Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Beranda Padepokan 1


__ADS_3

Siang hari. Beranda Padepokan..


Ketika itu seluruh penghuni padepokan hadir, merayakan kembalinya Jaka Umbara dari Istana Kerajaan melalui acara santap makan dengan bahan hewan buruan yang berhasil ditangkap Ki Pucung dan dijadikan menjadi beberapa hidangan di tangan Nyi Pucung.


Setelah acara santap makan mereka usai, mereka beristirahat dan menikmati buah-buahan segar sebagai penutup hidangan mereka sembari berbicara ngalor-ngidul (berbicara dengan topik bebas, yang tidak ditentukan).


“Raden, bagaimana dengan rencana Raden ke depannya? Adakah sesuatu yang kini tengah Raden persiapkan? Atau barangkali ada hal lain yang mungkin akan Raden lakukan dalam waktu dekat?” Ki Pucung bertanya dengan memperhatikan kulit pisang yang tengah dikupas olehnya, kemudian melahapnya, setelah itu memandang Jaka, menanti apa kiranya jawaban Jaka atas pertanyaannya itu.


"Aku berniat akan melakukan perjalanan ke Gua Batu di atas Bukit Tinggling untuk menemui seseorang bersama Nyimas.”


Jaka melirik Nyi Dewi, mencari kepastian mengenai ucapannya barusan.


“Betul, Paman.” Menarik kembali tangan kanannya yang hendak mengambil buah.


“Aku dan Kangmas berencana untuk pergi kesana. Seharusnya kami sudah berangkat sejak lusa kemarin, jika saja Ledonggowo tidak datang dan membuat kekacauan di padepokan kita.”


“Lantas, kapan kalian akan memulai lagi, melanjutkan niatan kalian untuk pergi ke Gua Batu?”


“Hmm.., mungkin beberapa hari kedepan. Kebetulan hari itu merupakan awal bulan, serta jatuh di hari pasaran yang baik bagi kita untuk bepergian jauh.”


Laras yang sedari tadi asyik mengisi perut, tiba-tiba berhenti setelah mendengarkan pembicaraan Ki Pucung dan Jaka Umbara serta Nyi Dewi. Ia langsung memburu Nyi Dewi seketika.


“Mbakyu, apakah Mbakyu dan juga Kanda akan pergi?” Laras bertanya dengan rasa keingintahuannya yang besar.


“Benar!” Mengelus rambut Laras. “kami akan melakukan perjalanan yang sedikit panjang.”


Tertunduk dengan wajah malu-malu dan berucap lirih, “Apa Dinda boleh ikut pergi juga?”


“Sebaiknya Diajeng tinggal di padepokan saja menemani Paman dan Bibi. Lagi pula perjalanan yang akan ditempuh jaraknya cukup jauh. Ya?”


“Tapi, Dinda ingin ikut Mbakyu pergi,” rengek Laras dengan wajah bersedih dan lebih tertunduk.


Nyi Dewi sedikit merasa bingung dengan permintaan Laras yang ingin ikut serta. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Laras tersebut.


“Kangmas..” Melirik Jaka Umbara dengan raut wajah penuh kebingungan.


Akhirnya, mau tak mau ia harus mencari bantuan guna menjawab satu permintaan yang diajukan Laras. Dan hanya Jaka satu-satunya yang dapat menolongnya saat itu.


“Iya, iya, aku tahu.” Jaka menghela napas panjang dan terasa berat. Seolah Apa yang akan ia ucapkan adalah perkataan yang mesti ditimbangnya beberapa kali, kendatipun wajahnya masih berusaha agar tetap terlihat tenang. “kita akan mengajaknya juga,” tambahnya.

__ADS_1


Kebingungan di raut wajah Nyi Dewi agak sedikit berkurang setelah mendengar apa yang Jaka katakan. Ia bisa bernafas lega, kini.


“Diajeng, apakah Diajeng mendengarkan ucapan Kakakmu barusan?”


Laras tidak langsung menjawab. Ia hanya merebahkan tubuhnya memeluk Nyi Dewi dengan perasaan yang bercampur aduk.


“Laras, apa kau mau membantu membawa sisa makanannya ke belakang?” tanya Nyi Pucung angkat bicara, menawarkan Laras untuk membantunya supaya rasa malunya sedikit berkurang.


“Baik, aku akan membantu Bibi untuk membawa sisa makanannya ke belakang,” jawab Laras seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Nyi Dewi. Kemudian ikut berlalu dengan tangan membawa beberapa wadah makan yang telah mereka gunakan dan bergegas cepat, menyusul Nyi Pucung yang sudah berlalu terlebih dahulu.


“Raden, bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Ki Pucung pada Jaka tiba-tiba.


Jaka sedikit tersentak dengan permintaan dari Ki Pucung. Hal apakah kiranya yang ingin dibahasnya bersama dirinya? Jaka memandang Nyi Dewi sesaat. Nyi Dewi memakluminya.


“Kangmas, aku akan ikut membantu Bibi. Pergilah, berbicara dengan Paman!”


“Baiklah, kalau begitu.” Bangkit. Lantas mengajak Ki Pucung, "mari, Paman!"


Ki Pucung turut bangkit. “Mari, Raden!” mempersilahkan Jaka agar beranjak lebih dulu.


Di tempat yang telah ditentukan..


“Raden, aku berniat hendak menurunkan suatu ajian pada Raden,” jawab Ki Pucung berterus terang.


“Ajian apakah yang ingin Paman berikan untukku?”


“Ini, semacam ajian untuk memperkuat fisik Raden. Apa Raden berkenan untuk menerimanya?”


