
Seketika wajahnya pun memerah. Merasa malu akan posisinya saat itu.
Nyi Dewi mencoba melepas genggaman tangannya dari baju Jaka.
Bersamaan dengan itu, Jaka terjaga dari tidurnya.
Nyi Dewi menyadari Jaka terbangun. Tiba-tiba tangannya terhenti. Pandangannya bertautan dengan pandangan Jaka. Malu di wajahnya semakin tampak, membuat wajahnya kian memerah. Ia menundukkan wajahnya perlahan.
“Nyimas.. Kau akhirnya terbangun juga,” ucap Jaka dengan perasaan bahagia. Jaka belum sepenuhnya sadar akan posisinya.
Tangannya masih memeluk tubuh Nyi Dewi yang terbaring dalam dekapannya.
“Nyimas..” Jaka merasa heran Nyi Dewi tak membalas ucapannya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi. Nyi Dewi mengangguk, tapi tertunduk.
Jaka masih bingung dengan tingkah Nyi Dewi yang tak berbicara itu. Jaka berpikir, apakah efek dari ajian Kembang Seroja belum menghilang sepenuhnya, seperti yang dikatakan oleh Lembing Wuluh tadi malam.
Setelah mengetahui titik persoalan yang sebenarnya, ia pun ikut merasa malu dan canggung dibuatnya.
“Nyi, Nyimas.. ini ... bukan seperti yang terlihat. Aku bisa menjelaskannya. Aku ... aku..,” ucap Jaka terbata.
Tangannya perlahan melepas dekapannya dari tubuh Nyi Dewi.
Nyi Dewi tidak ada merespon sedikit pun. Suasana canggung yang tercipta seketika, membuat keheningan diantara keduanya menjadi sulit untuk dihilangkan.
Beberapa saat kemudian, Jaka mencoba memecah keheningan dengan ucapannya,
“Nyimas, apa Nyimas sudah bisa berdiri?”
Jaka menunggu beberapa saat. Nyi Dewi akhirnya membuka suaranya, “Kangmas, kakiku tak bisa kurasakan,” ungkap Nyi Dewi memalingkan wajahnya, menahan rona merah yang terlukis di wajahnya.
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada kakiku, atau barangkali kakiku mengalami kebas,” tambah Nyi Dewi.
“Bukankah seharusnya efeknya itu benar-benar menghilang dengan sendirinya pada esok harinya..” gumam Jaka lirih merasa kebingungan.
Nyi Dewi merasa heran saat mendengar ucapan Jaka. Ia mencoba bertanya kepada Jaka mengenai hal yang sepertinya telah ia lewatkan.
“Kangmas, apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Masih tertunduk.
“Kau telah terkena ajian Kembang Seroja.” terang Jaka menjelaskan yang terjadi.
“Ajian seperti apa itu?” Menarik tubuhnya dan sedikit mengangkat pandangan.
“Ajian itu berefek mengurangi imunitas tubuh. Kau terkena ajian itu saat kita baru saja memasuki hutan semalam.”
__ADS_1
“Apakah ada gejala yang aku alami selama itu?” tanya Nyi Dewi penasaran.
Jaka memandangi langit seolah ia sedang mengingat setiap kejadian yang dialami oleh Nyi Dewi. Ia memalingkan wajahnya merasa malu seraya menuturkan setiap hal yang diingatannya.
"Ya. Pertama tubuhmu terasa agak panas seperti demam. Lalu, ketika malam tiba, tubuhmu mendadak terasa sangat dingin. Hampir semalaman kau terus mengatakan bahwa kau kedinginan sembari meracau memanggilku," terang Jaka.
"Akhirnya, kuputuskan untuk beristirahat di sini tadi malam."
"Karena Nyimas terus betkata kedinginan, aku pun terpaksa memeluk tubuh Nyimas agar berhenti meracau, sampai tak terasa aku malah ikut tertidur bersama Nyimas,” pungkas Jaka menjelaskan yang terjadi sebenarnya.
Mendengar itu Nyi Dewi kembali merasa malu. Ia tak berani untuk menatap Jaka. Bahkan, merasa sungkan untuk berbicara dengannya.
Keduanya terdiam cukup lama.
“Nyimas, bagaimana dengan kakimu? Apa masih tak bisa kau rasakan?” Membuka percakapan untuk mencairkan suasana.
Nyi Dewi hanya mengangguk pelan.
“Baiklah. Kalau begitu, mari kita tunggu beberapa saat lagi,” usul Jaka.
Nyi Dewi menyetujuinya dengan isyarat anggukan kecilnya.
Nyi Dewi merasa gusar. Posisi tubuhnya yang sulit bergerak, membuatnya sedikit terlihat kaku.
“Nyimas, jika posisi dudukmu seperti itu terasa kurang nyaman bagimu, kau boleh bersandar lagi padaku jika berkenan.”
Nyi Dewi kembali merasakan gejolak di hatinya. Kini jantungnya mulai berdebar kencang. Kadang naik, kadang turun. Ia juga merasakan hal yang sama pada Jaka.
Meski tak menatap wajahnya. Nyi Dewi bisa merasakan debaran jantung Jaka saat itu. Malahan, debaran jantung Jaka lebih cepat dari debaran jantungnya.
