
Sejurus kemudian Jaka melemparkan tubuhnya menindih tubuh Dewi Mayasari dengan cepat sembari menutup mulut Dewi Mayasari dengan tangannya.
Sesuatu yang diwaspadainya datang. Sekelebat benda kecil mengarah kepadanya, tetapi berhasil dihindari. Sepertinya ada seseorang yang berusaha menyerangnya dengan bersembunyi di ruang kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.
“Mm, mmm.. mmm.. mmm..” Mencoba melepaskan tangan Jaka yang menutup mulutnya, namun tenaganya tak sekuat tenaga Jaka. Jaka menindih tubuh Dewi Mayasari begitu kuat.
Jaka melirik ke setiap sudut ruangan kamarnya memastikan tidak ada yang mesti diwaspadainya lagi, tangannya masih menutup mulut Dewi Mayasari. Setelah merasa kondisinya terkendali, ia pun merasa tenang.
Jaka menghela napas dengan perasaan lega dan hendak membenamkan wajahnya di tempat tidur. Seketika ia mengurungkan niatnya. Wajahnya berhadapan dengan wajah Dewi Mayasari. Begitu dekat. Mulutnya bahkan menyentuh tangannya sendiri yang menutupi mulut Dewi Mayasari seolah sedang menciumnya. Jaka terkejut dan langsung mengangkat wajahnya. Pandangan matanya bertaut dengan pandangan Dewi Mayasari.
Dewi Mayasari awalnya meronta karena posisinya dan Jaka saat itu bisa membuat orang lain yang melihatnya berpikiran yang tidak-tidak. Namun, setelah beberapa saat Dewi Mayasari bertaut pandang dengan Jaka, ia perlahan membuang pandangannya. Wajahnya memerah, matanya sedikit berkaca-kaca. Tiba-tiba saja detakan jantungnya tak terkendali. Ia kini tak lagi berusaha melepaskan tangan Jaka. Kedua tangannya yang sempat memberontak pun tiba-tiba ia lepaskan pula dari tangan Jaka.
“De, Dewi..”
Dewi Mayasari terdiam seribu bahasa, tanpa sedikit pun membalas pandangan Jaka.
__ADS_1
Jaka melepaskan tangannya yang menutupi mulut Dewi Mayasari. Bangkit menarik tubuhnya dari tubuh Dewi Mayasari. Sesaat ia merasakan tubuhnya sedikit terasa panas. Ia berdiri sejenak, berpikir apa yang harus dilakukannya saat itu.
“Aku.. Aku akan keluar untuk mencari beberapa makanan untuk kita makan.” Bergegas hendak keluar kamar meninggalkan Dewi Mayasari. “tetaplah berdiam di dalam kamar,” pintanya sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Dewi Mayasari.
Dewi Mayasari tak menggubris ucapan Jaka. Ia masih terbaring seperti saat Jaka menindih tubuhnya. Pandangannya pun masih tak beranjak. Di saat-saat itu Dewi Mayasari tanpa sadar menyentuh bibirnya dengan jemarinya, ia seperti tengah memikirkan suatu hal yang tidak dapat dimengerti olehnya.
Beberapa saat kemudian, Jaka sudah kembali ke kamar membawa beberapa makanan di tangannya. Dewi Mayasari masih dalam posisi yang sama saat Jaka meninggalkannya beberapa saat yang lalu.
Jaka memanggilnya, namun tak ada sahutan. “Dewi.. Aku sudah mendapatkan beberapa makanan untuk kita makan. Kau makanlah!”
“Apakah kau masih marah kepadaku soal kejadian yang tadi?” Duduk di samping Dewi Mayasari.
Dewi Mayasari tiba-tiba tersentak karena merasakan kehadiran seseorang.
“Apa yang ingin kau lakukan?” Baru tersadar jika Jaka duduk di sampingnya. “Kenapa kau tidak bicara ketika kau masuk ke kamar?”
__ADS_1
“Aku sudah memanggilmu beberapa kali tadi. Kau sama sekali tak menghiraukan panggilanku. Kau hanya diam sambil bertingkah seperti ini.” Menirukan tingkah Dewi Mayasari yang menyentuh bibirnya dengan jemarinya. “maka dari itulah aku duduk di sini agar kau tahu kalau aku sudah kembali,” papar Jaka.
Dewi Mayasari terkejut ketika Jaka mengatakan bahwa Jaka telah melihat tingkahnya yang sedang menyentuh bibirnya. Ia tiba-tiba teringat saat Jaka seolah sedang menciumnya, sehingga membuat wajahnya tiba-tiba memerah. Ia merasa malu dan langsung mengusir Jaka.
“Pergi kau! Aku tidak ingin melihatmu! Pergi!” Berbalik membelakangi Jaka.
Jaka sadar, mungkin Dewi Mayasari masih marah kepadanya soal kejadian yang terjadi antara dia dan Dewi Mayasari beberapa saat lalu.
“Dewi..”
“Pergi kataku!..” Membenamkan diri di tempat tidur.
“Mungkin aku harus meminta maaf lebih tulus lagi,” batin Jaka kembali pergi meninggalkan ruang kamar.
“Aku membawakan beberapa makanan untukmu. Makanlah!” ucapnya lagi
__ADS_1
Dewi Mayasari tak menggubris ucapan Jaka. Ia terlalu malu untuk menatap ataupun berbicara pada Jaka saat itu.