jaka yang sudah bersiap untuk pergi. Nyi Dewi turut mengangguk lirih diiringi tatapan canggung saat tahu bahwa Jaka sempat meliriknya.


Nyi Dewi segera mengajak Laras untuk berbaring pada hamparan tikar. Setelah itu, Nyi Dewi menyelimuti tubuh Laras yang terbaring di sampingnya dan menyelimuti dirinya. Nyi Dewi pun langsung memejamkan mata. Sedangkan Laras belum juga terpejam. Kedua matanya seakan masih enggan terpejam meski rasa kantuknya sudah terasa.


"Mbakyu?.."


"Hm?!.."


Laras menghadapkan tubuhnya agar berhadapan dengan Nyi Dewi. "Apakah Mbakyu akan senantiasa menyayangi Dinda?"


Nyi Dewi membuka matanya seketika dan menoleh ke arah Laras. "Mengapa Diajeng bertanya seperti itu?"


Laras menggeleng pelan. Sorot matanya terlihat sedikit kosong. Seakan menyiratkan sebuah kegelisahan yang menyelimuti pikirannya. "Bagaimana jika suatu hari nanti, Dinda tidak bisa bertemu dengan Mbakyu dan juga Kanda lagi? Apakah saat itu Mbakyu dan juga Kanda akan bersama-sama mencari keberadaan Dinda?" tanya Laras dengan suara pelan.


"Tenang saja! Baik Kakanda Jaka maupun Mbakyu akan senantiasa menyayangi Diajeng. Rasa sayang kami terhadap Diajeng tidak akan mungkin berubah sampai kapanpun. Kami pun akan selalu bersama-sama untuk menjaga dan juga menemani Diajeng," ucap Nyi Dewi menghapus kegelisahan yang Laras rasakan.


Laras mengangguk lirih. "Apakah Mbakyu berkenan memeluk Dinda sebentar hingga Dinda tertidur?" tanyanya menundukkan pandangan karena takut Nyi Dewi takkan mau mengabulkan keinginannya.


"Baiklah." Nyi Dewi sedikit merapat mendekati Laras dan memeluk Laras yang menghadapnya.

__ADS_1


"Seperti ini?" tanya Nyi Dewi. Laras mengangguk pelan disertai senyumnya yang mengembang.


"Sekarang, mari kita segera tidur! Bukankah Diajeng bilang sudah mengantuk?" ucap Nyi Dewi lagi mengajak Laras agar segera terlelap.


"Apa kita tidak akan menunggui Kanda kembali? Kanda bilang akan kembali secepatnya?"


Nyi Dewi tersenyum simpul dan mencubit lembut pipi Laras. "Sejak kapan Diajeng sudah mulai pandai untuk mengalihkan pembicaraan? Hm??"


Laras pun tersipu malu. Sejurus kemudian, Laras mencium lembut pipi Nyi Dewi hingga Nyi Dewi terperanjat kaget karenanya. Kemudian Laras menyembunyikan wajahnya dalam pelukan.


Nyi Dewi tersenyum melihat tingkah malu Laras setelah mencium pipinya, lalu membelai pipi Laras dengan penuh kelembutan. "Tidurlah! Jangan terlalu memikirkan banyak hal," tambah Nyi Dewi.


"Baik, Mbakyu!"


Selang satu jam kemudian, Jaka kembali masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Nyi Dewi dan Laras sudah tertidur pulas. Jaka memandangi keduanya sejenak, lalu membetulkan letak kain selimut yang sedikit terurai oleh Laras yang melepaskan pelukannya dari tubuh Nyi Dewi.


Setelah itu, Jaka mengecek seisi ruangan seperti sebelumnya. Semuanya masih terkendali, pikirnya. Jaka lalu duduk bersila di atas dipan. Terduduk di dekat kaki Nyi Dewi yang tertidur di tengah dipan dengan menghadap Laras.


Jaka memejamkan matanya seketika dan melakukan gerakan tangan. Lalu meletakkan tangan kanannya sebatas dada dengan posisi jari telunjuk dan jari tengah merapat dan berdiri tegak, ujung ibu jari bertemu dengan jari manis, dan jari kelingking tepat berada di bawah jari manis. Sementara tangan kirinya berada di bawah tangan kanan sebatas perut dengan jari-jari tangan terbuka merapat kecuali ibu jari.


Jaka memusatkan konsentrasinya. Mencoba merasakan aliran tenaga dalam yang menyebar pada seluruh tubuhnya. Biasanya, ia akan meminta Ki Pucung untuk membantunya melakukan hal yang tengah dilakukannya itu. Tetapi ia ingin mencoba untuk melakukannya dengan usahanya sendiri.