Cukup lama Nyi Dewi bersandar di tubuh Jaka, hingga rasa kantuk tak terasa tiba-tiba menyerangnya.
“Ka, Kangmas, aku agak mengantuk.” Nyi Dewi tiba-tiba membuka suaranya.
“Tidurlah! Aku akan membangunkanmu nanti,” balas Jaka.
Nyi Dewi mulai memejamkan matanya.
Tanpa disadari, tangan Nyi Dewi kembali menggenggam baju Jaka. Ia terlihat tak begitu menghiraukannya.
Ia bisa merasakan genggaman tangannya yang menggenggam baju Jaka. Namun, seolah tak ingin melepaskannya, ia tetap membiarkannya begitu saja.
Jaka yang melihat hal itu tak bisa berbuat apa-apa. Debaran di jantungnya semakin menderu dan tubuhnya terasa sedikit panas.
Nyi Dewi akhirnya mulai tertidur. Jaka menantinya terbangun dengan berbagai macam perasaan yang tak menentu.
__ADS_1
Kini Jaka bisa sedikit tenang menghadapi situasinya. Detakan jantungnya perlahan kembali normal. Tak lagi berdebar-debar seperti beberapa saat yang lalu.
Jaka memandang menerawang jauh, entah apa yang ingin dipandangnya. Saat itu ia hanya teringat akan keberadaan adiknya, Laras.
“Laras, di mana kau sebenarnya?” batin Jaka.
Ia terus berharap tak ada hal buruk yang akan menimpa Laras. Jaka pasti takkan bisa memaafkan dirinya jika hal itu benar-benar terjadi pada Laras.
"Laras, tunggulah sebentar lagi, tunggu sampai aku datang. Kumohon! Tetaplah bertahan!.." ucap Jaka lirih.
Siang sudah menampakkan diri. Mentari sudah naik setinggi tombak. Jaka masih menunggu Nyi Dewi terbangun.
Keduanya terduduk di bawah pohon besar yang rindang, tanpa khawatir sengatan sinar matahari akan menerpanya, karena dedaunan yang rimbun menutupi terpaan sinar matahari ke arah mereka.
Jaka terus memikirkan keberadaan Laras. Ia amat mengkhawatirkan kondisi Laras.
Apakah Laras mengalami bahaya? Apakah ada makanan yang bisa dimakannya saat itu? Apakah Laras tak merasa ketakutan? Apakah Laras tidak menangis berada di tempat yang tak dikenalnya? Apakah..?
Meski rasa kekhawatirannya begitu besar, namun ia tak menunjukkannya ketika ia berada di depan Nyi Dewi, karena takut ia hanya akan memperkeruh suasana.
“Laras, Kumohon! baik-baiklah saja,” ucap Jaka pelan.
Beberapa waktu sudah Nyi Dewi tertidur dengan bersandar pada Jaka. Dan sesaat kemudian akhirnya terbangun.
Nyi Dewi membuka matanya. Dilihatnya hari sudah semakin siang. Tubuhnya saat itu masih menyandar pada tubuh Jaka. Ia merasa malu dan sungkan untuk menatap wajah Jaka. “Kangmas..,” ucap Nyi Dewi pelan.
Jaka terkejut mengetahui Nyi Dewi sudah terbangun dari tidurnya. “Nyimas, kapan kau terbangun?” tanya Jaka dengan wajah terkejut, debaran jantungnya pun kembali menderu. Nyi Dewi bisa merasakan itu. Jantungnya pun ikut berdebar karenanya.
“Baru saja,” jawabnya dengan pandangan tertunduk. “berapa lama aku tidur sambil bersandar pada Kangmas? tanya Nyi Dewi masih dengan pandangan tertunduk.
“Mungkin sekitar dua atau tiga jam lebih.” jawab Jaka sedikit gugup. Jaka merasakan tubuhnya semakin panas. Buru-buru ia mengganti topik pembicaraan agar tidak terlarut dalam rasa canggung, mengingat situasi yang kini dialaminya.
“Bagaimana dengan kaki Nyimas? Apakah masih tak bisa dirasakan?”
Nyi Dewi menggerak-gerakkan kakinya. kini ia bisa merasakannya dengan jelas.
“Kangmas, kakiku bisa kurasakan dengan jelas. Aku sudah bisa menggerakkannya.” Nyi Dewi menatap Jaka dengan perasaan senang.
“Syukurlah!” Jaka membalasnya dengan senyum bahagia.
Nyi Dewi tersipu melihat respon Jaka atas ucapannya. Keduanya saling memalingkan mukanya yang memerah karena bertaut pandang.
“I, itu.. Kangmas, lebih baik kita bergegas melanjutkan perjalanan kita lagi mencari di mana keberadaan Diajeng Laras.”
“Kau benar, Nyimas. Sebaiknya kita segera bergegas.”
__ADS_1
Keduanya segera bangkit. Jaka memanggil kudanya yang berada tak jauh dari tempat Jaka dan Nyi Dewi berada.
“Nyimas, naiklah!” Jaka menawarkan dua tangannya untuk membantu Nyi Dewi naik ke atas kuda. Setelahnya, Jaka turut naik ke atas kuda. Memacu kudanya dan kembali melanjutkan perjalanan.