Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Upaya pencarian obat untuk guru


__ADS_3

Setelah selesai menyantap makanannya, Jaka segera pergi ke Desa Wangun untuk menemui Paman Datuk guna mencari persediaan bahan racikan untuk membuat obat yang biasa ia cari pada Paman Datuk.


"Jaka, tidak biasanya kau kemari. Hal pa yang membuatmu datang berkunjung?"


"Paman, Guru sedang terbaring sakit. Apa barang yang biasa kubutuhkan itu masih tersisa?"


"Aku akan mengeceknya sebentar. Kau duduklah dulu, tunggu aku kembali," pinta Paman Datuk seraya berlalu pergi ke ruang penyimpanan bahan-bahan obat.


"Baik, Paman. Terima kasih atas bantuan Paman."


"Tak usah sungkan. Kau bukanlah orang luar di sini."


Jaka menanti Paman Datuk sembari terus berdoa, berharap apa yang dibutuhkannya masih bisa ia dapatkan.


Tak lama Paman Datuk kembali menemui Jaka.


"Bagaimana, Paman?" Bangkit seketika menyambut Paman Datuk yang kembali. "apakah masih ada yang tersisa?"


Paman Datuk menghela napas. Menjawab dengan berat hati, "Maaf, tidak banyak yang tersisa. Bahan inti yang biasa kau gunakan itu tidak ada yang tersisa. Hanya tinggal bahan-bahan pendukungnya saja, Itu pun tidak banyak," ungkap Paman Datuk.

__ADS_1


"Aku tidak sempat mengecek barang di tempat persediaan beberapa hari kemarin. Kalau tahu akan seperti ini, aku pasti tidak akan lebih awal mempersiapkan bahan-bahan itu," sesalnya.


Jaka sedikit kecewa saat Paman Datuk mengatakan bahan yang dibutuhkan oleh nya tidak tersedia lagi.


"Tak apa, Paman. Aku bisa memaklumi hal itu. Aku akan mengambil bahan tersebut, sisanya nanti akan kucari di tempat lain," ucap Jaka.


"Cobalah kau pergi ke Desa Runggal. Mungkin saja mereka masih mempunyai persediaan yang tersisa," usul Paman Datuk pada Jaka.


"Baik, Paman. Besok aku akan mencoba mencari bahan yang kubutuhkan di tempat mereka."


"Kalau begitu, aku akan persiapkan bahan yang akan kau ambil. Tunggulah, aku akan kembali!"


Jaka mengangguk. "Guru, tenang saja! Aku akan mencari obat agar guru bisa cepat sembuh," batin Jaka.


"Raden, ada apa gerangan tiba-tiba Raden datang berkunjung kemari?" tanya Suwira begitu tahu Jaka tiba di gubuk kecilnya.


Suwira dan Lasmi memberikan hormat seperti yang pernah mereka lakukan dulu saat Jaka pertama kali singgah di rumah mereka. Kali ini Jaka tidak menolak penghormatan mereka terhadapnya.


"Paman, Bibi, aku sedang membutuhkan bahan obat yang tempo hari kudapatkan saat berkunjung kemari. Apakah bahan itu masih ada yang tersisa?"

__ADS_1


"Masuklah dulu! biar kucarikan barang yang Raden butuhkan!," pinta Lasmi pada Jaka.


"Kakang, sebaiknya kau temanilah Raden! Biarkan aku yang mencari barang yang dibutuhkannya."


Suwira mengangguk. Kemudian mengajak Jaka masuk ke dalam. Sementara Lasmi dengan sigap langsung mencari bahan yang sedang dibutuhkan oleh Jaka.


"Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada guru Raden?" Bertanya dengan segan.


"Beliau sedang kurang sehat. Penyakitnya lamanya datang kembali," balas Jaka.


"Sakit apa yang guru Raden derita itu?"


"Sepertinya Guru menderita luka dalam yang cukup parah. Aku mendengarkan ceritanya sebelum datang kemari. Luka itu akibat pertarungan yang dialaminya," terang Jaka.


"Pantas Raden mencari bahan-bahan kemarin hingga sampai ke gubuk kami," komentar Suwira saat mendengarkan penuturan Jaka.


Lasmi telah kembali menemui Jaka dan suaminya, Suwira, setelah beberapa saat mencari bahan obat.


"Raden, maafkan kami! Hanya ini yang kami punya," sesal Lasmi, menunjukkan tiga lembar daun Theutheuk.

__ADS_1


Jaka mengalami hal yang sama seperti saat berbicara dengan paman Datuk. Namun ia tetap bersyukur, setidaknya upaya yang telah ia lakukan berbuah hasil meski tidak besar.


"Untuk bahan lainnya kami tidak memiliki persediaannya. Mohon maafkan kami!"


__ADS_2