Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Menuju pasar Banggolan


__ADS_3

Jaka dan Nyi Dewi hampir sampai ke tempat yang dituduhkan oleh Barjo. Pasar Banggolan. Tinggal melewati satu dusun kecil lagi yang perlu dilalui untuk sampai di pasar Banggolan.


"Kanda, Dinda mengantuk.. tidak bisakah kita beristirahat barang sebentar saja?" keluh Laras yang tak kuasa menahan rasa kantuk yang menyerang wajahnya. Laras berjalan dengan berpegangan pada lengan Nyi Dewi. Ia beberapa kali menutupi mulutnya yang menguap.


"Bertahanlah sebentar lagi. Ya? Bukankah kita baru saja keluar dari penginapan tadi pagi? Ini bahkan belum bertemu malam!"


"Benar, Diajeng! Sebentar lagi kita akan segera sampai!"


"Tapi Dinda sudah tidak kuat menahannya lagi, Mbakyu.."


"Bagaimana jika kau naik ke punggungku agar kau bisa tertidur sebentar?"


"Hm!.." ucap Laras pasrah. Tidak ada jalan lain, pikir Laras. Setidaknya ia bisa memejamkan matanya sebentar tanpa banyak bergerak ketimbang harus berjalan sembari menahan rasa kantuknya yang terus datang.


Jaka berjongkok dan menunggu Laras naik ke atas punggungnya. Setelah Laras naik dan berada dalam gendongannya, Jaka dan Nyi Dewi segera melanjutkan langkahnya menuju pasar Banggolan.


"Apa sekarang kau sudah bisa tidur?"


Laras merebahkan wajahnya pada bahu Jaka dengan menghadapkan wajahnya ke arah Nyi Dewi yang berjalan di sebelah Jaka. Menggeser-geserkan wajahnya mencari posisi yang menurutnya nyaman. "Hm!.. Bahu Kanda terasa begitu nyaman.. Dinda ..." racau Laras dan sesaat kemudian Laras pun terlelap.


Jaka dan Nyi Dewi kembali meneruskan langkahnya. Tak terasa keduanya telah berjalan hampir seperempat jam. Di kejauhan tampak beberapa rumah penduduk yang sebagainya tertutupi oleh pohon-pohon besar.


"Kangmas, sepertinya Diajeng tidak terbiasa berpergian jauh seperti ini?" ucap Nyi Dewi mengisi kekosongan perjalanan.


"Ya. Wajar saja! Sejak ia tinggal bersamaku setelah kepergian ayahandanya, ia tidak pernah kuajak pergi ke manapun. Bahkan setelah Paman dan Bibi tinggal di padepokan kita. Laras selalu berada dalam padepokan setiap harinya. Mungkin ia hanya sedikit kelelahan saja. Lihatlah, bagaimana ia tertidur dengan begitu cepat?!" Memandang Nyi Dewi agar Nyi Dewi melihat bagaimana lelapnya tidur Laras.


Nyi Dewi tersenyum sembari memperhatikan wajah Laras yang terlelap. "Kangmas, biarkan aku saja yang menggantikan Kangmas untuk menggendong Diajeng?" pinta Nyi Dewi yang merasa Jaka telah menggendong Laras cukup lama.


"Tidak apa! Biarlah aku saja! Aku tidak ingin merepotkanmu!"

__ADS_1


Nyi Dewi mengangguk dan menusuk-nusuk pelan pipi Laras dengan telunjuknya. "Diajeng terlihat begitu menikmati tidurnya," ucap Nyi Dewi.


"Kanda.. jangan cubit pipi Dinda.. Nanti Dinda.." racau Laras sedikit terusik. Nyi Dewi dan Jaka saling pandang dan tertawa geli mendengar racauan Laras dalam tidurnya.


Setelah berjalan lebih dari setengah jam, ketiganya melewati sebuah dusun kecil. Jalanan setapak dengan beberapa kotakan sawah dan kebun memanjang di kedua sisinya terlihat begitu asri. Dedaunan nan hijau yang terlihat oleh mata di sepanjang jalanan yang dilalui oleh Jaka dan Nyi Dewi bak pemandangan yang memikat. Saat itu banyak orang yang berlalu melewati Jaka dan juga Nyi Dewi. Sepertinya mereka baru kembali dari sawah ataupun ladang mereka. Terlihat dari pakaian mereka yang sedikit berlumpur serta beberapa dari mereka membawa cangkul dan sabit di tangan mereka, serta waktu yang hampir beranjak menuju sore hari.


Senyuman yang mengembang seolah menggambarkan bahwa kehidupan mereka begitu damai dan jauh dari rasa ketakutan akan sesuatu. Mereka masih bercengkrama dengan mesra diiringi seuntai senyuman hangat dan tawa ria yang menghiasi wajah mereka.


