
“Guru, apa yang ingin Guru sampaikan padaku?”
“Sepertinya aku akan terus terbaring di atas tempat tidur, mengingat aku sudah berumur.” ucap Mpu Anggar Maya pasrah.
“Guru, kenapa Guru berbicara seperti itu?”
“Sebenarnya, sakit ini sudah aku derita sejak lama. Hanya saja aku tidak ingin melihatnya cemas ataupun bersedih saat mendengarnya,”
“Sakit apa yang sebenarnya Guru derita ini?”
“Aku mendapat luka dalam saat aku bertarung melawan seseorang sewaktu aku muda dulu. Serangan fatalnya mampu memberikan efek yang sangat besar meskipun aku bisa membuat diriku tetap hidup.”
“Apakah dia adalah musuh Guru?”
“Aku tak begitu ingat! Mungkin bisa juga demikian!”
“Siapakah orang yang dulu bertarung dengan Guru? Apa Guru masih mengingat namanya?”
“Maaf! Aku tak ingin mengungkitnya lagi!”
“Maafkan atas kelancanganku ini, Guru!” Menunduk dan merasa bersalah.
Mpu Anggar Maya memaklumi rasa penasaran Jaka yang begitu besar. “Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti hal itu. Kau pasti merasa penasaran dengan apa yang terjadi padaku saat itu.”
“Guru, kalau boleh aku ingin mendengarkan kisah Guru sewaktu masih muda dulu?”
__ADS_1
“Apa kau akan mendengarkannya?”
“Tentu saja!” sahut Jaka penuh spontanitas. “aku tentu ingin sekali mendengar kisah perjalanan Guru.”
“Aku hidup seorang diri sejak umurku sepuluh tahun, sama sepertimu.” Ucap Mpu Anggar Maya mengingat kembali perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
“Aku berkelana mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga pada suatu saat aku sampai di daerah Kertasari di Gunung Chuda. Aku akhirnya bertemu dengan seseorang yang aku anggap sebagai guru.”
“Aku banyak belajar darinya. Walaupun aku banyak belajar pada guru lainnya, dia adalah Guru yang terakhir mengajariku.”
“Sampai akhirnya aku bisa mencari murid yang ingin belajar dariku.”
“Apa Guru pernah bertemu dengan orang itu lagi?”
Mpu Anggar Maya menggeleng pelan. Pandangan matanya sedikit terlihat sedih.
Namun sikap Mpu Anggar Maya yang tidak mengucapkan apa pun serta pandangan matanya yang sedikit terasa kosong menjadi bukti bahwa apa yang dipikirkannya adalah kenyataannya. Jaka hampir ikut meresapi kesedihan yang dialami oleh sang guru.
“Jaka..”
Tersadar seketika. “Iya, Guru.”
“Aku ingin berpesan padamu,” ucap Mpu Anggar Maya lemah.
“Apa itu, Guru?”
__ADS_1
“Aku ingin kau menjaga Putriku selepas kepergianku nanti.”
“Guru, Guru tidak boleh berkata seperti itu? Guru pasti bisa pulih! Aku akan terus merawat Guru hingga Guru pulih,” ucap Jaka gusar. Ia tak ingin mendengar kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.
“Kau bisa kembali sekarang. Aku sedikit mengantuk. Aku ingin beristirahat dulu sebentar.”
“Baik, Guru. Aku undur diri,” pamit Jaka seraya bangkit dan berlalu meninggalkan ruang kamar gurunya.
Di ruang makan..
Jaka dan Dewi Mayasari makan bersama meski tanpa ditemani oleh Mpu Anggar Maya seperti biasanya. Keduanya terlihat asyik menyantap makanan mereka dengan penuh syukur.
“Kangmas, apakah Ayahanda ada berkata sesuatu?” tanya Dewi Mayasari pada Jaka yang belum lama tiba di ruang makan setelah keluar dari kamar Mpu Anggar Maya.
“Tidak ada! Aku hanya mendengarkan kisah pengembaraannya sewaktu ia masih muda dulu. Itu saja.”
Dewi Mayasari tak lagi mengajukkan pertanyaannya. Ia hanya melanjutkan menyantap makanannya.
Tak lama, keduanya selesai menyantap makanan mereka.
“Nyimas, malam ini kau tinggallah dan merawat Guru. Aku akan pergi dulu menemui Paman Datuk.”
“Apa Kangmas tak apa pergi seorang diri?”
“Tak apa! Aku akan usahakan lusa sore aku sudah kembali.”
__ADS_1
“Baik, berhati-hatilah!”