
Aah! Dewi Mayasari berteriak merundukan kepalanya. Jaka mendekati Dewi Mayasari setelah berhasil membunuh dan membuang ular itu.
“Ahh! Jangan mendekat!”
“Ini, aku! Ularnya sudah kujauhkan. Tak ada yang perlu ditakuti lagi.”
Dewi Mayasari membuka matanya dan melihat ke sekitaran. Benar saja, ia tak melihat keberadaan ular itu lagi.
“Benarkah? Ke mana perginya ular itu?” tanyanya masih merasa ketakutan.
“Ya, ular itu sudah pergi jauh! Sekarang sudah aman. Kita bisa melanjutkan perjalanan kita mencari tanaman obat lagi,” jawab Jaka. “Mari, kita lanjutkan pencarian kita!” ajaknya pada Dewi Mayasari.
Dewi Mayasari tak menjawab. Ia bangkit dan mulai mengikuti langkah Jaka.
“Tetaplah di belakangku,” pinta Jaka.
__ADS_1
Senja hampir menjelang. Beberapa tanaman yang dicari sudah berhasil didapatkan, meski sebagian lainnya masih belum diketemukan. Jaka dan Dewi Mayasari bergegas hendak kembali ke padepokan.
Perjalanan keduanya lagi-lagi terhambat. Entah dari mana datangnya, seekor \*\*\*\* hutan tiba-tiba berpapasan dengan keduanya dalam perjalanan pulang.
Seakan bertemu dengan ancaman atau buruan, \*\*\*\* hutan itu mengamuk mengarahkan serudukannya ke arah Jaka dan Dewi Mayasari. Dewi Mayasari menjadi panik dan hendak menjauh. Jaka lantas menarik tangan Dewi Mayasari agar mengikuti pergerakannya.
Keduanya berlari menghindari amukan \*\*\*\* hutan, berlarian menyamping ke kiri, kemudian ke kanan, ke kiri lagi, lalu ke kanan lagi, sampai tak terasa sudah berapa kali keduanya berlarian menyamping menghindari amukan dari \*\*\*\* hutan.
Jaka berpikir keras mencari cara bagaimana bisa terlepas dari amukan \*\*\*\* hutan itu. Ia terus memutar otak. Dan, tiba-tiba sebuah ide brilian muncul begitu saja di otaknya. Ia segera mengikuti langkah-langkah idenya itu. Ia mengarahkan \*\*\*\* hutan itu agar mengikuti langkahnya.
Jaka masih memegangi tangan Dewi Mayasari. “Diamlah! Kau ikuti saja arahanku, jika kau masih mau selamat.”
Jaka mengarahkan langkahnya pada sebuah pohon besar diikuti oleh \*\*\*\* hutan sesuai prediksinya.
“Tunggu, apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau menarikku pada pohon besar itu?” tanya Dewi Mayasari sembari meronta-ronta mencoba melepaskan genggaman tangan Jaka.
__ADS_1
“Diamlah! Kau bisa merusak rencananya!” Memegang erat tangan Dewi Mayasari.
Setelah perencanaan yang matang, Jaka Menarik dirinya menyamping, menghindari amukan \*\*\*\* hutan. \*\*\*\* hutan itu tidak bisa mengelak dari jalannya. Moncong besarnya menyentuh batang pohon besar itu, membuatnya terkapar seperti yang telah diperkirakan oleh Jaka. Kemenangan telak.
Jaka menarik dirinya terlalu keras dan mendadak. Menjatuhkan dirinya pada rerumputan. Ia menghela nafasnya, lega. Tak perlu khawatir pada apa pun lagi.
Jaka terjatuh dengan tubuh telentang dan kedua tangan terbuka. Tapi tubuhnya terasa berat, seakan ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Ia mencoba melihat benda apa yang berada di atas tubuhnya.
Setelah membuka mata, betapa terkejutnya ia. Kini semuanya menjadi jelas. Bukan benda yang menimpa tubuhnya, melainkan Dewi Mayasari berada di atas tubuhnya. Jaka tak ingat bahwa Dewi Mayasari bersamanya, serta menarik tangan Dewi Mayasari hingga ikut terjatuh di rerumputan bersamanya.
“Dewi..”
Dewi Mayasari mengaduh. Matanya terpejam. Sesaat setelah membuka matanya, wajahnya tiba-tiba memerah. Ia mendapati tubuhnya terbaring di atas tubuh Jaka. “Hah! Apa yang ingin kau lakukan?” Memukul-mukul dada Jaka. “cepat, lepaskan aku!”
Jaka menjadi heran mendengar ucapan Dewi Mayasari. Wajahnya juga ikut memerah. Sambil membuang muka Jaka berkata, “De, Dewi, aku tidak memegangimu. Kalau kau tidak bangun dari tubuhku, aku pasti tak bisa bernapas lagi.”
__ADS_1