Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Bertarung dengan Arya Dhanu


__ADS_3

Kuda yang Jaka tunggangi berpacu dengan cepat. Jaka memacu kudanya lebih cepat lagi.


Di pertengahan jalan saat Jaka menuju ke istana kerajaan, ia melihat ada seseorang yang berjalan dengan gontai, sepertinya ada seseorang yang mengejarnya. Orang itu terlihat mengalami luka cukup parah. Ia bahkan berjalan dengan langkah yang memaksakan diri.


“Kisanak, tolong..”


Jaka menghentikan laju kudanya seketika. Ia memandangi orang itu. Ada semacam perasaan yang tidak asing pada wajahnya. Seperti ia telah mengenal sosok seseorang itu di suatu tempat.


Turun dari kuda dan menghampiri. “Apa yang terjadi?”


“Aku diserang oleh seseorang,” ucapnya.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa tidak asing dengan wajahmu,” tanya Jaka.


“Apakah kita sungguh pernah bertemu?” Balik bertanya dengan nada keheranan.


“Lupakan saja soal itu! Kita harus pergi dan membawamu ke suatu tempat untuk mengobati lukamu.”


“Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi..” ujarnya.


“Baiklah, aku akan mengantarmu. Apakah kau tahu suatu tempat yang mungkin bisa kita tuju?”


“Tolong.. bawa aku ke Desa Rungg.. gal..” pintanya sebelum kesadarannya hilang.


“Hei! Katakan dengan jelas! Ke mana aku harus membawamu?”


"Aku tidak tahu dengan jelas daerah itu." Jaka membatin, tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu.


"Sudahlah. Mungkin aku tanyakan pada Paman Suwira dan Bibi Lasmi saja. Mereka pasti tahu ia tinggal di mana." Bergumam sembari menaikkan orang itu di atas kuda.


Jaka segera menarik kendali kuda. Pergi ke tempat yang dimaksud.


Masih dalam perjalanannya menuju Desa Runggal, beberapa saat kemudian Jaka kembali menghentikan laju kudanya. Jaka menarik kendali kudanya cukup kencang karena terkejut seseorang tiba-tiba berdiri menghadang jalannya, sehingga kudanya meringkik amat keras karenanya. Padahal, perjalanannya itu belum lama berselang.


“Siapa kau? Apa yang kau inginkan?”


“Aku tidak ada urusannya denganmu. Kau serahkan saja orang yang bersamamu itu, dan aku akan melepaskanmu begitu saja.”


“Apa untungnya bagiku menyerahkannya kepadamu?”


“Kau tidak perlu tahu soal itu. Turuti saja apa permintaanku, lalu aku akan biarkan kau pergi. Bagaimana?”


“Dan jika aku tidak mau?”


“Terpaksa aku harus menghabisimu saat ini juga.”


“Baiklah, aku memilih yang terakhir kalau begitu,” tegas Jaka.

__ADS_1


"Bedebah! Cari mati!"


Orang itu menyerbu seketika. Jaka sadar akan posisinya. Ia lantas menghentakkan kakinya agar kuda yang ditungganginya pergi menjauh membawa serta seseorang yang bersamanya. Kemudian ia meloncat dari atas kudanya dan bersiap menghalau serangan yang datang.


Jaka dengan cepat menghindari serangan orang yang menghadang jalannya sembari berbalik dengan cepat dan menyerangnya.


“Sepertinya aku pernah bertarung dengan orang ini sebelumnya,” batin Jaka. “tapi, siapa sebenarnya dia?”


Orang itu merapalkan suatu mantra ajian pada tangannya.


Dengan cepat orang itu datang menyerang sembari melayangkan pukulannya, namun dengan sigap Jaka mampu menangkisnya.


Orang itu berusaha melayangkan kembali pukulannya. Kini, hampir saja mengenai Jaka. Jaka cepat menghindarkan diri dan memberikan serangannya.


Dua tiga pukulannya dapat dihindari oleh Jaka. Tapi serangan Jaka tak ada satu pun yang dapat mengenainya.


Jaka terkena sebuah pukulan di dadanya dan terhempas cukup jauh, namun masih bisa menahan dirinya agar tidak tumbang.


Meskipun Jaka terjatuh karena menerima sebuah pukulan di dadanya, tapi serangan dari orang itu tidak memberikan efek yang besar pada tubuhnya.


Jaka akhirnya teringat. Ia tahu siapa orang yang kini tengah berhadapan dengannya.


"Ya, kini aku tahu siapa dia sebenarnya," ucap Jaka dalam hati.


