Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Kakek tua yang dulu 1


__ADS_3

Jaka terperangah memandangi wajahnya tanpa mampu berbicara sepatah kata pun. Hanya linangan air matanya yang seolah mengatakan betapa beratnya ia menanggung beban yang dirasakannya seorang diri.


Sosok kakek tua itu hanya melempar senyum sambil menyodorkan tangannya, “Ikutlah denganku! Aku akan membuatmu mengetahui arti hidup yang sesungguhnya.”


Jaka masih terpaku memandang sosok kakek tua itu sambil berlutut di tanah.


“Anak muda, bagaimana? Apakah kau mau mengikuti ucapanku?” Sosok kakek tua itu menepuk bahu Jaka, menyadarkannya akan pandangan matanya yang kosong.


Jaka tersadar. Yang dikatakannya ada benarnya juga, pikirnya. Jaka mulai mencerna isi pikirannya sedikit demi sedikit, mencoba memahami apa yang ingin kakek tua itu inginkan darinya.


“Apakah Kakek benar-benar akan menunjukkan jalannya padaku, agar aku bisa tahu arti hidup yang sesungguhnya?" tanya jaka masih memandang wajah kakek tua itu.


“Akan kutunjukkan jalannya kepadamu. Asalkan kau mau bersungguh-sungguh.”


“Aku sudah yakin. Aku akan melakukannya. Demi ibuku, apa pun yang akan kulalui nantinya, aku akan berusaha keras melewati jalannya.”


Keduanya beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Beberapa buah yang berhasil dipertahankan Jaka ditinggalkannya begitu saja. Jaka mengikuti jejak kakek tua itu sambil sesekali menghadap ke belakang.


“Ini terakhir kalinya aku merasakan keputusasaan,” batin Jaka. Tekadnya semakin mantap. Ia ingin berusaha memulai lembaran hidupnya yang baru. membuang sifat pengecutnya demi mencari arti kehidupan seperti yang dikatakan oleh sosok kakek tua itu.

__ADS_1


Petang hari..


Jaka tengah berada di sebuah padepokan. padepokan milik kakek tua yang membantunya di saat-saat ia terpuruk dalam keputusasaannnya.


Jaka sedang membaca sebuah buku berisi ajian ditemani oleh gurunya yang tengah menulis. Tiba-tiba Jaka berhasrat ingin memperlihatkan buku yang dipegangnya kepada gurunya, seseorang yang sudah membantunya memulai lembaran baru di hidupnya.


Sosok itu merupakan seorang kakek tua pengembara dan ia menganggapnya sebagai guru. Ia sudah lulus ujian sebelum diangkat sebagai seorang murid.


“Guru, ajarkan aku tentang ajian ini.” Jaka menunjukkan sebuah buku ajian yang terbuat dari susunan bilahan bambu.


“Tahapanmu belum cukup untuk mempelajarinya. Lebih baik sekarang kau banyak-banyak melatih ajian-ajian yang telah kuajarkan kepadamu.”


“Ya, aku memang mengatakan hal itu! Tapi, aku tidak berkata kau bisa mempelajari ajian itu untuk saat ini.”


Jaka terlihat tidak senang. “Mengapa Guru baru mengatakannya sekarang,” ucap Jaka dengan cemberut.


“Kau hanya tahu protes saja. Tapi jurus ajianmu tak ada satu pun yang meningkat.”


“Itu, karena ... karena..” Jaka tak mampu memberikan alasan yang kuat untuk menyangkal ucapan gurunya itu. Ia memutar akalnya sekali lagi mencari argumen yang bisa menandingi ucapan gurunya.

__ADS_1


“Aku akan berusaha meningkatkannya. Setelah beberapa kali berlatih, ajianku pasti akan meningkat. Oleh karena itu, aku mohon pada guru, biarlah aku mempelajari ajian ini juga, ya, ya.”


“Apa kau tidak mengingat saat-saat kau akhirnya lulus dan kuanggap sebagai muridku?”


“Aku ingat! Tentu saja aku mengingatnya. Aku takkan melupakan saat-saat itu.”


“Apa yang kau dengar pada saat itu?”


“Guru mengatakan, saat manusia berada di titik bawahnya, ia sangat mudah tertelan tanah. Tapi ada kemungkinan angin bisa membawanya terbang.”


“Lalu..”


“Setelah manusia itu terbang, terkadang banyak yang kembali ke titik bawahnya, karena di atas angin tidak ada pijakan yang sekuat pijakan di tanah.”


“Dan poin akhirnya..”


“Hanya orang yang mampu mengikuti dan mempertahankan laju anginlah yang bisa berpijak meski tanpa pijakan seperti pijakan di tanah.”


“Apa kau paham makna yang terkandung dibalik ucapanku itu?”

__ADS_1


__ADS_2