
Jaka lalu mengajak Dewi Mayasari untuk pergi melihat keadaan Mpu Anggar Maya. Keduanya bergegas menuju ruang kamar dimana Mpu Anggar Maya terbaring.
Setelah sampai Dewi Mayasari menangis semakin keras. Jaka segera menghampiri Mpu Anggar Maya. Matanya terpejam. Ia tak melihat hembusan napas di tubuhnya. Kemudian mencoba meraba denyut nadi di pergelangan tangannya. Hampa. Tak terasa sama sekali.
Jaka berbalik, menghadap Dewi Mayasari. “Nyimas..” Menggeleng pertanda kabar buruk telah terjadi.
“Apakah Ayahanda..?”
Jaka mengangguk pelan. “Kita takkan bisa mengubahnya.” Tertunduk merasa sedih. “tegarkan dirimu menghadapinya,” hibur Jaka.
“Ayahanda..” Mematung dan menangis.
Jaka terenyuh melihat Dewi Mayasari yang tak percaya atas kepergian ayahnya.
Jaka mendekat, memeluknya erat sembari menghibur, “Nyimas, kalau Nyimas ingin menangis, menangislah! Jangan risau, ada aku di sisimu! Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa tenang.”
Dewi Mayasari meraung keras. Akhirnya ia menangis tersedu-sedu di pelukan Jaka.
“Tabahkanlah hatimu, Nyimas! Berdoalah semoga Guru baik-baik saja di alam sana.”
Secara tiba-tiba, beberapa murid dari Mpu Anggar Maya yang hendak mengetahui keberadaan gurunya menemukan bahwa sang guru telah menghembuskan napas terakhirnya.
Dengan bantuan mereka, Jaka kemudian menguburkan jasad gurunya. Setelah beberapa waktu berlalu, pemakaman Mpu Anggar Maya pun telah selesai dilakukan.
Di ruang depan padepokan..
Beberapa orang murid Mpu Anggar Maya yang tiba-tiba datang terlihat berbincang dengan Jaka. Sedangkan Dewi Mayasari diminta Jaka untuk beristirahat.
“Jaka, apa yang sebenarnya terjadi dengan Guru? Kenapa Guru meninggal? Terlebih kau tidak memberitahukan hal itu kepada kami?” tanya seseorang pada Jaka.
“Maafkan aku..” Tertunduk sedih.
“Kau tidak bisa menjaga Guru! Kalau tahu begini, kami tidak akan membiarkan Guru denganmu!” timpal yang lainnya.
“Maafkan aku sekali lagi."
“Kau..”
Jaka makin tersudut menghadapi ucapan dari beberapa orang yang menanyainya.
“Diam!!”
Sebuah suara tiba-tiba mengheningkan suasana sesaat.
“Apa kalian hanya bisa menyalahkannya? Guru meninggal atau tidak itu bukanlah hal yang harus diperdebatkan. Itu sudah menjadi suratannya, tidak ada kaitannya dengan Jaka,” ucap seseorang yang lebih tua diantara mereka. “kalian mengerti?”
“Kami mengerti, Kakang!” jawab orang yang menyudutkan Jaka dengan serentak.
“Jaka, ceritakanlah pada kami bagaimana hal yang telah kalian lalui semenjak kami meninggalkan padepokan?”
__ADS_1
Jaka mulai bercerita dengan panjang lebar. Tentang kedatangan Dewi Mayasari dan dikenalkan kepadanya. Lalu perjalanannya mencari bahan obat yang biasa digunakan oleh Mpu Anggar Maya. Hingga kemudian suatu hari Mpu Anggar Maya jatuh sakit dan akhirnya sang guru meninggal dunia.
"Begitulah yang telah terjadi," papar Jaka menjelaskan dengan panjang lebar.
Beberapa orang yang menyudutkannya bersegera meminta maaf pada Jaka. Tidak tahu duduk ceritanya, sehingga dengan gampangnya mereka menyudutkan Jaka.
Jaka menerima permintaan maaf mereka. "Kalian semua kan Kakak seperguruanku, selain itu kalian juga sudah lama tidak berkunjung ke padepokan. Jadi, wajar saja jika kalian berpikiran begitu," ucap Jaka.
"Lihatlah! Apa kalian tidak malu dengan sikap kalian?"
"Kami minta maaf, Kakang. Kami salah!" balas mereka bersamaan.
"Kakang, masalah ini tak perlu diungkit lagi," pinta Jaka. "bagaimana kalau kita membahas yang lain saja," usulnya.
"Kau benar! Ngomong-ngomong ke mana Dewi Mayasari pergi?"
"Aku menyuruhnya beristirahat. Dia pasti masih terpukul atas kepergian Guru."
"Baiklah, kami akan tinggal beberapa hari di padepokan untuk menemani kalian."
"Terima kasih, Kakang," ucap Jaka segan. "mari kita makan! Kalian tentunya sedikit lapar dengan menempuh perjalanan yang jauh kemari," ajak Jaka.
