Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Dewi Mayasari terluka


__ADS_3

Mendengar suara teriakan yang tak asing di telinganya, Jaka segera mempercepat langkahnya. Kini ia tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat yang ia tuju.


Ia melihat Dewi Mayasari sedang diserang oleh beberapa orang tak dikenal.


Tanpa banyak tanya lagi, ia segera membantu Dewi Mayasari yang terluka.


"Apa yang membuatmu begitu lama untuk datang kemari?" tanya Dewi Mayasari saat Jaka tiba-tiba datang dan menepis serangan yang datang kepadanya. "apa kau ingin melihatku terluka seperti ini?"


Jaka memandang Dewi Mayasari. Mulutnya mengeluarkan darah. Sepertinya serangan yang ditujukan kepadanya sedikit menembus tenaga dalamnya.


"Maafkan aku! Apa kau terluka?"


"Apakah aku terlihat baik-baik saja?"


"Maaf, Aku terlambat! Kenapa mereka tiba-tiba menyerangmu? Apa kau tahu mereka itu siapa?"


"Apakah itu sesuatu yang penting untuk kita bahas sekarang?"


Jaka tersentak. "Kau benar! Lebih baik kita hadapi dulu mereka bersama-sama, setelah itu baru kita bahas hal itu."


"Heh, Kisanak! Kenapa kau mencampuri urusan kami?" tanya seseorang yang gagal melancarkan serangannya pada Dewi Mayasari.


"Jika kau berani melukainya, maka kau harus membayarnya dengan harga yang mahal," ucap Jaka dengan enteng. Ia segera bersiap memasang kuda-kudanya.


"Banyak bacot! Kami tak ada urusan sedikit pun denganmu! Tapi, jika kau berniat ikut campur dan menghalangi urusan kami, jangan harap kau bisa bertemu dengan hari esok!" ancam orang itu pada Jaka.


"Aku akan membalikkan ucapanmu kalau begitu."


Jaka memulai serangan lebih dulu, Dewi Mayasari mengikuti langkahnya. Beberapa orang yang menyerang Dewi Mayasari tiba-tiba menjadi kalang kabut menghadapi serangan Jaka dan Dewi Mayasari yang menyerang bersamaan.


Beberapa orang hendak mencoba mundur, namun orang yang mengancam Jaka segera menyatukan tekad mereka, "Jangan takut! Sebentar lagi kita akan mencapai tujuan kita. Satukan kekuatan kalian! Jangan bimbang!"


Ucapannya bak sebuah cambuk keras yang digunakan untuk mencambuk kuda. Begitu orang-orang itu mendengarnya, tiba-tiba semangat mereka seketika membara.


"Oh, Rupanya kau pemimpin mereka?" tanya Jaka sembari memberikan serangan.


"Apa kau akan menyerah begitu kau tahu aku adalah pemimpin mereka?"


"Itu tak akan memberikan hasil apa pun bagiku," ucap Jaka dengan enteng.


"Sombong sekali kau! Rasakan ajianku ini!"


Jaka menangkis ajian yang ditujukan kepadanya. Ia melihat Dewi Mayasari yang tengah digempur oleh beberapa orang yang menyerangnya.


Jaka segera menuju arah Dewi Mayasari. "Sepertinya kau sedikit terdesak?!" ucap Jaka ikut menghalau serangan.


Dewi Mayasari tersenyum renyah. "Apa kau sedang kewalahan sampai-sampai kau datang kemari?"


Jaka tertawa. "Kukira kau membutuhkan bantuanku."


"Hei, jangan coba-coba lari dariku!" Seseorang yang menyerang Jaka turut mengejarnya ke arah Dewi Mayasari.


"Lihatlah! Lawanmu sedang mengejar kemari! Apa kau ingin aku melawannya juga?"


"Hei, jangan begitu! Aku ikut bertarung karena kau sedang diserang. Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak ikut membantumu?"


"Aku tidak akan berterima kasih walaupun kau membantuku."


"Kau ini.."


Pertarungan terus berlanjut, serangan demi serangan yang dilancarkan hampir menguras sebagian tenaga dalam masing-masing.


Jaka dan Dewi Mayasari masih mengerahkan serangan. Begitu pun dengan beberapa orang yang dihadapi keduanya.


Serangan-serangan yang saling bersahutan seolah menandakan siapa yang mempunyai kekuatan, dialah yang mampu berdiri tegak.


Orang yang mengejar Jaka terlihat berkomat-kamit membaca suatu ajian. Ia memfokuskan ajian itu pada kedua tangannya. Namun, Jaka tak menyadari hal itu sedikit pun.


Orang itu tiba-tiba menyerbu ke arah Jaka. melompat dengan tinggi dan mengarahkan ajian yang ia pusatkan di tangannya. "Rasakanlah ajian Munding Sekati-ku ini!"


"Awas!" Dewi Mayasari mendorong tubuh Jaka dengan cepat saat menyadari posisi Jaka dalam bahaya.


Ajian itu mengenai tubuhnya dan hampir menghabiskan tenaga dalamnya. Dewi Mayasari akhirnya terkulai lemas akibat ajian Munding Sejati yang diterimanya.


