Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Beberapa waktu yang berlalu


__ADS_3

Hari silih berganti bulan, beberapa tahun bergulir tanpa terasa. Kini Jaka hampir menginjak usia 25 tahun. Tiga tahun lebih tua dibandingkan dengan Dewi Mayasari. Dan itu artinya, ia sudah berguru dan menjadi murid dari Mpu Anggar Maya selama lebih dari sepuluh tahun.


Ia sudah mulai berkembang. Beberapa ajian yang sedikit lebih tinggi mulai dipelajarinya. Ia bahkan mulai melakukan pertapaan dan mendalami Ilmu Kanuragan.


Kanuragan merupakan kesatuan ilmu fisik dan gerak, baik yang bersifat kasat atau tidak kasat mata. ilmu ini berfungsi untuk bela diri secara supranatural.


Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan menghadapi serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Terkadang ilmu ini mampu meninggikan derajat dari pemiliknya, baik yang beraliran hitam maupun putih.


Biasanya seseorang akan dianggap sebagai orang yang sakti apabila ia bisa menunjukkan ilmu kesaktian yang bersifat kasat mata.


Hari itu Jaka tengah bertapa meningkatkan kemampuannya. Ia bahkan tidak jarang melakukannya sambil berpuasa Pati Geni.


Jaka duduk dengan bersila di atas sebuah batu besar sebagai pijakannya. Ia tengah memusatkan konsentrasinya agar tidak terganggu oleh hal-hal yang ada di sekitarnya.


Wush! Sesuatu tiba-tiba datang ke arahnya dengan cepat.


Sebuah balok melayang menuju ke arahnya dari samping kirinya. tangan kanannya segera sigap menahannya sembari mengerahkan tenaga dalam.

__ADS_1


Balok itu melayang sebentar, kemudian kembali ke tempatnya dan mengenai batang pohon hingga meledak. Hal yang sama juga terjadi pada samping kanannya.


Jaka membuka mata batinnya. Ia bangkit dan berdiri meski matanya masih terpejam. Menggerakkan fisik mengikuti gerakan-gerakan yang telah dipelajarinya.


Sesaat kemudian Dewi Mayasari tiba-tiba muncul dan berniat menyerangnya.


Mata Jaka masih terpejam, tapi ia bisa merasakan kehadiran dari Dewi Mayasari.


Pertarungan tak ayal terjadi antara keduanya. Dewi Mayasari mengerahkan beberapa ajian yang dipelajarinya, mencoba menyerang Jaka tanpa ragu sedikit pun. Jaka turut membalas setiap serangan Dewi Mayasari dengan gerakan dan ajian yang dimilikinya.


Beberapa saat mereka bertarung hebat dan keduanya masih sanggup jual-beli jurus ajian masing-masing.


"Dewi, apa kau baik-baik saja?" Bertanya sembari menahan tubuh Dewi Mayasari yang hampir terjatuh.


"Tidak, aku tidak apa-apa." Memegangi tangan Jaka yang membantunya bangkit. "jurus-jurusmu semakin hari semakin meningkat saja," ucap Dewi Mayasari kemudian.


"Ini hasil dari pertapaan yang kulakukan beberapa bulan terakhir ini, jurus ini juga masih belum bisa dikatakan telah sempurna."

__ADS_1


"Padahal aura yang kurasakan barusan sungguh terasa," komentar Dewi Mayasari.


"Kuharap aku bisa segera menyempurnakan jurus ajian ini."


Diwaktu yang bersamaan, Mpu Anggar Maya datang menghampiri keduanya.


"Guru!" Terkejut melihat kedatangan Mpu Anggar Maya. "apa yang membawa Guru kemari?" tanya Jaka keheranan dengan kehadirannya.


"Aku hanya mengecek bagaimana hasil dari pertapaanmu saja," balas Mpu Anggar Maya menjawab pertanyaan Jaka. "apakah hasilnya sudah kau rasakan?"


"Aku rasa belum ada perkembangan besar, Guru," Menjawab lesu.


"Jangan bersedih. Teruslah berusaha, kau pasti akan merasakan hasilnya nanti."


"Baik, Guru. Aku akan terus berusaha." tekad Jaka dengan mantap.


Sore hari menjelang senja di beranda depan padepokan. Angin berhembus dengan belaian mesranya, mengalunkan syair syahdunya yang memikat jiwa.

__ADS_1


Jaka terduduk menatap hamparan langit yang cerah tak berawan. Ia terlihat tengah merenung memikirkan sesuatu.


Seketika Jaka terperanjat saat sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahunya.


__ADS_2