
Ini kali pertamanya Laras menginjakkan kaki di istana kerajaan Suryalaya.
Jaka mengajak Nyi Dewi dan Laras menyisir lorong aula utama untuk mencari keberadaan kakeknya, Baginda Raja Baskara Nara Diningrat.
"Paman Laya!" seru Jaka yang melihat Patih Laya melintasi aula dari sisi lain. Kemudian ia bergegas menghampirinya.
"Salam, Raden." Memberikan penghormatan. "Apakah Raden mencari keberadaan Paduka?" tanyanya.
"Benar, Paman. Dimana Kakek berada?"
"Paduka tengah mengontrol pelatihan prajurit istana seperti biasanya."
"Baiklah, Paman. Aku akan pergi ke sana dan menemuinya. Terima kasih, Paman."
"Baik, Raden. Hamba mohon undur diri." Pamit dan berlalu meninggalkan Jaka.
Jaka mengajak Laras menuju ke tempat yang dikatakan oleh Patih Laya, sementara itu Nyi Dewi mengatakan ingin menyusul kepergian Patih Laya guna menanyakan sesuatu.
Hyatt!! Hyatt!! - Serang!! Hyatt!! - Perisai!! Hyatt!! - Bertahan!! Hyatt!! - Formasi!! Hyatt!!
Suara teriakan para prajurit istana yang saling bersahutan terdengar sangat jelas saat Jaka dan juga Laras semakin dekat dengan tempat pelatihan yang dimaksud.
Irama gerakan serentak mereka seperti irama sebuah alunan musik yang saling beriringan. Begitu teratur, dan penuh semangat.
Setelah sampai, Jaka segera mencari dimana keberadaan kakeknya dalam pandangannya.
Terlihatlah dalam pandangannya sang kakek yang didampingi oleh beberapa orang hendak meninggalkan tempat pelatihan.
Jaka pun segera mengejar kakeknya. "Kakek!" panggilnya bergegas menghampiri.
Baginda Raja Baskara Nara Diningrat terlihat senang demi mengetahui siapa yang datang menemuinya saat itu. Ia lantas melambaikan tangannya agar beberapa orang yang tengah menemaninya melakukan kesibukan lainnya. Mereka pun kemudian bersegera pamit undur diri dan meninggalkan Baginda Raja.
"Kapan kau datang? Mengapa tidak ada kabar akan kedatanganmu?" Menghampiri Jaka.
"Baru saja, Kek," jelasnya. "aku hanya singgah sebentar sebelum meneruskan perjalananku."
Baginda Raja sudah mengetahui tentang niat perjalanan Jaka menuju ke Gua Batu. Ia tidak menyangka bahwa Jaka akan singgah untuk menemuinya dalam perjalanannya itu.
"Dengan siapa kau kemari?" tanya Baginda Raja. "Apakah kau juga membawa serta Istrimu? Mengapa aku tidak melihat akan kehadirannya," selorohnya mencari-cari orang yang dimaksud.
"Kakek.." Jaka tersipu malu. "Nyimas tengah berbicara dengan Paman Laya. Ia berkata ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepadanya."
__ADS_1
Baginda Raja tertawa renyah. "Baik, baik. Lalu, siapa gerangan gadis manis di belakangmu itu?"
"Ini Adik perempuanku, Kek. Namanya Laras." Mengenalkan seseorang yang bersamanya. "Laras, sapalah Kakek," pinta Jaka pada Laras.
Seketika Laras pun bergeser ke samping Jaka dengan wajah nan sedikit malu dan perasaan gugup. "Ka, Kakek.." ucapnya lirih.
"Oh, jadi dia! Gadis yang pernah kau ceritakan kepadaku waktu itu?" ucap Baginda Raja memandang Laras dengan manggut-manggut. Jaka mengangguk.
"Gadis yang cantik. Ia sama cantiknya seperti Dewi Mayasari,"
Baginda Raja mendekati Laras. Laras menjadi semakin merasa gugup ketika ia berhadapan dengan Baginda Raja.
"Laras.." ucap Baginda Raja dengan lembut.
Seketika Laras tergagap karena kegugupan yang dirasakannya. "Kakek!"
"Apakah aku boleh memelukmu?" Baginda Raja bertanya dengan hati-hati. Menjaga perasaan gadis yang berada di depannya. Satu sisi Baginda Raja tidak ingin membuat suasana hati Laras tiba-tiba terasa gusar. Namun di sisi lain, Ia pun sangat berharap bisa berjumpa dengan gadis yang pernah Jaka ceritakan kepadanya itu.
