Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Identitas sebenarnya


__ADS_3

Hari hampir menutup senja kala mereka menemukan sebuah tempat yang dikenali oleh Paman Datuk.



Paman Datuk segera turun dari kudanya dan bergegas mencari pemilik rumah. “Kalian tunggu saja di sini. Aku akan segera kembali,” ucap Paman Datuk sembari mengikat kendali kudanya.



“Baik, Paman,” ucap Jaka patuh.



Paman Datuk segera masuk ke dalam. Tak lama berselang, ia kembali ke luar menemui Jaka dan Dewi Mayasari yang masih menunggu Paman Datuk kembali.



“Kalian sudah bisa masuk. Teman lamaku sudah menunggu kalian di dalam.”



Jaka dan Dewi Mayasari mengikuti langkah Paman Datuk masuk ke dalam sebuah rumah.



Rumah itu terlihat cukup tua untuk rumah seukurannya. Tapi kondisinya masih terawat dengan baik. Beberapa tanaman obat terlihat tumbuh subur di samping rumah tersebut. Terkadang ada yang menimbulkan aroma khas dan menusuk yang dapat tercium oleh hidung tatkala melewatinya.



“Suwira, Lasmi, aku berkunjung beserta dua orang murid dari teman baikku.”



Jaka dan Dewi Mayasari yang sudah masuk, dipertemukan dengan dua orang yang sudah menunggu kedatangannya.



“Kelihatannya mereka sepasang suami-istri, meskipun aku tidak melihat seorang anak pun di sekitarnya,” bisik Dewi Mayasari pada Jaka.



“Aku juga sepemikiran denganmu,” balas berbisik pada Dewi Mayasari.


__ADS_1


“Jaka, kemarilah! Kuperkenalkan teman lamaku padamu. Mereka adalah dua orang teman lamaku sejak aku masih muda dulu. Kau bisa memanggil mereka Paman Suwira dan Bibi Lasmi,” ucap Paman Datuk mengenalkan dua orang yang dikenalnya pada Jaka. setelahnya kembali memandang dua orang itu. "mereka berdua ini murid dari teman baikku, yang laki-laki bernama Jaka Umbara dan yang perempuan adalah adiknya, Nyi Dewi. Mereka ini sedang mencari tanaman Panglai dan beberapa lembar daun Theutheuk, apakah kalian bisa membantu mereka?" tanya Paman Datuk pada Suwira dan Lasmi.



“Paman, Bibi, aku Jaka Umbara, dan ini Adikku, Dewi.” Berinisiatif mengenalkan diri meski Paman Datuk sudah mengenalkannya.



“Aku Dewi, Paman, Bibi,” ucap Dewi Mayasari ikut mengenalkan diri seperti Jaka.



Seseorang yang bernama Lasmi tiba-tiba saja menyerbu ke arah Jaka dengan cepat saat matanya menangkap sesuatu yang melingkar di leher Jaka.



“Ra, Raden..” Memegangi tangan Jaka sembari gemetaran. “Kakang, cepat kemari! Lihatlah!” teriak Lasmi memanggil suaminya, Suwira.



Sang suami segera menghampiri dengan bersegera. "Apa yang kau ingin aku lihat?" tanya Suwira dengan keheranan mendengar teriakan istrinya.




Suwira tiba-tiba menjadi terkejut. Ia membelalakkan mata tak percaya atas apa yang telah dilihatnya. “Ini ... Bukankah ini..” Memandang Lasmi, menyimpulkan lewat isyarat pandangan mata bahwa yang dipikirkannya sama seperti yang dipikirkan oleh Lasmi.



Suwira maupun Lasmi tiba-tiba memberikan penghormatan kepada Jaka, seakan tengah melihat orang yang paling dihormati oleh mereka. “Raden, terimalah hormat kami,” ucap keduanya bersamaan.



Paman Datuk menjadi heran atas sikap perlakuan kedua teman baiknya pada Jaka. Dewi Mayasari juga ikut keheranan. Jaka lebih merasa heran atas perlakuan khusus yang ditujukan untuknya.



“Ka, kalian mungkin salah orang. Aku.. Aku bukanlah keluarga kerajaan. Aku hanyalah orang biasa.” Mencoba menampik sangkaan Lasmi dan Suwira padanya.



“Tidak! Aku tidak Mungkin salah!” Mempertegas kekeliruan Jaka atas pernyataannya. “simbol itu. Aku tahu persis, simbol itu adalah simbol kesukaan dari Puteri kerajaan Suryalaya, Puteri Sri Ratih. Aku tidak akan pernah salah mengenalinya.” Merasa tertekan batin. Ia terisak hampir menangis.

__ADS_1



“Kakang, apakah kau masih ingat pada simbol kesukaan Puteri Sri Ratih? Bukankah Tuan yang mengikat hidup kita saat kita bersumpah akan tetap setia pada Tuan dan Puteri, kemudian Tuan memberikan benda dengan simbol seperti itu sebagai hadiah untuk kita?” Bertanya sambil terduduk memeluk suaminya, kembali mengenang saat keduanya masih mengabdikan diri.



Jaka makin bingung menangkap inti dari apa yang ia dengar dibalik perkataan Lasmi.



Apakah ia seseorang yang berasal dari keluarga kerajaan? Bukankah ia dan ibu angkatnya bahkan tidak bisa disebut hidup dalam berkecukupan? Simbol apa yang tengah dibicarakan? Siapa puteri kerajaan yang dimaksud? Adakah hubungan puteri yang mereka sebutkan dengan dirinya?



Selama ini Jaka hanya hidup berdua dengan gurunya dalam waktu yang lama setelah ibu angkatnya meninggal. Kemudian Dewi Mayasari. Selain itu tidak ada hubungan antara dirinya dengan orang lain untuk waktu yang lama, apalagi termasuk anggota kerajaan.



“Ya, aku mengingatnya. Tentu saja aku tidak akan lupa.” Menenangkan istrinya sambil memandang ke arah Jaka.



“Raden, mohon ampuni kami bila kami sedikit lancang. Kami sangat menghormati Tuan dan Puteri. Kami belum pernah mendengar kalau Tuan dan Puteri memiliki seorang anak pun. Bahkan sampai sekarang, setelah Tuan dan Puteri telah tiada pun, kami masih belum mengetahuinya. Dari mana sebenarnya asalmu, dan kenapa benda dengan simbol kesukaan Puteri Sri Ratih berada padamu?”



Jaka merenung sejenak. Berpikir tentang simbol yang tengah dibicarakan. Ia menyadari sesuatu.



“Apakah yang kalian maksudkan itu benda ini?” Menunjukkan sesuatu yang teruntai di lehernya. Sebuah kalung kain berwarna keemasan dengan simbol bunga mawar yang merekah tanpa tangkai. Suwira mengangguk.



Jaka memandangi kalung yang biasa dipakainya, lalu kembali menatap Suwira. “Ini dari Ibu angkat. Ibu Angkat bilang ini adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh keluargaku untukku. Aku tidak tahu kalau simbol di benda ini bisa sama persis dengan simbol yang kalian bicarakan,”



Suwira dan Lasmi makin tercengang mendengarkan ucapan Jaka. Keduanya kembali memburu Jaka penuh suka cita. Hal itu terlihat dari air mata yang berlinang di wajah keduanya.



Jaka kembali menampik perlakuan khusus terhadapnya. “Aku sudah bilang, aku bukanlah..”

__ADS_1


__ADS_2