Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Di suatu malam yang dingin 1


__ADS_3

“Itu ... Kau..”



“Ada apa?”



“Ka, kapan tanganku akan dilepaskan?” Tertunduk dengan wajah memerah.



Melepaskan tangan sambil tersipu. “Ah! ma, maaf! Aku lupa melepasnya.”



Suasana semakin gelap. Hujan kian deras diiringi suara guntur sesekali.



“Kenapa di sini terasa pengap sekali? Apakah di sini aman untuk berteduh?”



“Sepertinya aman. Kalau kau merasa pengap, tinggallah di luar. Hujan takkan membuatmu pengap, hanya saja seluruh pakaianmu akan basah kuyup terkena air hujan.”



Dewi Mayasari tak menanggapi, ia tak punya pilihan lain. Mau tak mau ia harus bersama dengan Jaka di dalam gua meskipun terasa pengap.



Air hujan tak kunjung reda walau keduanya


sudah menunggu beberapa jam. Malah terlihat semakin deras. Suara guntur pun terdengar semakin keras dan hampir beriringan. Keadaan gelap hampir menutupi penglihatan karena tak ada cahaya sedikit pun.


“Hei, kau di mana? Aku tidak bisa melihat sekeliling dengan jelas. Di sini terlalu gelap! Bisakah..”



Ctarr! Duarr! Suara keras guntur tiba-tiba menggelegar, terdengar sangat jelas. Kilatannya hampir-hampir seperti nyala lampu yang meledak, menerangi sesaat, kemudian semua kembali gelap seketika.



Ah! Dewi Mayasari menjerit. “Jaka, kau ada di mana? jangan menakutiku!” teriak Dewi Mayasari. Ia terisak, duduk dan terus memanggil Jaka.



Jaka mendekati Dewi Mayasari. Berdiri di hadapannya, dan memegangi pundak Dewi Mayasari. “Aku ada di sini! Apakah kau..”



Suara guntur kembali menggelegar. Kali ini lebih keras.

__ADS_1



Ah! Tangannya menggenggam erat baju Jaka. Wajahnya ia benamkan di dada Jaka.



“Apakah kau takut pada suara guntur?” tanya Jaka setelah melihat tingkah Dewi Mayasari.



“Diam! Jangan bertanya padaku soal itu!” Masih membenamkan wajahnya.



Kembali suara guntur menggelegar. Keras. Disertai dengan kilatan petir amat terang.



Ah! Dewi Mayasari kembali menjerit. Tangannya semakin erat memegangi baju Jaka. Wajahnya semakin terbenam karena ketakutan.



“Apakah kita akan terus seperti ini?” tanya Jaka tersipu malu.



“Aku.. Aku tidak tahan mendengar suara keras guntur.”




Dewi Mayasari merasa kesal. Lantas memukul-mukul ringan dada Jaka dengan kesalnya.



“Apa yang kau lakukan?” tanya Jaka keheranan. “Apakah kau sedang marah padaku?” tambahnya lagi.



Hngh! Mengangkat wajah hendak berpaling. Lagi. Suara keras guntur kembali datang. Ah! Dewi Mayasari menjerit dan kembali membenamkan wajahnya di dada Jaka.



Baiklah, baiklah. Aku akan mencari tempat untuk kita duduk. Kau tetaplah di sini, jangan beranjak pergi ke manapun!”



“Tidak! Aku ingin ikut! Mungkin saja kau akan meninggalkanku sendirian nantinya.” cegah Dewi Mayasari menggenggam baju Jaka lebih erat.



“Tak akan! Lagi pula di luar masih hujan deras,” tegas Jaka.

__ADS_1



“Tidak mau! pokoknya aku akan ikut!”



“Baiklah! terserah kau saja!” Dewi Mayasari mengikuti Jaka dari belakang sambil memegangi tangannya. Keduanya berjalan perlahan mencari tempat yang sesuai untuk duduk.



“Sepertinya di sini lebih cocok. Tempatnya juga agak luas,” batin Jaka. Tangan Dewi Mayasari makin gemetaran memegangi tangan Jaka.



“Apakah kau merasa kedinginan?”



“Tidak! Mungkin hanya perasaanmu saja.”



“Lalu, kenapa tanganmu gemetar?” selidik Jaka mencari kebenaran atas ucapannya.



“Mungkin karena lapar!” Asal menjawab sambil berpaling muka. Merasa malu jika Jaka mengetahui ia berbohong dalam ucapannya.



“Bukankah sebelum hujan turun kau sudah makan begitu banyak buah-buahan? Apakah secepat itu rasa laparmu bangkit lagi?” Jaka kembali menyelidiki ucapan Dewi Mayasari.



Dewi Mayasari tersentak dan merasa kesal. “Kau.. kau terlalu banyak tanya!” Menjawab dengan nada cemberut.



Jaka tak menanggapi lagi. “Sepertinya kita duduk di sini saja sembari menunggu hujan reda.” Mengalihkan topik pembicaraan.



Jaka bersegera mengambil tempat duduk. Dewi Mayasari pun turut mengambil tempat duduk.



Karena kondisi gua yang gelap, Dewi Mayasari tak menyadari posisi tempat duduknya. “Apa yang salah dengan tempat duduknya? Kenapa sandarannya tidak dapat kurasakan?” batinnya merasakan ada keanehan pada sandaran tempat duduknya.



“Kau! Mengapa kau mengambil tempat duduk di posisi itu?” tanya Jaka terkejut.


__ADS_1


“Aku.. Aku tidak tahu? Kupikir.. Aku sudah memilih tempat duduk yang benar.”


__ADS_2