Jaka lalu membagi kesadarannya menjadi dua bagian. Satu bagian adalah dirinya sendiri. Sedangkan satu bagian lagi adalah kesadaran yang berwujud dirinya, tetapi tak memiliki raga. Jaka ingin mencoba menyempurnakan ajian Kayu Mas Jati yang telah diajarkan Ki Pucung. Ia ingin tahu, apakah ia telah mampu membuat kesadaran dirinya yang lain dapat bertahan cukup lama tanpa bantuan Ki Pucung.

__ADS_1


Saat masih melakukan pelatihan ganda dengan bantuan Ki Pucung, Jaka pernah mencoba untuk membagi kesadarannya. Namun, ia berkali-kali gagal. Ia masih belum berhasil untuk melakukannya sendirian. Kini, ia ingin kembali mencobanya dengan harapan ia akan dapat melakukannya meski tanpa adanya bantuan dari Ki Pucung.


Berbekal teknik dan juga tata cara yang diajarkan oleh Ki Pucung sewaktu masih menjalani pelatihan ajian Kayu Mas Jati di bawah bimbingan langsung Ki Pucung, Jaka akhirnya berhasil membuat kesadarannya yang lain berwujud meskipun belum bisa dikatakan sama seperti saat ia melakukannya dengan bantuan Ki Pucung.


Setelah kedua kesadarannya berhasil tercipta, Jaka segera melakukan pelatihan ganda. Jaka masih memejamkan matanya dan terus merasakan aliran tenaga dalamnya sembari berlatih dengan kesadarannya yang lain. Mencoba mengulangi gerakan demi gerakan dari ajian Kayu Mas Jati yang telah diajarkan oleh Ki Pucung kepadanya.


Entah di mana tempat yang terbayangkan dalam pikirannya itu. Jaka hanya dapat merasakan bahwa ia tengah berlatih bersama kesadarannya yang lain. Cara ini adalah yang diajarkan oleh Ki Pucung setelah Jaka menguasai penuh seluruh gerakan-gerakan dari ajian Kayu Mas Jati. Ki Pucung mengatakan langkah inilah yang terbilang cukup mudah untuk menyempurnakan ajian Kayu Mas Jati.


Jaka semakin memusatkan konsentrasinya. Gerakan-gerakan dari ajian Kayu Mas Jati hampir separuhnya sudah dilatih kembali. Namun, saat ia ingin menyela pelatihannya. Tempat yang ia bayangkan berubah menjadi gelap gulita.


Degh! Kesadaran Jaka tiba-tiba saja terpecah. Pelatihan yang tengah dilakukannya pun ikut terhenti karenanya. Kesadaran lainnya yang berhasil tercipta seketika menghilang. Jaka juga dapat merasakan aliran tenaga dalamnya yang menyebar di seluruh tubuhnya pun ikut lenyap. Jaka menghela napasnya pelan. Sepertinya batas yang bisa dikuasainya hanya sebatas ini saja, pikirnya. Hanya sekitar setengah jam terlewati sejak ia duduk bersila hingga matanya kembali terbuka.


Kesadarannya yang lain hanya mampu bertahan kurang dari waktu dua puluh menit lebih. Gerakan-gerakan dari ajian Kayu Mas Jati yang tengah dilatih kembali bahkan belum selesai. Tetapi, jauh di dalam hatinya, Jaka merasa senang. Ia tak berkecil hati bahwa di kemudian hari dirinya akan mampu melakukannya dengan sempurna tanpa kendala apapun.


Jaka menarik napasnya dalam-dalam seraya mengangkat tangan kirinya sebatas dadanya, menahannya sebentar, lalu mengeluarkannya sekaligus sembari menurunkan tangan kirinya perlahan, seperti menekan embusan napasnya agar keluar seluruhnya.


"Syukurlah, sedikit lagi aku sudah hampir bisa menguasainya!" gumam Jaka lirih.


Semilir angin terdengar sedikit kencang. Bak suara desiran angin yang berhembus di tengah-tengah padang rumput yang luas. Tak terasa waktu pun kian bertambah larut. Suara gemuruh guntur terdengar jelas meskipun suaranya tak menggelegar. Kemudian disusul oleh gemericik air hujan yang mengguyur dengan derasnya.


Jaka bangkit. Menghampiri arah jendela ruangan dan membukanya sedikit. Kini suara guyuran hujan deras terdengar begitu jelas. Suara gemuruh guntur juga terdengar sesekali diiringi oleh cahaya kilatannya yang tergambar jelas di atas langit.


"Semoga saja hujannya tak berlangsung lama," gumam Jaka kembali menutup pintu jendela. Setelahnya Jaka kembali terduduk di tempatnya semula. Jaka terduduk dengan posisi tetap bersila hingga kantuknya mulai terasa berat. Tak lama Jaka pun membaringkan tubuhnya tanpa sadar dan mulai tertidur.

__ADS_1


__ADS_2