Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Di tengah hutan 1


__ADS_3

“Kami kelompok Pedagang Daun, namaku Lembing Wuluh. Mereka semua adalah anak buahku. Jangan takut! Tak ada yang berniat jahat diantara kami!” ucap orang terdepan yang bernama Lembing Wuluh.


"Tapi, Kenapa kalian menunggu kami?"


"Salah seorang anak buahku mengatakan, bahwa seseorang telah memasuki hutan, dan sepertinya mereka berkata benar."


"Ah, kalau begitu, aku minta maaf. Aku tidak tahu jika arah masuk ke hutan ini ada yang menjaganya."


"Tak apa! Mungkin kau baru pertama kali melewati arah hutan ini."


"Lantas, kenapa kalian menunggu kami?"


“Teman wanitamu Sepertinya terkena ajian Kembang Seroja di jalan arah masuk hutan yang kami tebarkan,” sambungnya.


Jaka terkejut mendengar penuturan dari Lembing Wuluh. “Bagaimana kau bisa tahu?”


Lembing Wuluh berkata dalam hati, "Aku mana mungkin mengatakan bahwa akulah yang menyuruh anak buahku diam-diam menebarnya di sekitar arah masuk hutan."


“Khmm! Aku bisa tahu dari gejalanya.” Memandangi berbagai arah.


"Biarlah kali ini aku menolong orang ini," batin Lembing Wuluh.


“Lalu bagaimana caraku mengobatinya?”


“Itu hanya bisa dihilangkan oleh ramuan yang kami buat. Atau kau bisa menunggu hingga besok pagi sampai efeknya benar-benar menghilang dengan sendirinya”


“Lalu, kenapa tubuhnya tiba-tiba terasa sedikit panas?”


“Itu karena efeknya!”


“Apakah tidak ada gejala lainnya?"


“Selain meracau, kurasa tidak ada yang lainnya. Ajian yang kami tebarkan hanya untuk mengurangi imunitas tubuh saja, bukan untuk tujuan yang lain. Lagi pula kami melakukannya untuk menjaga area hutan ini dari orang-orang yang berniat jahat. Jadi, kau tidak perlu khawatir."


Menghela napas, lega. "Syukurlah!" ucap Jaka.


Ngomong-ngomong, dari mana asalmu? Bolehkah aku mengetahui siapa gerangan namamu?”


“Aku Jaka Umbara, seorang pengembara, dan perempuan yang bersamaku adalah Dewi Mayasari, kau bisa memanggilnya Nyi Dewi. Kami berasal dari kaki Bukit Darmalaya.”


"Bukankah tempat itu tidak terlalu jauh dari hutan ini," gumam Lembing Wuluh.


“Ke mana kiranya kau akan pergi dengan melewati hutan ini?”


“Aku sedang mencari Adikku yang diculik oleh seseorang. Aku mencari-cari di mana keberadaannya dan kebetulan arah yang kutuju melewati hutan ini.”


“Siapa yang telah menculiknya? Apa kau tahu siapa dia?”


“Aku juga tidak tahu persis. Tapi, kupikir itu adalah ulah dari kelompok Kuda Hitam yang telah menculiknya.”


"Kelompok Kuda Hitam?"


"Ya. Mungkinkah kau mengetahui sesuatu tentang kelompok itu?"


Semua anak buah Lembing Wuluh saling berbisik mengenai kelompok Kuda Hitam. Kemudian seorang anak buahnya berbisik kepadanya.


Lembing Wuluh manggut-manggut, lalu kembali ke percakapannya dengan Jaka.


“Aku tahu kelompok itu. Walaupun belum pernah bertemu mereka secara langsung, tapi aku beberapa kali sempat mendengar dari beberapa orang kalau kelompok Kuda Hitam selalu bertindak kasar dan kejam,"


"Di mana markas mereka berada?"

__ADS_1


"Sepertinya berada di sisi lain hutan ini, setahuku. Aku pun tak yakin bahwa itu memang markas mereka?"


"Tak apa! Setidaknya aku memiliki tujuan untuk mencari keberadaan Adikku."