Jaka yang menyaksikan hal itu menjadi marah seketika. Ia seolah murka dan hampir mencapai puncaknya.

__ADS_1


"Beraninya kau melukainya! Kali ini kau takkan kubiarkan lolos." Mengepalkan tangan, sorot pandangannya tajam dan hawa sekitar terasa mencekam tiba-tiba.


"Hahaha, sebentar lagi dia akan mampus. Sekarang giliranmu yang kubikin mampus."


Orang itu kembali membaca ajiannya dan memfokuskannya pada kedua tangannya. Kemudian bersiap mengarahkan ajian itu pada Jaka.


Kini, beberapa orang yang menyerang Dewi Mayasari turut menyerang Jaka dan segera meninggalkan Dewi Mayasari yang terkulai tak berdaya.


Beberapa orang itu mengerahkan seluruh kemampuan mereka dalam menyerang Jaka. Namun, mereka bukanlah tandingan Jaka.


Tebasan pedang dan tusukan tombak nyaris tak dapat menyentuh tubuh Jaka. Dengan singkat Jaka mampu membuat keseluruhan dari mereka tak berdaya, sebagian mereka bahkan menemui ajalnya.


Ia berjalan dengan langkah ringan, tiba-tiba hembusan angin sedikit terasa kencang. Membuat orang yang sudah bersiap hendak menyerangnya menjadi ciut hati dibuatnya.


"A, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba desir anginnya kencang sekali? Hei, ajian apa yang kau gunakan itu?" Gemetar, merasa sedikit ketakutan.


Jaka tak membalas. Ia hanya terlihat tengah membaca suatu ajian. Terus berjalan dengan amarah yang seolah tengah meliputi dirinya.


Orang itu mencoba menyamarkan perasaan takutnya. "Ha, jangan kira aku akan takut menghadapi ajian yang kau punya."


Jaka tak menggubris. Ia terus melangkahkan kakinya. Pelan, tapi pasti.


Sejurus kemudian. Orang itu terpental jauh tatkala Jaka mengibaskan telapak tangannya ke arah orang tersebut.


"Ajianmu lumayan juga," ucapnya sambil menahan luka dalam akibat serangan Jaka. Darah keluar dari mulutnya. Ia masih berusaha menahan luka itu dengan tenaga dalamnya.


"Aku, Arya Dhanu! Aku mengakui bahwa kau adalah lawan yang tangguh untuk dihadapi. Sebutkan namamu, serta jurus yang barusan kau gunakan itu."


"Aku, Jaka Umbara. Ajian yang kau terima barusan bernama Tempur Angin. Apa itu sudah cukup meyakinkanmu?"


"Ha, sombong juga ucapanmu! Tapi aku masih belum menerima kekalahanku."


"Kalau kau bersedia mati di tanganku, aku akan memaafkan atas perbuatan kalian kepadanya."


"Kau pikir sudah menang melawanku?!"


"Buktikan saja jika kau bisa mengalahkanku! Jangan hanya banyak sesumbar."


"Baiklah. Kali ini aku akan lebih serius menghadapimu."


"Mari kita lihat. Apa kali ini kau bisa menghindari ajian Munding Sekati-ku."


Jaka terlihat lebih tenang. Ajian Munding Sekati yang diarahkan kepadanya beberapa kali masih bisa diantisipasi olehnya.


Untuk kedua kalinya Arya Dhanu terpental setelah menerima serangan ajian Tempur Angin milik Jaka.


"Hari ini, aku mengaku kalah. Aku akan mengingat nama dan juga jurus ajianmu itu. Tunggu pembalasan dariku suatu hari nanti."


Arya Dhanu melarikan diri beserta beberapa orang yang masih sanggup bertahan dari serangan balik yang Jaka berikan.


Jaka tak mengejar Arya Dhanu dan beberapa orang yang mengikuti langkahnya. Ia langsung berbalik dan memburu Dewi Mayasari yang terluka.


Jaka mencoba menggoyang-goyang tubuh Dewi Mayasari yang terkena ajian Munding Sekati. Hembusan napasnya masih terasa, tapi sedikit samar.


Jaka mencoba sekali lagi untuk menyadarkan Dewi Mayasari, namun tidak berbuah hasil. Dewi Mayasari tak kunjung tersadar. Seketika ia menjadi gusar melihatnya.


"Nyimas! Nyimas!.."


Ia berusaha sekuat tenaga menyalurkan tenaga dalamnya dengan setitik ketakutan yang terpancar di wajahnya.


Dewi Mayasari terlihat menggerakkan matanya, membuat Jaka sedikit merasa tenang karenanya.


Tiba-tiba gerakan pada mata Dewi Mayasari terhenti, seluruh tubuhnya pun nyaris tak bergerak.


Jaka mengecek hembusan napasnya dan terasa semakin samar.


Jaka menjadi gelisah dibuatnya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya agar Dewi Mayasari segera tersadar, meskipun harus membuat dirinyanya lemah, ia tidak peduli.


"Nyimas!.. Kumohon! Tetaplah hidup!" Jaka terus memanggil-manggil Dewi Mayasari. Tapi, tak ada reaksi apa pun.


