Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Bertarung dengan Arya Dhanu 2


__ADS_3

Sementara itu. Di padepokan..


Diajeng, apa yang sedang kau lamunkan?”


Laras tengah duduk di beranda. Nyi Dewi menghampirinya setelah membersihkan diri.


“Mbakyu..” Menoleh ke arah asal suara.


“Apakah kau masih belum bisa merelakan Kakakmu pergi?”


“Hmm!”


“Bukankah kepergiannya baru sebentar, bahkan belum sampai setengah hari pun. Untuk apa Diajeng begitu bersedih,” hibur Nyi Dewi.


Bersedih muka. Matanya hampir berkaca-kaca. “Mbakyu..”


Nyi Dewi memandangi Laras yang hampir terisak. Merasa bersalah atas ucapannya.


“Apakah kau ingin bermain? Biarkan aku menemanimu.” Laras menggeleng pelan. “Atau mungkin kau ingin mendengarkan sebuah cerita? Aku bisa bercerita tentang sesuatu.” Berusaha Menghibur. Laras tak menanggapi, hanya memandang lurus ke depan tanpa tujuan.


Nyi Dewi terlihat kebingungan bagaimana harus merubah suasana hati Laras.


Nyi Dewi mengambil tempat duduk dekat Laras. Keduanya terdiam beberapa saat.


“Mbakyu..” Tiba-tiba Laras memanggil.


“Ya!” Membalikkan badan dan menjawab cepat. "ada apa? Apa kau butuh sesuatu? Ataukah?.."


“Dinda ingin duduk di pangkuan Mbakyu. Boleh, kan?”


“Baiklah. Kau boleh melakukannya.” Naik dan mengambil posisi duduk di belakang Laras. Terpaksa menuruti permintaannya untuk mengubah suasana hatinya.


“Apa sekarang kau masih merasa sedih?”


Laras menggeleng dan tersenyum.


“Jangan cemas! Kakakmu akan secepatnya kembali begitu urusannya telah selesai.”


Nyi Dewi mengusap lembut rambut Laras cukup lama. Laras terus tersenyum tanpa berucap kata.


“Kenapa kau terlihat begitu senang? Apa ada sesuatu yang membuatmu sesenang itu?”


“Tidak ada! Dinda terkadang sering duduk di pangkuan Kanda sewaktu Dinda hanya tinggal berdua dengan Kanda, seperti ini. Dinda hanya teringat saat itu saja. Kanda pun sering mengelus rambut Dinda ketika Dinda duduk di pangkuan Kanda seperti yang dilakukan Mbakyu sekarang.”


Berhenti mengusap-usap rambut Laras. “Be, begitukah?..”


Keduanya kembali terdiam beberapa saat.


“Mbakyu, Dinda agak mengantuk. Boleh, kan, Dinda tertidur seperti ini?”


“Tidurlah! Akan kubangunkan kau nanti.”


Laras tertidur menyandarkan dirinya pada tubuh Nyi Dewi. Nyi Dewi menemaninya beberapa saat sebelum Ki Pucung datang dan membawa Laras masuk.

__ADS_1


“Paman, terima kasih sudah membantu.” Mengikuti langkah Ki Pucung masuk ke dalam. Ki Pucung membalasnya dengan sesungging senyuman hangat.


Di saat yang sama..


Jaka masih berkutat dengan menyerang Arya Dhanu. Tetapi, serangannya kini tak lagi sama. Meskipun Arya Dhanu beberapa kali mampu mengelaknya, namun ia tidak dapat menghindari semua serangan Jaka, walaupun ia mampu membalasnya dengan serangan balasan.


Arya Dhanu tidak kehabisan akal untuk bisa mengalahkan Jaka. Ia masih mencoba kembali menyerang Jaka dengan ajiannya.


“Aku akui kau cukup hebat sebagai lawan bertarung.” Melepaskan jurus ajian. Jaka menghindarinya dengan cepat.


“Kau lumayan juga untuk kubereskan!”


“Akan kuanggap itu sebagai pujianmu.” Menangkis serangan Jaka.


Arya Dhanu memukul tanah di depannya. Tiba-tiba tanah serasa bergetar hebat dan bergoyang. Suara guntur menggelar amat kuat.


Sejurus kemudian tanah terbelah dan ada seberkas sinar yang datang sangat cepat mengarah ke arah Jaka.


Jaka terkejut, tak mungkin dirinya dapat menghindari sinar yang datang ke arahnya dengan cepat. Hanya satu yang bisa Jaka lakukan. Menahannya dengan pertahanan miliknya.


Jaka terhempas cukup jauh saat menahan sinar itu. Ia bergegas bangkit memasang kuda-kudanya sembari menerka apa yang telah terjadi.


Arya Dhanu terkapar tidak bertenaga. Ia tumbang sesaat setelah ia mengeluarkan jurus ajiannya.