"Apa kau hendak pergi ke sana sendirian?" Bertanya dengan nada cemas.


"Ya. Tidak ada jalan lain. Biarlah, aku akan pergi bersamanya saja."


"Tidakkah kau akan membutuhkan bala bantuan untuk menghadapinya?"


"Aku tidak bisa terlalu merepotkan. Aku sangat berterima kasih kau menunjukkan di mana keberadaan mereka. Itu sudah lebih dari cukup untukku."


"Aku takut keselamatan Adikmu berada dalam bahaya. Kalau kau membutuhkan bantuan, kami akan bersedia membantu”


“Terima kasih. Aku akan memintanya bila aku perlu bantuan dari kalian,” balas Jaka menyambut tawaran Lembing Wuluh.


“Apa kau tidak perlu mengobati temanmu terlebih dahulu?”


“Ya, selama keadaannya tak mengancam keselamatanya, kukira tidak ada salahnya. Biarlah efeknya itu menghilang dengan sendirinya. Kalau begitu aku akan kembali melanjutkan perjalananku.”


“Begitu rupanya! Baiklah, kalau seperti itu. Berhati-hatilah dalam perjalananmu. Ingat! Katakan saja jika kau memerlukan bantuan, kami akan siap membantumu.”


“Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Jaka.


“Pergilah! Ingatlah untuk tetap waspada!” ucap Lembing Wuluh membalasnya.


Jaka memacu kudanya dan meninggalkan Lembing Wuluh beserta anak buahnya, kembali melanjutkan perjalanannya.


Salah seorang anak buah Lembing Wuluh mendekati Lembing Wuluh dan berbisik setelah Jaka berlalu pergi cukup jauh


“Kakang, tadi Kakang lupa mengatakan, kalau dia menunggu efeknya menghilang dengan sendirinya, akan membuat tubuh wanita itu merasa kedinginan."


“Apa kalian tidak ingat kalau aku ini orang yang mudah lupa?”


Seluruh anak buahnya tidak ada satu pun yang berani menjawab pertanyaannya.


Lembing Wuluh hanya bisa pasrah sambil menghela napas, "Sudahlah! Semoga saja tak terjadi apa pun padanya! Mari, kita kembali!"


Lembing Wuluh bergegas meninggalkan tempat itu diikuti anak buahnya menuju markas mereka.


Jaka masih memacu laju kudanya dengan pelan memasuki hutan.


Malam semakian larut, Nyi Dewi tertidur dengan tenang menyandar pada tubuh Jaka. Sesekali terdengar suaranya yang memanggil-manggil Jaka.


Jaka hanya terdiam sembari terus memacu laju kudanya perlahan. Ia tahu persis, hal itu pasti karena efek dari ajian Kembang Seroja yang belum hilang sepenuhnya.


“Ternyata memang benar, efeknya harus menunggu sampai besok pagi agar benar-benar hilang..” ucapnya lirih.


“Kangmas.. dingin..” Nyi Dewi meracau. Tubuhnya kini terasa dingin.


Jaka terlihat kebingungan saat mendapati perubahan suhu tubuh yang dialami Nyi Dewi.


“Apakah ini efek lain dari ajian Kembang Seroja?” gumamnya.


Jaka terpaksa menghentikan laju kudanya setelah beberapa ratus meter, karena suhu dingin di tubuh Nyi Dewi semakin terasa. Nyi Dewi juga terus memanggil-manggil Jaka.


Jaka turun dari kudanya, menggendong Nyi Dewi yang merasa kedinginan dalam pangkuannya.


"Sebaiknya malam ini kita istirahat dulu saja, besok pagi baru kita melanjutkan perjalanan lagi." Bergegas mencari sebuah tempat untuk beristirahat.


“Kangmas.. tolong aku! Dingin..” racau Nyi Dewi menggenggam erat baju Jaka.

__ADS_1


Secara Fisiologis, saat tubuh kedinginan, maka perlu sesuatu yang hangat untuk mengurangi rasa dingin tersebut. Dan bila mana tidak ada benda penghantar panas, maka suhu tubuh bisa menggantikannya.