“Aku dengan senang hati menerimanya, Paman!” Jaka merunduk segan.


Keduanya pun duduk bersila menghadap ke arah yang sama. Kemudian Ki Pucung membaca beberapa kalimat seperti sedang berkomat-kamit. Jaka sudah bersiap. Dan, sesaat kemudian.. Bugh! Tiba-tiba telapak tangan Ki Pucung mendarat cukup keras di atas punggung Jaka.


Pada saat itu, Jaka merasakan seperti ada sebuah aliran yang masuk dan menyebar, kemudian meliputi ke seluruh tubuhnya. Bugh! Kini, telapak tangan kiri Ki Pucung ikut pula mendarat di atas punggungnya.


Hawa panas mulai merasuk dan menjalari sekujur tubuhnya, namun dengan sekuat tenaga Jaka berusaha menahannya.


Ki Pucung pun menarik telapak tangannya dan melakukan gerakan-gerakan tangan dengan cepat dan kembali mendaratkan telapak tangannya di punggung Jaka. Kali ini hanya telapak tangan kanannya saja yang mendarat di atas punggung Jaka.


sementara telapak kirinya berada sejajar dengan dada Ki Pucung. Ki Pucung cukup lama mendiamkannya dalam keadaan itu sembari terus membaca mantra ajiannya.

__ADS_1


Jaka pun kembali merasakan hawa panas seperti sebelumnya, hanya saja kini terasa semakin besar hingga hampir-hampir saja membuat tubuhnya kepanasan. Semakin lama telapak tangan Ki Pucung berada di atas punggung Jaka sembari membacakan beberapa mantra ajiannya, semakin tubuh Jaka mulai memberikan respon yang besar akibat aliran yang kini mengalir masuk ke dalam tubuhnya, meskipun dengan sekuat tenaga Jaka berusaha menahan tubuhnya agar tetap stabil.


Setelah sedikit bersabar, akhirnya proses penurunan sebuah ajian yang dilakukan Ki Pucung melalui tubuh Jaka pun selesai sudah.


Akhirnya Jaka pun bisa bernapas lega dan merenggangkan tubuh meski agak sedikit terasa kaku. Ia lalu berpindah posisi, kini dirinya dan Ki Pucung berada dalam posisi saling berhadap-hadapan.


“Prosesi penurunan ajiannya telah selesai. Syukurlah, Raden berhasil melewatinya!” ucap Ki Pucung merasa lega karena tidak melihat dampak apa pun yang terjadi pada tubuh Jaka (dalam artian negatif).


“Sekali lagi aku berucap terima kasih atas kebaikan Paman.” Jaka pun menundukkan tubuhnya sebagai bentuk terima kasihnya kepada Ki Pucung.


“Raden tidak usah merasa terlalu sungkan begitu. Sebenarnya aku sudah lama ingin menurunkan ajian ini, namun aku belum menemukan waktu dan orang yang tepat untuk prosesinya. Barulah disaat sekarang ini aku bisa menurunkan ajian ini kepada Raden. Mungkin ajian ini memang sudah berjodoh dengan Raden, atau barangkali memang sudah suratan dari Sang Hyang Widhi.”


“Paman, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”


Ki Pucung mengangguk pelan. “Apa yang ingin Raden tanyakan,” ucapnya beberapa saat kemudian.


“Ajian apa yang baru saja Paman turunkan kepadaku? Bukankah itu artinya sama saja dengan Paman mewariskan sebuah ajian kepadaku secara langsung?”


“Hampir, Raden.” Ki Pucung terdiam sejenak. Berusaha mencari penjelasan yang singkat yang mengarah langsung kepada intinya.


“Ajian yang diwariskan biasanya diberikan langsung oleh para guru-guru atau orang yang memiliki garis keturunan langsung dengan nya. Sedang ajian yang diturunkan tidak memerlukan hal itu. Terlebih lagi, ia hanya perlu menguasai gerakan-gerakan dasarnya saja, dan terkadang setelah kita banyak melatih gerakan-gerakan tersebut, bisa menemukan gerakan yang baru dan memperkuat hasil latihannya.”


Jaka mengangguk paham. “Apa nama ajian yang Paman turunkan itu?”


“Ajian ini bernama Kayu Mas Jati. Aku pun memperolehnya dari seorang pengembara sewaktu aku masih berada di dalam masa pengembaraanku dulu." kenang Ki Pucung mengingat masa-masa pengembaraannya. "aku akan memperlihatkan tiap gerakan-gerakan dasarnya bersama Raden setelah Raden kembali dari perjalanan Raden.”


“Mungkin aku akan menangguhkan waktu keberangkatan kami beberapa minggu lagi supaya aku bisa melatih gerakan dasarnya sebelum aku berangkat menuju Gua Batu. Aku akan memberitahukan hal itu kepada Nyimas nanti.”


“Baiklah, jika itu memang keinginan dari Raden,” sambut Ki Pucung atas ucapan Jaka. “aku akan memperlihatkan gerakan dasarnya sekalian Raden melatihnya lusa nanti,” tambah Ki Pucung.


“Baiklah, kalau begitu, aku mohon undur diri untuk membersihkan tubuh ke ruang belakang. Katakan saja jika Paman sudah siap mengajariku gerakan dasarnya.”


“Baiklah, Raden.”


Jaka bangkit dan berdiri. “Aku mohon undur diri, Paman.”


“Silahkan, Raden!”


Jaka beranjak pergi. Sementara Ki Pucung masih tetap dalam posisi duduknya tanpa bergeser sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2