Laras melirik kakaknya. Jaka tahu apa yang ingin Laras katakan di balik kegugupannya itu. Lalu Jaka mengusap lembut pundak Laras. "Tidak apa!"
Laras hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan pandangan yang tertunduk. Merasa sungkan untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja.
Baginda Raja lantas memeluk Laras dengan penuh haru. "Cucuku.." Baginda Raja hampir-hampir berlinang air mata.
Laras juga ikut memeluk Baginda Raja. Pelukannya terasa berbeda. Begitu hangat. Menenangkan. Seakan ia tengah memeluk seseorang yang memiliki pertalian yang kuat dengannya.
Jaka pun hampir larut dalam suasana haru tersebut.
Melepaskan pelukan. "Apakah kau berkenan terus memanggilku Kakek?"
Lagi. Laras tidak mengatakan apapun, hanya mengangguk pelan. Baginda Raja tersenyum dengan tanggapan Laras.
Membelai lembut pipi Laras. "Hahaha.. Gadis baik! Sama baiknya dengan Kakakmu, Jaka."
Raut wajah Laras tiba-tiba saja memerah saat mendengar ucapan Baginda Raja.
"Baiklah, mari kita pergi menuju aula dan menghadiri perjamuan untuk menyambut kedatangan Laras sembari menunggu kehadiran Dewi Mayasari," ajak Baginda Raja pada Jaka dan Laras beranjak dari tempat pelatihan.
Tak lama kemudian, ketiganya telah sampai di depan aula besar dan hendak memasuki aula. Kebetulan saat itu Nyi Dewi telah kembali dari menemui Patih Laya.
"Mbakyu.." Laras memeluk Nyi Dewi begitu ia melihat keberadaannya. Membenamkan raut wajahnya dalam pelukan erat untuk menutupi perasaannya.
__ADS_1
Nyi Dewi yang mengetahui kehadiran Baginda Raja segera menghaturkan penghormatan.
"Kakek!" Menundukkan kepala dengan penuh khidmat.
"Bangunlah, Nduk! Mari kita masuk ke dalam menghadiri perjamuan."
Di dalam ruangan telah tertata rapi beberapa hidangan yang disajikan, buah-buahan segar dan minuman yang menyejukkan.
Laras duduk di sebelah Nyi Dewi, sedangkan Baginda Raja dan Jaka duduk berseberangan dengan Nyi Dewi dan Laras.
"Nduk, sepertinya Laras begitu lekat padamu! Terlihat dari tingkahnya yang tidak ingin jauh darimu."
"Laras memang begitu, Kek. Dia lebih memilih bersama Nyimas ketimbang aku, Kakaknya," ketus Jaka.
"Apa yang kau perebutkan dengan Istrimu!" Menegur sikap Jaka yang kekanak-kanakan.
"Toh, Adikmu juga akan menjadi Adiknya Dewi Mayasari nantinya. Betul, kan, Nduk?" Melirik Nyi Dewi.
Nyi Dewi tersenyum dengan malu mendengar perkataan Baginda Raja kepadanya. Jaka tak mampu menjawab apa-apa. Tak berani untuk membantah ucapan kakeknya itu, hanya bisa terdiam dengan dipenuhi perasaan yang tidak menentu.
"Laras, makanan apa yang kau suka?" Baginda Raja Mengganti topik pembicaraan. "Makanan yang enak ini disiapkan untukmu. Kakek tidak tahu makanan mana yang kau sukai."
Nyi Dewi memegangi tangan Laras. Memberikan isyarat agar Laras mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Baginda Raja.
"Te, terima kasih, Kek.." Berucap dengan malu-malu.
Baginda Raja tersenyum. "Katakanlah jika kau menginginkan makanan yang lain. Aku akan meminta dayang agar segera menyiapkannya untukmu."
"Laras menyukai daging kelinci, Kek," ucap Nyi Dewi memberitahukan makanan yang disukai Laras.
"Baik, baik." Terlihat senang. "Aku akan segera meminta para pelayan agar memasakkannya untuk Laras nanti."
"Selain itu, aku juga akan membuat perayaan selama beberapa hari sebagai sambutan atas kedatangan Laras," ucap Baginda Raja.
"Kakek, bukankah ini terlalu dilebih-lebihkan?" protes Jaka kurang setuju dengan perkataan kakeknya.
"Tidak apa! Ini adalah bukti kebahagiaan yang kurasakan atas kehadiran cucuku, Laras."
Jaka tak meneruskan protesnya agar suasana tidak menegang.
"Mari, mari! Kita segera makan! Jangan hanya melihat makanannya saja," ajak Baginda Raja mulai menyantap hidangan makanan mereka.
__ADS_1