
Happ! Sebuah pelukan tiba-tiba mendekap tubuh Dewi Mayasari yang tengah memukul-mukul dada Jaka. Sebuah pelukan dari tangan Jaka.
Dewi Mayasari terkejut saat Jaka tiba-tiba saja memeluknya. Ia tak kuasa untuk mencegahnya tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun, seakan ia tidak bisa berbicara seketika. Ia hanya berusaha meronta hendak melepaskan diri.
Jaka mendekapnya lebih erat. “Kalau kau tidak bisa tenangkan dirimu sebentar saja, maka aku akan terus memelukmu seperti ini hingga pagi,” ucap Jaka. Dewi Mayasari menjadi malu. Ia tidak lagi meronta. Kini tubuhnya terdiam seperti sebuah robot yang kehabisan daya.
“Apakah kau sudah bisa tenang sekarang?” tanya Jaka sedikit mengendurkan dekapannya. Dewi Mayasari tak menjawab, tubuhnya tiba-tiba merasa panas.
“Kalau kau bisa tenangkan dirimu sedikit, aku akan melepaskan tanganku,” ucap Jaka lagi. “apa kau sudah mengerti?” Dewi Mayasari mengangguk pelan. Jaka mulai melepaskan tangannya perlahan.
“Sekarang kau duduk dulu,” pinta Jaka. Dewi Mayasari menurut. “apa yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini?” tanyanya lagi. Jaka duduk di kursi dan berhadapan agak jauh di depan Dewi Mayasari yang duduk di tempat tidur.
“Kenapa.. kenapa aku harus berpura-pura menjadi Adikmu?” tanya Dewi Mayasari pelan.
__ADS_1
Jaka menghela napas panjang. “Bukankah kau yang bersikeras ingin mengikutiku kemari? kenapa sekarang kau terus saja mengeluh?”
“Aku.. Aku memang ingin ikut untuk menebus hukuman yang telah lalu, karena aku juga tidak menemukan tanaman obat itu?”
“Lalu, kenapa sekarang kau mengeluh?”
“Aku.. tapi kenapa aku harus dengan terus berpura-pura menjadi Adikmu?”
Dewi Mayasari tidak bisa membalas ucapan Jaka kepadanya, seakan ia tak dapat menemukan sebuah kalimat pun untuk bisa membantah ucapan Jaka
“Sudahlah, tak perlu kau risaukan. Ini takkan berlangsung selamanya, hanya untuk sementara waktu saja.” Mengusap lembut rambut Dewi Mayasari. “sekarang kau segeralah beristirahat. Bukankah besok pagi kita akan pergi ke Desa Runggal? Jangan sampai kau merasa kelelahan karena kurang tidur,” ucap Jaka lagi.
__ADS_1
“Hmm!”
Dewi Mayasari segera tertidur tanpa banyak protes lagi. Jaka merasa lega bisa meredam sifat keras kepala Dewi Mayasari. Ia tak perlu pusing-pusing untuk memikirkan bagaimana harus menghadapi sifat Dewi Mayasari lagi.
Pagi hari..
Seperti yang telah disepakati. Paman Datuk serta Jaka dan Dewi Mayasari memulai perjalanan mereka menuju Desa Runggal untuk mencari tanaman obat yang dibutuhkan oleh Jaka.
Ketiganya menaiki kuda masing-masing. Paman Datuk memacu kudanya sambil? membawa beberapa barang bawaan di belakangnya, sedang Jaka memegang kendali kuda dengan Dewi Mayasari duduk di belakangnya.
Perjalanan baru memakan waktu setengah hari. Beberapa Desa kecil sudah mereka lewati. Kadang mereka menembus bagian hutan walaupun tidak terlalu dalam. Kadang pula hanya melewati padang rumput yang cukup luas.
Setelah memakan waktu perjalanan selama enam hari, ketiganya akhirnya tiba di Desa Runggal.
__ADS_1
Desa Runggal bukanlah desa yang kecil, namun luas wilayahnya tidaklah seluas wilayah suatu desa pada umumnya. Rumah-rumahnya masih banyak yang beratapkan daun rumbia, dan jaraknya pun masih agak berjauhan antara satu rumah dengan rumah lainnya. Terkadang beberapa rumah berdekatan di satu tempat, lalu terpisah oleh kebun atau bagian hutan yang masih lebat sebelum bertemu dengan rumah lainnya, karena memang Desa Runggal letak geografisnya cukup dekat dengan hutan yang ada di dekatnya.