
Orang itu merangsek mendekati Jaka dengan dua lutut bertumpu di tanah. Menggeret tubuhnya ke hadapan Jaka hingga hampir mencapai kaki kuda yang Jaka tunggangi. "Tuan! Tolong, Tuan! Saya mohon!" pintanya sembari memelas.
"Kanda, bisakah kita membantu Paman itu? Sepertinya Paman itu sedang kesulitan!"
"Apa kau ingin agar aku membantunya?" Laras mengangguk dengan serius.
"Baiklah. Aku akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Adikku yang manis ini." Mengusap-usap rambut Laras.
Laras tersipu mendengar ucapan kakaknya. Tersenyum senang karena ia dapat menolong seseorang yang tengah membutuhkan pertolongan.
"Kau ini sama saja seperti Mbakyumu!" ucap Jaka mengomentari sikap Laras. "selalu saja tak pernah tega setiap kali melihat orang yang kesulitan."
Jaka lalu turun dari kudanya. Setelah itu, ia pun membantu Laras turun dari atas kuda.
Saat Jaka menghampiri, orang itu seketika memburu Jaka. "Tuan, tolong bantulah saya mengambil barang saya, Tuan! Saya mohon, Tuan! Jika saya tidak dapat menemukannya kembali, Majikan saya itu pasti akan marah besar."
"Kau tenanglah dulu!" Jaka mencoba untuk menenangkan orang itu yang terlihat panik. "aku akan mencoba untuk membantumu mencari keberadaan barang Majikanmu itu," ucap Jaka lagi.
Orang itu pun seketika terlihat begitu senang. "Terima kasih, Tuan! Terima kasih, Tuan!" ucapnya membungkukkan badan berkali-kali
"Bagaimana dengan ciri-ciri dari mereka? Apa kau bisa mengenalinya?"
"Tidak, Tuan. Mereka menutupi seluruh wajah mereka. Saya hanya bisa melihat pandangan mata mereka saja. Yang saya lihat, salah satu diantaranya memiliki codet di atas matanya, dan juga mereka berjumlah empat orang."
"Baiklah. Katakan, siapa namamu?"
"Barjo! Saya Barjo, Tuan!"
"Barjo, kau kembalilah dahulu dan temui Majikanmu itu. Katakan padanya apa yang telah menimpamu dalam perjalananmu. Bawalah kudaku bersamamu sebagai bentuk jaminanmu! Kau bisa menyusul kami nanti di pasar Banggolan setelah kau kembali. Bila kau masih beruntung, mungkin saja kita akan menemukan barang yang mereka ambil. Jika tidak, biarlah kudaku ini kau jadikan sebagai tebusanmu untuk menggantikan barang-barang milik Majikanmu yang diambil oleh para perampok itu."
"Baik, Tuan! Saya akan mengingatnya."
__ADS_1
"Lalu, ke arah mana aku harus berjalan? Apa kau tahu arah mana yang harus kita tuju untuk sampai ke sana?"
"Saya tahu, Tuan! Dari sini Tuan ..." Orang itu menunjukkan pada Jaka arah menuju pasar Banggolan. Arah itu searah dengan arah yang dituju Jaka menuju Gua Batu. Orang itu juga menceritakan tentang ciri-ciri barang milik majikannya itu.
"Baiklah. Kau kembalilah dahulu! Setelah kau menjelaskan kepada Majikanmu, kau boleh menyusul kami ke pasar Banggolan jika Majikanmu tidak melarang."
"Baik, Tuan! Akan saya lakukan! Sekali lagi, terima kasih, Tuan! Terima kasih!"
"Berterima kasihlah kepada Adikku ini yang meminta agar aku membantumu!"
Barjo pun menghadap ke arah Laras. Segera membungkuk hormat menghaturkan terima kasihnya. "Terima kasih, Tuan. Terima kasih!"
Laras hanya mengangguk pelan, tersenyum simpul kepada Barjo dengan memegangi tangan Jaka.
Nyi Dewi turut turun dari kudanya, kemudian menawarkan kudanya agar diberikan kepada Barjo.
"Kangmas, biarlah aku juga turut memberikan kudaku ini!" ucap Nyi Dewi memberikan tali kekang kudanya.
Nyi Dewi bersikeras agar Jaka tetap bersedia membiarkannya memberikan kuda miliknya agar dibawa oleh Barjo.
"Tidak apa, Kangmas! Aku akan berbicara dengan Paman nanti. Aku yakin, Paman pasti dapat memakluminya juga!"