"Seranganmu lumayan juga." Jaka bangkit dan bersiap untuk kembali menyerangnya. "kita bertemu lagi rupanya," ucap Jaka.


"Katakan! Siapa kau? Apa kita mempunyai urusan sebelumnya?"


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa tahu namaku?"


"Apa kau tidak mengingat pertemuan kita yang terakhir? Sepertinya kau melupakan pertemuan kita begitu saja. Haruskah aku mengingatkanmu pada pertemuan kita?"


"Aku tidak ingin mendengarkan bualanmu itu. Selama kau menghalangi jalanku, aku tidak akan ragu untuk menghabisimu!"


"Baik. Mari, kita buktikan ucapanmu!"


"Banyak bacot! Mati saja kau!"


Jaka mulai melancarkan serangannya. Kini ia yang mulai menyerang lebih dulu. Desir angin sedikit berhembus kencang. Arya Dhanu kehilangan keseimbangannya. Jaka dengan mudahnya memberikan serangan kejutan.


Melihat kesempatan yang tidak bisa disia-siakannya, Jaka menghempaskan tubuh Arya Dhanu dengan ajian miliknya.


"Apa kau telah mengingatku?" Melangkah mendekati Arya Dhanu.


Arya Dhanu terhempas jauh terkena ajian Tempur Angin, namun ia masih berdiri.


"Mana mungkin aku bisa melupakan ajian ini begitu saja. Butuh waktu lama bagiku agar bisa pulih kembali saat aku terluka karena ajianmu itu."

__ADS_1


Jaka terus berjalan dan mendekat.


"Sekarang aku mengingatmu dengan jelas. Jangan kira kali ini kau akan menang, Jaka Umbara!" Sungut Arya Dhanu.


"Aku sudah mempersiapkan diriku untuk membalasmu. Tidak kusangka kau datang sendiri ke hadapanku. Kali ini, kau harus mati di tanganku."


"Itu masih belum tentu. Bisa jadi kaulah yang akan mati di tanganku kali ini."


Keduanya kembali beradu ajian masing-masing. Saling memberikan serangan dan menghindar.


Keduanya beberapa kali berpindah tempat bertarung. Sejauh ini, keduanya belum ada yang terkena serangan setelah sama-sama terhempas.


Tiba-tiba Arya Dhanu melihat ada seekor kuda di belakang sebuah pohon. Ia juga melihat orang yang tengah dikejarnya ada di punggung kuda itu. Terbaring dan tidak sadarkan diri.


Arya Dhanu langsung bergegas menuju ke arah dimana kuda Jaka berada. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Akhirnya, aku mendapatkannya juga.." Berkata lirih. Ia terlihat amat senang saat ia merasa selangkah lebih dekat dengan apa yang ditujunya.


Swuiittt! Swuiittt! Suara siulan Jaka tiba-tiba saja mengagetkan Arya Dhanu. Arya Dhanu melihat kuda Jaka pergi menjauh ketika mendengar suara siulan Jaka.


"Sialan!" Membatin kesal.


"Lawanmu ada di sini. Kenapa kau terlihat sibuk mencari-cari seseorang yang tidak berdaya?"


"Sepertinya memang harus membereskan dia dulu sebelum mendapatkannya," ucap Arya Dhanu dalam hati.


"Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Sepertinya tidak ada cara lain selain aku harus menghabisimu terlebih dahulu."


"Aku sangat siap untuk meladenimu. Aku masih belum puas membereskanmu atas apa yang telah kau lakukan padanya hari itu."


"Ha! Besar juga ucapanmu. Kita buktikan, siapa yang terkuat diantara kita!"


Di suatu tempat. Pada saat yang sama..


Ledonggowo terlihat mondar-mandir tak menentu. Menunggu seseorang keluar di depan sebuah ruangan.


Beberapa saat kemudian, seorang kakek tua keluar dari dalam ruangan tersebut.


Memburu dengan cepat. "Ki, bagaimana keadaannya?"


Menggelengkan kepala. "Masih belum ada tanda-tanda akan kesadarannya."


"Apakah dia masih bisa diselamatkan?"


"Kau tenang saja! Ajian Serat Putih pasti bisa menyadarkannya kembali."


Ledonggowo hanya mengangguk. Ia masih belum bisa merasa tenang.

__ADS_1


Berusaha menyembunyikan perasaannya. "Baiklah, Ki. Aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku akan kembali lagi untuk mengetahui keadaannya."


Ledonggowo pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedihnya yang belum hilang.


__ADS_2