
Pagi hari. Jaka tengah melatih jurus ajian yang telah diajarkan oleh Mpu Anggar Maya, mendiang gurunya. Sementara itu, Laras dengan sepenuh hati menemani Jaka berlatih. Jaka beristirahat sejenak di tengah-tengah latihannya.
“Kanda!”
“Ada apa, Laras?”
“Tolong ajarilah aku ilmu Kanuragan yang diajarkan oleh guru Kanda, agar aku bisa menjaga diriku saat Kanda pergi berburu ke hutan.”
Mengusap kepala Laras seraya menasihati, “Belum saatnya bagimu mempelajari itu, Laras. Ketika waktunya sudah tiba, aku juga akan mengajarimu.”
“Tapi Kanda, Dinda juga ingin berlatih, supaya Dinda bisa mempunyai kekuatan, setidaknya itu yang Dinda pikirkan.”
“Kau tenang saja, Laras! Aku akan selalu menjagamu. Kau tak perlu khawatir!”
“Tapi, Kanda..”
“Sudahlah, tidak akan ada apa-apa! Kau tenang saja!”
Jaka meyakinkan Laras bahwa semuanya akan baik-baik saja. Selama ini Jaka sering melatih jurus-jurus yang telah diajarkan oleh mendiang gurunya. Ia yakin dirinya mampu menjaga Laras dengan baik.
“Kalau begitu aku pergi berburu dulu, kau baik-baiklah saja di sini. Jangan pergi ke mana pun. Ingat itu!" Jaka mengalihkan pembicaraan sambil menaiki kudanya.
“Ya sudah, Kanda berhati-hatilah! Jangan pulang terlalu malam. Aku takut ditinggal sendirian terus.”
“Ya, akan kuusahakan sore hari nanti aku sudah kembali.”
Jaka pergi dengan kudanya, menerabas jalan yang biasa dilaluinya menuju arah hutan.
Laras hanya bisa mematung mengiringi kepergian Jaka hingga tak nampak lagi dalam pandangannya.
Di kedalaman hutan, Jaka mengikat tali kendali kudanya di sebuah pohon, lalu pergi mencari buruan dengan busur serta anak panah sebagai senjatanya.
Sejauh ini tak ada buruan yang terlihat oleh pandangannya. Sepertinya mereka sembunyi di suatu tempat, pikirnya.
Ia terus mencari dan mencari hewan yang dapat diburunya, hingga tak terasa dirinya sudah masuk ke hutan agak dalam.
“Ah, aku masuk terlalu jauh!” gumamnya. Hari memang sudah hampir mendekati senja, sementara itu tidak ada satu pun hewan buruan yang berhasil ia dapatkan.
“Mungkin sebaiknya aku kembali saja,” ucapnya meyakinkan diri.
Jaka langsung memacu kudanya dengan cepat menuju arah yang biasa ia gunakan untuk pulang-pergi berburu ke hutan. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di padepokan.
Entah kenapa, tiba-tiba hatinya sedikit gusar. Mungkin sebab tidak ada satu pun hewan buruan yang didapatkannya, atau hanya sekedar firasatnya saja. Ia tak mau ambil pusing dengan keresahan di hatinya itu yang datang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
Tanpa mengikat kendali kudanya, ia pun langsung turun dari kuda dan bersegera masuk ke dalam padepokan.
“Laras, aku sudah kembali,” teriak Jaka di ruangan depan.
Tak adanya sahutan dari dalam, membuat Jaka memutuskan untuk mencari Laras ke dalam kamar.
“Laras! Laras! di mana kau?” teriaknya lagi memanggil-manggil Laras.
“Aneh! kenapa sepi sekali?” ucap Jaka. “ke mana perginya Laras?”
Jaka makin merasa tak keruan. Kemudian ia mengitari seluruh ruangan yang ada di padepokan, mencari-cari keberadaannya. Namun tak ada hasil yang memuaskan.
Ia mencoba sekali lagi mencari. Sayang, hasil yang didapat tak jauh berbeda. Ia tetap tak menemukan keberadaan Laras.
Jaka kembali keluar padepokan sembari terus memanggil-manggil Laras, namun Laras tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
"Kangmas!"
Tiba-tiba saja ia kedatangan seseorang yang tak asing di pandangannya, Nyi Dewi Mayasari, ditemani oleh dua orang yang baru saja ia lihat.
“Nyimas!” pekik Jaka. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan murid satu perguruannya yang sudah lama pergi.
“Kapan Nyimas sampai di padepokan?”
“Baru saja, belum lama. Ada gerangan apa, Kangmas? Kelihatannya kau tengah kebingungan akan sesuatu?” tanya Nyi Dewi Mayasari keheranan melihat tingkah Jaka.
“Adik perempuan?"
Jaka mengangguk.
"Setahuku Kangmas tak pernah memiliki seorang adik satu pun? Bagaimana bisa tiba-tiba Kangmas mempunyai adik?” Nyi Dewi semakin bingung dibuatnya.