Jaka merasa amat sungkan untuk menerima keinginan dari Nyi Dewi. Tetapi ia juga tidak ingin menghalangi niat baik dari seseorang yang ingin membantu orang lain, termasuk pula Nyi Dewi.
"Baiklah, jika itu memang kehendak Nyimas. Aku akan mengikutinya," ucap Jaka meraih tali kekang yang diberikan oleh Nyi Dewi.
Jaka menarik kuda milik Ki Pucung perlahan dan memberikannya kepada Barjo. "Bawalah kuda ini bersamamu! Aku harap Majikanmu akan berbesar hati dengan tebusanmu jika ia tidak mendapatkan barangnya kembali."
Seketika Barjo menghadap Nyi Dewi dengan pandangan mata berkaca-kaca hampir terisak lagi.
"Te, terima kasih, Tuan! Terima kasih, Tuan!" Barjo membungkukkan badan berkali-kali kepada Nyi Dewi. Nyi Dewi membalas ucapan terima kasih Barjo dengan sesungging senyuman hangat di wajahnya.
__ADS_1
Barjo menengadahkan pandangannya ke arah langit dengan terisak lirih dan berucap penuh syukur dengan mengangkat kedua tangannya, "Terima kasih, Sang Hyang Widhi! Terima kasih sudah menjawab doa hambamu ini!"
Barjo beberapa kali menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa syukurnya. Setelah itu ia bangkit dan kembali menghadap ke arah Jaka dan Nyi Dewi.
"Tuan-tuan, terima kasih banyak telah bersedia untuk menolong orang-orang kecil dan lemah seperti saya! Tuan-tuan sekalian sungguh adalah penolong orang yang lemah! Penyelamat yang dikirimkan oleh Sang Hyang Widhi!"
"Janganlah berkata begitu. Kami ini bukanlah seorang penolong seperti yang kau ucapkan itu. Sudah kewajiban kita untuk membantu dan tolong-menolong pada sesama kita," ucap Jaka memandang Nyi Dewi.
"Betul, Paman, kami ini hanyalah orang yang kebetulan lewat saja!" ujar Nyi Dewi ikut menambahi ucapan Jaka.
"Apakah di depan sana terdapat sebuah pemukiman terdekat untuk mencari tempat beristirahat?"
"Iya, Tuan! Tuan sudah dekat dengan dusun kecil di depan sana. Di sana juga ada tempat penginapan. Kurang lebih beberapa ratusan meter lagi."
"Baiklah. Aku akan mencoba pergi ke sana untuk mencari tempat istirahat. Kau ingatlah untuk segera kembali, dan berhati-hati dalam perjalananmu!" pesan Jaka melangkah pergi meninggalkan Barjo.
"Baik, Tuan! Terima kasih, Tuan-tuan! Terima kasih!" Barjo membungkukkan badannya beberapa kali walau Jaka dan Nyi Dewi telah berjalan jauh dalam pandangannya. Memberi isyarat betapa besarnya rasa terima kasihnya bagi penolongnya sebelum ia kembali menuju rumah majikannya.
Di waktu yang sama..
Patih Banaspati telah tiba di gerbang istana kerajaan Suryalaya untuk menghadap kepada Baginda Raja Baskara Nara Diningrat.
Dua penjaga yang menjaga gerbang kerajaan segera menangguhkan tombak pada tangan mereka yang pegangi sebagai portal penutup pintu masuk gerbang istana kerajaan.
"Selamat datang, Patih!" ucap keduanya penuh penghormatan.
"Ya!" balas Patih Banaspati seraya melewati keduanya. Keduanya kembali menutup pintu gerbang kerajaan dengan tombak mereka.
"Patih Banaspati turun dari kudanya setelah sampai di samping halaman istana kerajaan. Di tempat biasa kuda-kuda diikatkan. lima orang yang bertugas menjagai kuda-kuda bangkit seketika saat Patih Banaspati datang bersama kudanya.
"Patih!" Seluruhnya berkumpul secepatnya dan juga memberikan penghormatan terbaik di hadapan Patih Banaspati. Menyambut kedatangan Patih Banaspati dengan sapaan senyuman di wajah mereka.
__ADS_1
Patih Banaspati tidak menggubris ucapan mereka. Ia hanya menyerahkan tali kekang kudanya yang langsung diraih oleh salah satu dari lima orang yang tengah menjagai kuda-kuda.