Jaka mengetahui hal itu. Namun, dirinya merasakan ada sedikit rasa kecanggungan untuk melakukannya.


“Kangmas.. tolong! Dingin.. aku.. dingin..” Nyi Dewi kembali meracau untuk yang ke sekian kalinya, sehingga membuat Jaka mau tak mau harus melakukannya, saling membagi kehangatan melalui suhu tubuh.


Jaka duduk di bawah pohon besar sambil mendekap tubuh Nyi Dewi yang bersandar di tubuhnya. Memandangi wajahnya yang meringis karena kedinginan.


Cukup lama Jaka memandangi wajah Nyi Dewi hingga membuat wajahnya tiba-tiba memerah.


“A, apa yang kupikirkan?” Berusaha untuk menguatkan kesadarannya agar tak hilang kendali.


“Kangmas.. dingin..” Nyi Dewi meringis, tak kuasa menahan rasa dingin yang ia rasakan.


Dengan wajah yang memerah, akhirnya Jaka memberanikan diri mendekap tubuh Nyi Dewi lebih erat, agar bisa merasakan kehangatan di tubuhnya, dan sepertinya hal itu lumayan ampuh.


Nyi Dewi mulai terlihat tenang dalam dekapan Jaka. Racauannya kadang masih terdengar meski agak samar.


Jaka terus berjaga dengan semampunya, menjaga Nyi Dewi yang bersandar dalam pangkuannya.


Tanpa terasa, semakin lama rasa kantuk mulai menyerang matanya. Terasa berat, dan semakin berat, hingga membuat Jaka ikut tertidur bersama Nyi Dewi.


Di saat yang bersamaan..


Tempat apa ini? Bukankah aku melakukan perjalanan dengan Kangmas Jaka! Kenapa aku bisa berada di sini?


Kangmas! Kangmas! Di mana kau? Apa kau bisa mendengarku?


Nyi Dewi terus memanggil Jaka dengan suara yang keras, berharap ia akan dapat menemukannya.


“Aneh sekali!? Kenapa tak ada siapa pun di sini?” gumam Nyi Dewi keheranan.


Dari kejauhan, samar-samar terlihat dua sosok seperti sosok manusia yang berdiri, sebagian tubuhnya terselimuti oleh kabut.


“Hei, siapa kalian? Apa kalian mendengar suaraku?” Nyi Dewi berlari dan mengejar sosok itu. Tiba-tiba saja sosok itu lenyap dari pandangannya.


“Ke mana perginya mereka?”


Nyi Dewi memutar pandangan, mencari di mana keberadaan sosok itu, kemudian mendapati sosok itu berada di sisi lain.


Nyi Dewi Lantas kembali mengejar sosok itu. Tapi sosok itu lagi-lagi menghilang entah ke mana.


Nyi Dewi terus mengejarnya sambil berlari tanpa henti, dan seketika saja ia terjatuh ke dalam lubang besar yang gelap.


“Ah! Kangmas, tolong..”


Nyi Dewi membuka matanya, dan waktu telah berputar dengan cepat.


Pagi sudah menampakkan diri. Nyi Dewi mengusap matanya agar pandangannya terasa lebih jelas.


Betapa terkejutnya ia demi apa yang telah dilihatnya. Ia mengusap-usap matanya lagi dan memastikan apa yang dilihatnya bukanlah hal yang nyata.


Kini ia berada dalam dekapan Jaka. Yang lebih mengejutkannya lagi, tangan kirinya memegang erat baju Jaka.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Berucap lirih. Merasa bingung.


Ia berusaha mengingat hal yang mungkin dapat diingatnya kembali. Tapi, tak ada satu pun bayang ingatan yang terlintas di pikirannya.


"Kenapa aku tidak bisa mengingat kembali ingatanku dengan jelas!" batin Nyi Dewi.


Ia ingat bahwa semalam dirinya sangat mengantuk dan mulai tertidur. Namun, ia tidak menyangka dirinya akan tertidur pulas semalaman. Terlebih, tidur dalam dekapan Jaka.

__ADS_1


__ADS_2