Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Musibah yang tiba-tiba muncul 2


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Jaka segera dibaringkan di tempat tidur. Setelah itu Mpu Anggar Maya bersegera memeriksa keadaan Jaka.



“Ayahanda, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Dewi Mayasari cemas.



“Sepertinya dia terkena gigitan ular Trolong. Apakah kalian bertemu dengan ular yang cukup besar di perjalanan kalian?” tanya Mpu Anggar Maya pada putrinya, Dewi Mayasari. Ia lalu menyebutkan beberapa ciri mengenai ular besar itu pada putrinya.



“Ya, kami sempat bertemu dengan ular seperti itu,” ungkap Dewi Mayasari. “Jaka bilang, dia sudah mengusirnya pergi. Aku tidak menyangka kalau Jaka ... Dia...” Dewi Mayasari terisak. “Ayahanda, tolonglah! Tolong, selamatkan Jaka!”



“Kau tenang saja. Aku pasti akan mengobatinya sampai dia sembuh,” hibur sang ayah. “sekarang lebih baik bersihkanlah dirimu, biarkan aku mengobati lukanya sebentar.”



“Baik.”



Dewi Mayasari melangkah pergi. Langkahnya terasa berat. Ia melirik Jaka yang terbaring. Entah kenapa, dirinya merasa sedih melihat Jaka terbaring lemah. Seolah sebuah ikatan yang tak dapat dijelaskan telah tercipta diantara Jaka dan dirinya. Dewi Mayasari melanjutkan langkahnya, membiarkan ayahnya mengobati luka Jaka.



Di kamar Dewi Mayasari..



Dewi Mayasari yang telah membersihkan diri terlihat mondar-mandir tanpa henti. Ia merasa gelisah menunggu kabar kondisi Jaka dari ayahnya.

__ADS_1



“Apa aku tunggu saja di depan kamarnya?” gumam Dewi Mayasari. “tidak, tidak. Aku lebih baik menunggu kabarnya dari Ayahanda saja,” gumamnya lagi terus mondar-mandir. Dewi Mayasari masih belum merasa begitu tenang sebelum tahu jelas bagaimana kondisi Jaka.



“Hah! Kenapa pula aku harus memikirkan keadaannya. Itu urusan dia, aku tidak harus peduli bagaimana keadaannya.” Marah dan membenamkan diri di tempat tidur. Tak lama mengangkat wajahnya sembari bergumam, “Tapi, aku belum bisa tenang sebelum tahu bagaimana keadaannya.”



Akhirnya Dewi Mayasari sudah berdiri di depan pintu kamar Jaka, menunggu Ayahnya keluar. Bahkan setelah berpindah tempat pun, Dewi Mayasari masih mondar-mandir tanpa henti, menunggu kabar mengenai kondisi Jaka.



Dewi Mayasari membatin, “Apa sih yang sedang kulakukan? Kenapa aku bisa sampai mondar-mandir di depan pintu kamarnya?”



Selang beberapa saat ayahnya keluar dari kamar Jaka. Dewi Mayasari terburu-buru memburu ayahanya.




“Tidak, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan untuk sekarang. Dia sudah kuobati, seharusnya akan sadar dalam beberapa hari lagi.”



Dewi Mayasari terlihat bernafas lega mendengar kabar itu.



Mpu Anggar Maya bingung dengan sikap putrinya. “Lalu, mengapa kau berada di depan pintu kamar Jaka?”

__ADS_1



“Tidak ada. Aku hanya..” Merasa bingung harus menjawab apa. Pandangannya tak tentu arah.



“Apa kau sedang menungguku keluar? Ataukah kau sedang menunggu kabar Jaka dariku? Atau mungkin kau sedang mengkhawatirkan murid seperguruanmu itu?”



Mendengar pertanyaan ayahnya, Dewi Mayasari tersentak, wajahnya tersipu malu, lambat laun wajahnya mulai memerah.



“Mana ada!” Berkata dengan nada tinggi. Wajahnya bertambah merah.



“Aku tidak sedang mengkhawatirkannya! Aku.. Aku sedang menunggu Ayahanda untuk makan bersama, itu saja! Aku akan menunggu Ayahanda di ruang makan kalau begitu.” Terburu-buru pergi dengan perasaan tak menentu.



Di ruang makan..



Dewi Mayasari tengah makan bersama ayahnya, Mpu Anggar Maya. Suasana cukup hening. Tak ada sedikit pun suara dari mulut keduanya.



Setelah beberapa saat, keduanya telah selesai menyantap makan malam, kemudian Mpu Anggar Maya mencoba mencairkan suasana dengan sedikit perbincangan.


__ADS_1


“Bagaimana dengan hukuman kalian kemarin? Apakah kalian ada mengalami kesulitan?” Memandang ke arah putrinya.


__ADS_2