Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Menemui Paman Datuk


__ADS_3

Saat sore tiba, Jaka dan Dewi Mayasari akhirnya bisa bertemu dengan Paman Datuk, orang yang sudah mereka tunggu semenjak datang ke penginapan.



“Paman, akhirnya aku bisa menemuimu juga,” sapa Jaka saat bertatap muka dengan Paman Datuk.



“Ah, haha. Sudah lama aku tidak pernah melihatmu. Apa kau sedikit sibuk? Ngomong-ngomong dengan siapa kau kemari? Apakah kau tidak bersama dengan Gurumu?” Membalas sapaan Jaka dengan ramah.



“Aku hampir tidak punya waktu senggang belakangan ini, Paman. Aku kemari bersama Adikku. Guru hari ini tidak bisa ikut denganku. Sebab itulah aku mengajak adikku kemari."



“Apakah Gurumu baik-baik saja?”



“Guru baik-baik saja. Beliau kadang banyak menulis dan sesekali melihatku berlatih.”



“Kau harus menjadi murid yang berbakti pada Gurumu, Jaka. Dia sudah menganggapmu sebagai anaknya sendiri.” Menghela napas, lalu meneguk sesuatu yang dikhususkan untuknya. “Dia sudah tua, sama seperti aku, sudah mulai sakit-sakitan. Apalagi dia tidak mempunyai seorang anak pun di sisinya. Aku terkadang merasa kasihan padanya. Siapa yang akan menjaganya di umurnya yang sudah tidak muda lagi.” Berpikir sembari memandang tak tentu dan membayangkan sesuatu.



Jaka mendengarkan dengan seksama. Dewi Mayasari terlihat mengerutkan keningnya saat mendengar bahwa guru Jaka yang tak lain adalah ayahnya tidak memiliki seorang anak pun. Ia hampir saja memprotes ucapan Paman Datuk, namun ditahan oleh Jaka.



“Ah, iya. Paman, ini Adikku. Nyimas, perkenalkanlah dirimu pada Paman Datuk,” pinta Jaka pada Dewi Mayasari.



“Paman Datuk, Namaku Dewi. Aku Adik Kangmas Jaka,” ucap Dewi Mayasari memperkenalkan diri dengan penuh kesopanan, berpura-pura menjadi adik perempuan Jaka.

__ADS_1



“Ah, iya, iya. Tidak usah terlalu sungkan begitu. Kalau begitu aku akan memanggilmu Nyi Dewi saja, bolehkah?”



Dewi Mayasari mengangguk. “Silahkan, jika Paman berkenan.”



“Baiklah, kalau begitu. Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu datang kemari bersama dengan Adikmu?”



“Guru memerintahkanku untuk mencari beberapa tanaman obat untuknya. Beliau agak sibuk akhir-akhir ini. Jadi Aku meminta Adikku menemaniku datang kemari untuk menemui Paman."



“Apakah Gurumu sudah tahu kalau kau akan pergi bersama dengan Adikmu untuk menemuiku?” tanya Paman Datuk.




Paman Datuk manggut-manggut. “Tanaman apa yang Gurumu butuhkan?” tanya Paman Datuk Lagi.



Jaka memberikan sebuah catatan berisi beberapa daftar tanaman obat yang dibuat oleh Mpu Anggar Maya untuk diserahkan kepada Paman Datuk.



“Baiklah, aku akan melihat dulu apakah barang yang kau butuhkan itu ada di ruang penyimpanan atau tidak. Kalian tunggulah di sini sampai aku kembali.” Paman Datuk bangkit dan pergi ke sebuah ruangan.



“Baik, Paman. Kami akan menunggumu kembali.”

__ADS_1



Dewi Mayasari bergegas mendekati Jaka. “Hei, sejak kapan kau bilang kalau Ayahanda tidak mempunyai seorang anak satu pun?” Berucap lirih.



“Aku tidak berkata begitu. Guru yang memberitahukan Paman tentang itu.”



“Tapi kenapa? Apakah aku ini bukanlah putrinya?”



“Mana aku tahu! Kalau kau ingin mengetahuinya, tanyakan saja pada Guru.”



“Kau..” Dewi Mayasari merasa kesal dengan ucapan Jaka dan hendak marah, tapi paman Datuk keburu kembali ke tempatnya, sehingga Dewi Mayasari mengurungkannya.



“Ekhm.. Kalian cukup rukun kuperhatikan. Berapa selisih usia kalian?”



“Mungkin antara tiga tahun, Paman.” ucap Jaka spontan.



“Hmm, baiklah, aku sudah memeriksa seluruh barang yang kau butuhkan di ruang penyimpanan. Semua barang yang tertera pada catatan ini ada di ruang penyimpanan, kecuali tanaman Panglai dan beberapa helai daun pohon Theutheuk,” ungkap Paman Datuk setelah beberapa saat mencari di sebuah ruangan.



Jaka terlihat sedikit kecewa setelah mendengar barang yang dibutuhkannya tidak bisa diperoleh.


__ADS_1


“Tapi aku tahu di mana kalian bisa memperolehnya,” ucap Paman Datuk


__ADS_2