Jaka menuntun mereka menuju ruangan tempat makan. Menjamu mereka dengan makanan yang tersedia.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Beberapa orang yang merupakan kakak seperguruan Jaka tinggal menemani Jaka serta Dewi Mayasari selepas sang guru dimakamkan.
Dibawah pengawasan murid seperguruan yang lebih tua, Braga Sakti. Mereka ikut berlatih bersama-sama mengenang masa-masa latihan di saat guru mereka masih hidup.
"Jaka, Bagaimana latihanmu selama ini?" tanya kakak seperguruannya yang paling muda menghampiri Jaka yang tengah duduk di beranda melihat latihan kakak seperguruannya.
"Latihanku lancar. Hanya saja aku selalu berlatih dengan Dewi Mayasari, bahkan terkadang aku hanya berlatih sendirian saja," ungkap Jaka.
"Lihatlah, Kakang Braga! Bukankah dia terlihat sangat kuat! Sangatlah sulit bagi kita untuk mengalahkannya," Berucap dengan nada mengeluh.
"Loka, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Braga Sakti sembari mendekatinya.
"Kenapa kau bermalas-malasan? Apakah kau tidak lihat saudaramu yang berlatih dengan keras?" tanyanya lagi. "sepertinya kau ingin kuberi hukuman!"
"Ka, Kakang, jangan salah sangka dahulu! Aku hanya ingin mengajak Jaka untuk ikut berlatih juga. Bukankah begitu, Jaka?"
Jaka merasa bingung. Ia tidak ada niatan untuk ikut berlatih bersama. Ia menatap kakak seperguruannya yang bertanya pada dirinya.
Raut wajahnya terlihat sedikit ketakutan. Jaka menangkap hal itu. Tak ada jalan lain selain ia harus menolongnya.
"Benar, Kakang. Bolehkah aku bergabung dengan kalian?"
"Kau ingin berlatih bersama kami?"
Jaka mengangguk. Ia memandangi wajah kakak seperguruannya itu dengan tatapan yang serius. Ia ingin marah, namun tidak baik menurutnya melakukan hal itu.
__ADS_1
"Sudahlah! Kali ini, ikuti alur saja," hibur Jaka dalam hati.
"Tentu saja! Kau bisa bergabung dengan kami jika kau mau," sambut Braga Sakti.
Jaka akhirnya mau tak mau ikut berlatih bersama beberapa kakak seperguruannya. Saat sore mulai menghilang barulah sesi latihannya selesai.
"Aah, badanku terasa pegal semuanya!" gumam Jaka setelah latihannya berhenti.
"Jaka, bagaimana dengan latihan tadi?" tanya Lokadaya berjalan di sebelah Jaka.
"Ini semua karena ucapanmu itu," ketus Jaka.
"Baiklah. Aku minta maaf soal itu. Terima kasih kau sudah menolongku sehingga Kakang Braga tidak jadi marah kepadaku. Tolong maafkan aku, ya, ya!" Memelas pada Jaka.
"Lupakan saja! Lagipula kita ini saudara. Tidak baik jika kita berselisih karena hal kecil seperti itu."
"Itulah yang kusuka darimu." Menepuk-nepuk bahu Jaka sembari tertawa.
"Singkirkan tanganmu! Tanganmu sedikit kotor!"
"Tak apa, tak apa! Kita kan satu saudara. Sesama saudara harus rukun, tidak boleh saling dendam."
"Sejak kapan itu terjadi?"
"Sudah, sudah! Jangan marah! Aku akan bertarung denganmu lain kali sebagai gantinya."
Lokadaya masih tertawa di sebelah Jaka hingga keduanya masuk ke padepokan.
Setelah berselang beberapa hari, beberapa kakak seperguruannya berpamitan undur diri. Mereka berencana kembali ke daerah mereka masing-masing, beberapa ada yang kembali melanjutkan pengembaraan seperti Lokadaya dan Braga Sakti. Saat itu Dewi Mayasari turut hadir mengiringi kepulangan mereka.
"Kakang Braga, hati-hati di perjalanan!" pesan Dewi Mayasari pada Braga Sakti.
"Yang lain juga berhati-hatilah! Jangan sungkan kemari lagi jika ada waktu luang. Kami akan selalu menyambut kalian."
Braga Sakti tersenyum. Begitupun dengan kakak seperguruan yang lainnya.
"Adinda, jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera datang bila Adinda membutuhkan bantuanku."
Dewi Mayasari membalas dengan senyum dan anggukan kecil.
"Jaka, aku mempercayakan masa depan padepokan ini padamu. Jika saatnya tiba, aku akan tinggal lebih lama di padepokan ini."
"Baik, Kakang. Serahkan soal itu padaku," ucap Jaka mantap.
"Baiklah, kami undur diri," pamit Braga Sakti mewakili kakak seperguruannya yang lain.
"Ya, kalian berhati-hatilah!" pesan Jaka sebelum kakak seperguruannya benar-benar kembali memulai urusan mereka.
Jaka dan Dewi Mayasari berdiri di tepi jalan di depan padepokan, melepas kepergian beberapa kakak seperguruan mereka.
__ADS_1