Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Hukuman tambahan


__ADS_3

Besoknya, di ruang tempat makan..



“Jaka, bagaimana dengan kondisi tubuhmu sekarang?” tanya Mpu Anggar Maya.



“Aku merasa lebih baik, Guru. Apalagi Dewi sudah bersedia merawatku beberapa hari terakhir ini.”



Tiba-tiba memandang ke arah Dewi Mayasari. “Dewi, terima kasih kau sudah bersedia untuk merawatku selama aku tak sadarkan diri.”



Dewi Mayasari tiba-tiba merasa malu. “Hngh! Siapa juga yang bersedia merawatmu? Aku.. aku hanya membalasmu karena kau sudah menolongku tempo hari.”



“Ya, ya. Aku mengerti. Tapi setidaknya aku harus berucap terima kasih secara langsung padamu.”



“Baiklah, aku akan menerimanya.” Membalas dengan wajah kurang senang.



“Dewi, mengapa kau tidak merasa senang? Bukankah Jaka sudah mengungkapkan ucapan terima kasihnya?” tanya Mpu Anggar Maya kepada putrinya.



“Tidak apa.” Menjawab dengan datar.



“Bukankah kau sangat bersemangat saat kau merawat Jaka. Kau bahkan sampai bertanya padaku kapan Jaka akan terbangun.”



Merasa malu dengan wajah yang tiba-tiba memerah. “A, Ayahanda, apa yang Ayahanda katakan?”



“Kenapa? Apakah ada yang salah dengan apa yang kukatakan?”



“Itu.. aku..” Menunduk tidak bisa berkomentar.



“Guru, sudahlah! Sebaiknya kita segera makan saja,” ucap Jaka berusaha mencairkan suasana.



“Ya, kau benar. Sebaiknya kita segera makan makanan kita,” timpal Mpu Anggar Maya.


__ADS_1


“Dewi, tidak perlu kau masukkan ke dalam hati mengenai ucapan Guru barusan.” Berbicara pada Dewi Mayasari sembari bersiap menyuapkan makanan.



Hngh! Dewi Mayasari tak menggubris perkataan Jaka. Ia hanya fokus menyiapkan bagian makanan untuk dimakannya.



Beberapa hari sudah berlalu. Selama itu pula kondisi Jaka mulai berangsur-angsur pulih seperti sedia kala. Ia kini mulai bisa berlatih seperti biasanya, bahkan ia juga berlatih bersama dengan Dewi Mayasari.



“Jaka, Dewi. Berhentilah sebentar!” pinta Mpu Anggar Maya pada suatu waktu disaat keduanya sedang berlatih bersama.



Keduanya menghentikan sesi latihan, kemudian segera menghampiri Mpu Anggar Maya.



“Ada apa, Guru? Mengapa Guru tiba-tiba memanggil kami?”



“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada kalian. Ikutlah ke ruang membaca.”



“Baiklah, kami segera berangkat.”



Jaka dan Dewi Mayasari berjalan beriringan menuju ke ruang membaca. Setelah sampai, keduanya segera duduk.




“Begini..” Mpu Anggar Maya mulai membuka pembicaraan. “Kalian masih ingat tentang tanaman obat yang kuperintahkan untuk mencarinya di bukit belakang padepokan?”



Jaka dan Dewi Mayasari mengangguk bersamaan.



“Tanaman Panglai yang kalian temukan itu masih belum cukup banyak. Selain itu, daun dari pohon Theutheuk tak ada yang dapat kalian temukan barang sehelai pun.”



“Lalu, apa yang harus kami lakukan, Guru?”



“Aku harap kau berkenan untuk mencarinya ke suatu tempat di sekitaran Desa Wangun.”



“Bukankah itu tempat yang biasa aku datangi untuk mencari bahan racikan obat Guru.” Jaka mengerutkan keningnya.

__ADS_1



“Betul sekali. Semoga saja kita bisa menemukannya di tempat itu,” ucap Mpu Anggar Maya penuh harap.



“Baiklah, aku akan berangkat ke sana besok pagi.”



“Ayahanda, aku akan ikut Jaka ke sana.”



Tiba-tiba saja Dewi Mayasari membuka suaranya. Mpu Anggar Maya terkejut mendengar ucapan putrinya.



“Dewi, sebaiknya kau tinggal di sini saja.” Mpu Anggar Maya berusaha menolak dengan lembut akan permintaan putrinya.



“Tidak, aku ingin ikut!”



“Apakah kau sedang dalam usia memberontak? Mengapa kau tidak mendengarkanku terlebih dahulu.”



“Pokoknya, aku a-kan i-kut. Lagipula tanaman obat yang Ayahanda sebutkan barusan itu juga tidak aku temukan, mengapa Ayahanda hanya menyuruh Jaka yang mencarinya, sedangkan aku tidak disuruh mencarinya juga.”



“Kau ini..”



“Guru, biarkanlah Dewi ikut denganku,” ucap Jaka melerai perdebatan Mpu Anggar Maya dengan Dewi Mayasari.



“Tapi, bagaimana kalau nanti..”



“Tak apa. Pasti takkan terjadi apa pun.”



“Baiklah, kalau kau bilang begitu.” Menghela napas panjang. Kemudian menatap Dewi Mayasari lekat. “Kau ingatlah ucapanku ini baik-baik. Setelah kau sampai di sana, berpura-puralah menjadi adik Jaka.”



Dewi Mayasari bingung dengan ucapan ayahnya. Ia tidak bisa menangkap intinya dengan baik. “Mengapa aku harus melakukan hal itu?” tanya Dewi Mayasari makin kebingungan.



“Kau ikuti saja kata-kataku ini. Ini untuk keselamatanmu juga.”

__ADS_1



“Baik, Ayahanda. Aku akan mengingatnya.” Masih merasa kebingungan dengan maksud ucapan ayahnya.


__ADS_2