"Nyimas!!"


Jaka berteriak amat kencang. Teriakannya saat itu bahkan mampu mengalahkan suara angin yang sedang berhembus.


Ia terus menyalurkan tenaga dalamnya tanpa ragu. Berharap sebuah keajaiban akan datang menghampiri.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Jaka menyalurkan tenaga dalamnya, Dewi Mayasari kembali terlihat menggerakkan matanya. Kini, gerakan itu dapat terlihat jelas oleh Jaka.


Tak berselang lama, Dewi Mayasari mulai membuka matanya.


Jaka terus menyalurkan sisa tenaga dalam yang dimilikinya. Ia terus berusaha sekuat tenaga agar Dewi Mayasari bisa bangkit.


Sedikit demi sedikit kondisi tubuh Dewi Mayasari berangsur membaik. Ia bahkan bisa mendudukkan tubuhnya.


"Nyi, Nyimas! Akhirnya kau tersadar juga," pekik Jaka terlihat senang. lantas memeluk tubuh Dewi Mayasari seketika.


"Apa yang terjadi padaku?" Bertanya dengan wajah keheranan.


"Nyimas, Kau sungguh membuatku amat ketakutan! Kenapa kau bisa begitu ceroboh?" Menyamarkan ketakutan di wajahnya. Tubuh


Jaka sedikit gemetaran.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku?"


Jaka tak membalas pertanyaan Dewi Mayasari, ia tetap memeluk tubuh Dewi Mayasari lebih lama.


Setelah merasa tenang dan kegundahannya sedikit berkurang, Jaka segera melepaskan pelukannya.


"Nyimas, apa kau tidak bisa mengingat apa yang terjadi padamu setelah mendorongku?"


"Di, di sini tak ada seorang pun yang dapat mendengarkan ucapan kita, hanya ada orang yang sudah mati. Kenapa kita masih harus berpura-pura menjadi adik-kakak? Bukankah aku juga punya nama?"


"Ah, maafkan aku! Aku hanya terbiasa. Kurasa itu sedikit akrab ketimbang menyebutkan namamu saat kupanggil." Menggaruk-garuk kepalanya.


"Kau terkena ajian Munding Sekati. Sepertinya ajian itu mampu menguras tenaga dalammu," ungkap Jaka menjelaskan yang terjadi.


"Rupanya begitu," ucap Dewi Mayasari lirih.


"siapa orang yang melakukan penyerangan barusan? Kita bahkan tidak mengenal mereka sedikit pun. Untuk apa mereka tiba-tiba datang dan menyerang kita?"


"Aku pun tak tahu pasti. Hanya saja orang yang menyerangmu barusan bernama Arya Dhanu. Sepertinya ada seseorang yang menyuruhnya untuk menyerang kita."


Dewi Mayasari terlihat manggut-manggut mendengar pemikiran Jaka. Sepertinya apa yang Jaka ucapkan sedikit masuk akal juga.


"Bagaimana dengan keadaanmu sekarang? Apa kau masih merasakan luka di tubuhmu?" tanya Jaka. "kalau kau masih belum bisa menggerakkan tubuhmu, aku akan mengobati lukamu sebentar," tambahnya.


"Tubuhku sudah lebih baik sekarang. Terima kasih sudah menolongku." Tersipu malu.


"Syukurlah! Aku tak perlu khawatir lagi kalau begitu."


"Apakah kau sedang mengkhawatirkanku? Ada apa denganmu sampai-sampai kau berkata seperti itu?"


"A, Aku.." Tersipu malu mendengar pertanyaan Dewi Mayasari. "aku hanya tidak ingin Guru cemas saja. Hanya itu." Membuang muka ke arah lain.


"Bukankah barusan kau sedikit khawatir dengan tubuhku yang terluka?"


"Tidak!" Berusaha mengelak. "Mungkin kau terlalu banyak berpikir."


"Lantas, siapa yang barusan memeluk tubuhku dan merasa ketakutan?"


"Barangkali itu hanya perasaanmu saja."


"Apa sungguh begitu?"


Jaka makin tersipu. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Baik, baik. Aku memang sedikit khawatir dengan keadaanmu barusan. Apa sekarang kau sudah puas mendengarnya?"


"Baiklah. Itu sudah cukup untuk kudengar. Tak kusangka kau memiliki sisi baik juga." Tertawa renyah mendengar ungkapan Jaka.


Jaka tiba-tiba merasa sedikit kesal. "Jadi kau pikir, selama ini aku tak mempunyai sisi baik sedikit pun, begitu?" Bangkit dan berdiri.


"Baiklah. Aku salah. Aku minta maaf jika itu mengganggu pikiranmu."


"Huh! Kali ini aku akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi." Masih merasa kesal.


Dewi Mayasari segera bangkit dan berdiri. "Kalau begitu, mari kita segera kembali!"


"Ya, aku pikir sebaiknya kita segera kembali."


Keduanya segera menaiki kuda masing-masing dan memacu kuda kembali menuju padepokan.

__ADS_1


__ADS_2