“Ceritanya cukup panjang.”
“Ceritakanlah padaku! Mungkin saja aku dapat membantu Kangmas mencarinya."
“Baiklah, akan kuceritakan kesemuanya pada Nyimas. Awalnya begini..” Jaka mulai menceritakan kembali tentang bagaimana ia mempunyai seorang adik perempuan.
Ia memulainya dari sekembalinya ia dari kerajaan Suryalaya.
Satu persatu kejadian ia ceritakan dengan rinci, hingga akhirnya Jaka harus menjaga Laras yang dititipkan seorang pria paruh baya kepadanya.
“Begitulah kejadian sebenarnya, Nyimas,” terang Jaka menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
Nyi Dewi Mayasari manggut-manggut sambil terus menyimak cerita Jaka hingga akhir.
“Baiklah! Kalau memang begitu adanya, aku akan membantu Kangmas mencari adik perempuan yang Kangmas ceritakan itu."
"Ah, iya, aku lupa belum mengenalkanmu pada paman dan bibi." ucap Nyi Dewi.
"Perkenankan aku mengenalkan mereka pada Kangmas. Mereka adalah Ki Pucung dan Nyi Pucung." Menuduhkan dengan tangannya, mengenalkan dua orang yang baru dilihat oleh Jaka.
"Mereka ini yang telah membantuku saat aku berada di masa pengembaraanku. Dan kebetulan, mereka ini seperguruan dengan Ayahanda."
"Mereka sudah seperti paman dan bibiku, mereka menganggapku seperti keponakan dan keluarga mereka sendiri. Karena itu, kuharap Kangmas pun mau menganggap mereka demikian,” ucap Nyi Dewi.
“Paman, Bibi, ini Kangmas Jaka Umbara. Dia murid seperguruan denganku sewaktu mendiang Ayahanda masih hidup. Aku pernah menceritakannya kepada kalian."
Ki Pucung dan Nyi Pucung mengangguk.
"Dia adalah pewaris kerajaan Suryalaya, dan juga cucu dari Baginda Raja Baskara Nara Diningrat. Anggap saja ia seperti keponakan kalian, tak perlu sungkan,” ucap Nyi Dewi mengenalkan Jaka Umbara pada Ki Pucung dan Nyi Pucung.
“Tidak perlu dibesar-besarkan!” Menyela ucapan Nyi Dewi. “toh, aku hanyalah anak yatim-piatu. Lagi pula aku tidak suka jika disanding-sandingkan sebagai pewaris atau apalah itu,” tambah Jaka.
“Sebuah kehormatan bagi kami. Baik, Nyi Dewi, kami akan menganggap Raden Jaka sebagai bagian keluarga kami juga, sama seperti Nyi Dewi.” sambut Ki Pucung.
Ki Pucung melemparkan pandangannya kepada Nyi Pucung tanda meminta persetujuannya. Isyaratnya pun diterima dengan baik. Nyi Pucung mengangguk tanda menerima isyarat persetujuannya.
“Kiranya Raden Jaka pun sudi menerima kami sebagai saudara, sebagai keluarga,” tambah Ki Pucung.
Ki Pucung dan Nyi Pucung memberikan hormat mereka kepada Jaka.
“Paman, Bibi, bangunlah! Jangan begitu. kita ini sudah satu saudara, satu keluarga, angkatlah kepala kalian!" Jaka kelihatan canggung atas perlakuan Ki Pucung dan Nyi Pucung kepada dirinya.
Jaka menggaruk rambutnya, kebingungan bagaimana ia harus menjelaskan, seperti apa sebaiknya mereka berinteraksi.
“Erm.. itu.. a, aku tak terbiasa menerima perlakuan khusus seperti barusan, atau semacamnya. Kuharap Paman dan Bibi berlaku terhadapku seperti kepada orang biasa saja. Itu membuatku nyaman,” pinta Jaka dengan sopan.
“Baiklah. Kalau begitu, kita akan mulai mencari adik perempuan Raden Jaka saat hari sudah terang saja. Lebih baik kita beristirahat malam ini sembari mengisi tenaga untuk esok hari, bagaimana?" usul Ki Pucung.
“Kupikir lebih baik juga begitu, sebentar lagi hari mulai gelap. Bagaimana menurut Kangmas?” Nyi Dewi memandang Jaka. Menunggu tanggapannya atas usulan dari Ki Pucung.
“Ya, sebaiknya kita istirahat dulu untuk malam ini, besok kita baru berangkat.”
“Apakah hari ini Kangmas mendapatkan buruan di hutan?”
“Tidak! Aku tidak menemukan satu pun buruan yang bisa kudapatkan. Sepertinya mereka sembunyi di suatu tempat, atau barangkali mereka pergi entah ke mana.”
__ADS_1
“Untunglah, perbekalan kami ada yang tersisa! Meskipun tak banyak, setidaknya cukup untuk menu makan kita malam ini.”
Mereka segera menyantap makan malam mereka. Kemudian masing-masing dari mereka beristirahat menunggu esok hari.