"Kisanak! Nyisanak!.." sapa salah seorang yang terdepan di antara mereka saat berpapasan dengan Jaka dan juga Nyi Dewi. Yang lainnya tersenyum hangat ikut memberikan sapaan kepada Jaka dan Nyi Dewi meskipun tidak mengatakan apapun. Baik Jaka maupun Nyi Dewi mengulum senyum seketika seraya mengangguk lirih untuk membalas sapaannya.


"Penduduk sekitar terlihat begitu ramah, Kangmas," ucap Nyi Dewi memandangi beberapa orang yang telah jauh berlalu di belakangnya.


"Ya. Aku sependapat denganmu, Nyimas! Mereka terlihat begitu hidup rukun satu sama lain sepertinya," komentar Jaka atas ucapan Nyi Dewi. "bahkan kepada orang lain sekalipun yang mereka tidak kenal," tambah Jaka.


"Huahh!" Laras terjaga dari tidurnya. Laras merentangkan kedua tangannya dan hampir saja membuat dirinya terjatuh dari punggung Jaka. Jaka dengan sigapnya menopang Laras dan menahannya dengan tubuhnya. Laras tak ingat jika dirinya saat itu tengah berada dalam gendongan kakaknya, Jaka.


"Diajeng, berhati-hatilah! Jangan membuat Kakandamu kesusahan! Bagaimana jika Diajeng sampai terjatuh tadi?" tegur Nyi Dewi.


"Iya! Apakah kau ingin turun?" tanya Jaka.


Laras menggeleng pelan. "Dinda masih ingin Kanda gendong sebentar lagi.." ucap Laras pelan seraya mempererat kedua tangannya yang melingkar di bahu Jaka seolah merasa enggan untuk melepasnya.


Jaka pun tersenyum. "Baiklah. Aku akan tetap melakukannya, jikalau kau memang masih tetap ingin seperti ini!"


Laras tersenyum malu. "Hm!.."


"Diajeng, apakah Diajeng ingin berganti? Biarkan Mbakyu yang menggendong Diajeng saja."


Laras menggeleng enggan, lalu mengangkat wajahnya dan memandang Nyi Dewi. "Mbakyu tidak tahu bagaimana rasanya tertidur di bahu Kanda? Rasanya sungguh nyaman! Dinda malah terasa kembali mengantuk lagi," balas Laras dengan memejamkan kedua matanya. Merasakan hal yang diucapkannya kepada Nyi Dewi sejenak. "apakah Mbakyu tidak ingin merasakan bagaimana rasanya digendong oleh Kanda juga, seperti Dinda?" tanya Laras menatap Nyi Dewi.

__ADS_1


Nyi Dewi tersentak kaget. Kemudian Nyi Dewi tak sengaja beradu pandang dengan Jaka hingga membuat wajahnya sedikit tersipu.


"Tidak!!" ucap Nyi Dewi memandangi wajah Laras yang menatapinya.


"Rasanya sungguh nyaman! Coba saja Mbakyu rasakan bagaimana rasanya!" celoteh Laras.


"Mbakyu masih bisa berjalan sendiri! Lagipula Mbakyu juga tidak mengantuk!" ucap Nyi Dewi lagi membuang pandangannya ke arah lain dengan cepat.


"Mengapa Mbakyu membuang muka?"


Nyi Dewi masih memandangi arah lain, dan sesekali memandang ke depan untuk sekedar memperhatikan jalanan. Mulutnya masih enggan terbuka. Nyi Dewi tak berani membalas pertanyaan Laras. Hanya suara langkah kakinya saja yang terdengar.


"Kanda, apakah mungkin Mbakyu tidak berkenan karena Kanda tidak mau menggendong Mbakyu seperti Dinda?"


"Hm??" tanya Jaka menggumam.


"Apakah Kanda tidak mau menggendong Mbakyu, Dinda tanya?!" Berkata di dekat telinga Jaka.


"Hm.. Itu terserah pada bagaimana keinginan Mbakyumu saja."


"Bagaimana dengan Kanda? Apakah Kanda berkenan menggendong Mbakyu?"


"Mengapa kau malah jadi bertanya padaku? Kau ingin bertanya kepada siapa sebenarnya? Padaku atau Mbakyumu?" tanya Jaka sedikit tertawa dan menggodai Laras.


Laras mengangkat wajahnya seketika dan langsung memukuli bahu Jaka dengan ringan. Merasa kesal bercampur malu karena Jaka mempermainkannya. Lalu menggerak-gerakkan kakinya dengan sikap manja.


"Jangan banyak bergerak! Bagaimana jika kau terjatuh nanti?"


"Biarkan saja!" Laras membalas dengan suara ketus.

__ADS_1


Jaka tertawa geli melihat tingkah laku Laras yang merajuk. "Mengapa kau berubah menjadi kesal begitu? Apakah kau malu?"


Laras merasa enggan menanggapinya. Ia hanya terus menggerak-gerakkan kedua kakinya dalam pegangan tangan Jaka. Mulutnya membisu seribu kata. Sama seperti Nyi Dewi yang tak bersuara sedari tadi.


__ADS_2