Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Perjalanan pulang


__ADS_3

Setelah sampai di penginapan, sesaat kemudian Jaka dan Dewi Mayasari langsung pamit undur diri kembali ke padepokan.


"Apakah kalian tidak akan menginap dahulu di penginapan?" tanya Paman Datuk begitu turun dari kudanya.


"Kami akan kembali saja ke padepokan. Kami sudah meninggalkan Guru selama beberapa hari ini, takutnya Guru akan khawatir dengan keadaan kami jika kami tidak segera kembali," jawab Jaka.


"Baiklah, kuharap kalian tidak sungkan untuk berkunjung kemari lagi."


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Paman," pamit Jaka bersiap-siap hendak memacu kudanya.


"Sampaikan salamku untuk Gurumu."


Jaka mengangguk. Kendali kuda segera ditariknya, memacu laju kudanya menuju arah padepokan.


Di padepokan tempat Jaka tinggal..


"Guru, Guru. Aku sudah kembali" Berteriak seraya memasuki ruang padepokan.


Mpu Anggar Maya yang tengah berada di ruang membaca segera menghampiri Jaka dan Dewi Mayasari yang baru saja tiba.


"Bagaimana dengan perjalanan kalian?" tanya Mpu Anggar Maya menghampiri keduanya.


"Perjalanan kami lancar. Kami juga dibantu oleh Paman Datuk. Beliau juga memintaku menitipkan salam untuk Guru."


"Rupanya kalian bertemu dengannya di tempat penginapan?!"

__ADS_1


"Betul, Guru!"


Mpu Anggar Maya manggut-manggut. Jaka segera menyerahkan barang yang dibutuhkan oleh gurunya.


"Guru.."


"Ada apa?" tanya Mpu Anggar Maya yang melihat Jaka ragu-ragu untuk menanyakan sesuatu.


"Tidak! Tadinya aku hendak menanyakan sesuatu kepada Guru. Tapi kupikir, mungkin nanti saja," ucap Jaka. "aku akan kembali ke kamarku dulu, Guru," tambahnya lagi.


"Ya, kembalilah! Istirahatkan tubuhmu! Kau pasti merasa lelah."


"Baik, Guru." Berjalan menuju arah ruang kamarnya.


Dewi Mayasari langsung memburu ayahnya, Mpu Anggar Maya, begitu Jaka pergi ke kamarnya.


Mpu Anggar Maya menangkap arti sorotan mata putrinya. Ia menghela napas. "Baiklah. Ikuti aku ke ruang membaca." Membalikkan badan menuju tempat yang dimaksud. Dewi Mayasari segera mengikuti langkah ayahnya.


Setelah sampai di ruang tempat membaca, Mpu Anggar Maya mengambil tempat duduk dan menyuruh Dewi Mayasari untuk duduk.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Ayahanda, mengapa Ayahanda mengatakan pada Paman Datuk bahwa Ayahanda tidak mempunyai seorang anak satu pun? Apa aku bukan putri kandung Ayahanda?"


"Ada beberapa hal yang tidak bisa kujelaskan padamu untuk saat ini."

__ADS_1


"Apa aku tidak boleh sedikit pun mengetahui alasan Ayahanda mengatakan itu kepada Paman Datuk?"


"Aku akan mengatakannya jika waktunya sudah tiba."


Dewi Mayasari tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia tertunduk. Entah harus marah atau tidak. Ia merasa kesal namun juga penasaran.


"Adakah hal lain yang ingin kau bicarakan lagi?"


Dewi Mayasari mengangguk.


"Katakanlah!"


"Apakah karena Ayahanda mengatakan bahwa Ayahanda tidak mempunyai anak, maka aku harus berpura-pura menjadi Adik Jaka ketika aku berada di luar padepokan?"


Mpu Anggar Maya mengangguk mengiyakan.


"Tapi kenapa harus sebagai Adiknya? Aku kan bisa berpura-pura sebagai temannya? Atau menjadi orang lain, mungkin? Kenapa harus dengan berpura-pura menjadi Adiknya?"


"Wajar saja, usia Jaka lebih tua beberapa tahun darimu. Apa salahnya kau menganggap Jaka sebagai Kakakmu?"


"Tapi, Ayahanda.."


"Sudahlah, Tak perlu kau risaukan. Segeralah istirahatkan tubuhmu. Kau pasti juga lelah karena perjalanan beberapa hari kemarin."


"Baik, Ayahanda. Aku akan kembali ke kamar untuk beristirahat."

__ADS_1


"Ya, kembalilah!"


Dewi Mayasari akhirnya berlalu pergi ke ruang kamarnya meski pembicaraannya dengan ayahnya tidak menemukan titik terang seperti yang diharapkannya.


__ADS_2