Belum sempat ia menerka apa yang telah terjadi, tiba-tiba seseorang mengaburkan pandangannya dengan asap putih hingga membuat Jaka tak bisa melihat jelas.


Orang itu membawa Arya Dhanu, bahkan sebelum asap itu menghilang.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang itu?"


Jaka teringat akan sesuatu. Ia teringat hal yang baru saja dilaluinya, mengantarkan seseorang yang ditemuinya menuju Desa Runggal.


Ia bersiul memanggil kudanya mendekat. Kemudian ia bergegas menaiki kuda dan memacu laju kudanya ke tempat tujuan.


...###...


Jaka memacu kudanya cepat. Sebentar lagi ia tiba di Desa Runggal.


Karena Jaka tidak memiliki tujuan jelas, ia memutuskan untuk mendatangi kediaman Suwira dan Lasmi.


Pada saat itu, kebetulan Suwira dan Lasmi tengah berada di samping rumah memetik beberapa tanaman obat.


Melihat ada seseorang yang menaiki kuda datang ke arah kediamannya, keduanya segera menoleh dan mendapati seseorang yang mereka kenali.


"Kakang, bukankah itu Raden?"


"Kau benar. Mari, kita menyambutnya!"


Suwira dan Lasmi memburu ke arah Jaka. Menyambut akan kedatangannya.


"Raden, apa yang telah membawa Raden kemari?" Sambut Lasmi tertunduk dengan penuh penghormatan seperti saat-saat ia mengenal Jaka untuk pertama kali. Suwira ikut melakukan apa yang dilakukan Lasmi.


"Pa.. man.. Bibi, to.."

__ADS_1


Jaka terjatuh dari atas kuda. Kesadarannya hilang begitu ia sampai di tujuan. Bahkan ia tidak sempat untuk mengatakan sebab kedatangannya.


...###...


Selama sehari semalam Jaka tak sadarkan diri.


Saat Jaka membuka mata, hari sudah tidak menunjukkan waktu pagi lagi.


"Di mana ini?" Memandangi sekitarannya. Ia tidak bisa melihat sebagian ruangannya yang lain karena terhalangi tirai.


Jaka mengangkat tubuhnya bangkit. Saat ia bangkit, setiap bagian dalam tubuhnya terasa berat.


"Apa yang terjadi padaku sebenarnya?"


Seseorang masuk dan mengejutkannya. Ia menerka siapa gerangan yang memasuki ruangannya. Tirai terbuka, dan kini jelas terlihat seluruh ruangan. Ternyata Lasmi datang membawakan beberapa makanan untuk Jaka.


Jaka belum sepenuhnya mengangkat naik tubuhnya. Namun, ia tahu dengan jelas siapa yang datang menghampirinya saat itu.


"Raden, jangan memaksakan diri Raden!" Buru-buru menyangga tubuh Jaka dengan sigap. Jaka mengurungkan niatnya untuk bangkit.


"Bibi, di manakah ini?"


"Raden berada di ruang pasien kami."


"Apa yang terjadi padaku? Aku merasakan tubuhku terasa begitu berat."


"Raden tidak sadarkan diri selama sehari semalam."


"Sehari semalam?!"


"Apakah Raden tidak bisa mengingat apa yang telah Raden alami sebelumnya? Ka, kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Raden. Kami hanya tahu Raden tiba-tiba datang kemari beserta seseorang yang terluka.


Seseorang? Jaka mencoba menggali tiap ingatannya dan menemukan beberapa hal yang diingatnya.


"Benar! Di mana dia sekarang? Apakah dia masih hidup?"


"Raden tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja. Baruntung Raden membawanya kemari."


Jaka menarik napas dengan perasaan lega, seolah bersyukur membawa orang itu ke tempat yang semestinya.


"Bagaimana dengan keadaannya?"


"Dia sudah sadar, namun perlu istirahat yang cukup. Sebaiknya Raden pun banyak beristirahat hingga kondisi Raden benar-benar pulih."


"Terima kasih, Bibi sudah merawatku dan bersedia menolongnya."


"Tidak! Ini adalah kewajiban yang harus kami lakukan, bersedia merawat Raden hingga Raden pulih kembali. Kami sangat berterima kasih Raden telah membawanya kemari."


"Apakah Bibi mengenalnya?"


"Tentu saja. Dia adalah salah satu bagian keluarga kami. Sekali lagi kami berterima kasih kepada Raden yang telah menolong dan membawanya kemari."


"Ternyata kalian mengenalinya. Aku tidak pernah mengira apa yang kulakukan saat ini adalah hal yang tepat."

__ADS_1


Menunduk dengan penuh penghormatan.


"Raden, beberapa makanan telah tersaji di atas meja. Makanlah, agar kondisi Raden segera pulih. Aku undur diri dari hadapan Raden. Jika Raden membutuhkan sesuatu, Raden bisa memanggilku segera."


__ADS_2