Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Beranda Padepokan 2


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian Jaka telah sampai di ruangan yang ditujunya.


Baru saja selangkah Jaka berjalan pelan dan hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, ia berpapasan dengan Nyi Dewi yang baru saja membersihkan dirinya dan hendak keluar dari ruangan tersebut, sesaat setelah Jaka hendak menyibakkan kain tirai penutup pintu ruangan tersebut.


Ia tidak tahu jika ada seseorang yang tengah berada di dalam ruangan tersebut, karena tak adanya daun pintu yang terpasang. Hanyalah sebuah kain tirai yang menjadi penutup pada muka pintu ruangan tersebut.


Keduanya berhenti sesaat. Terdiam. Hening tanpa suara. Saling pandang dan membisu.


Nyi Dewi kemudian menundukkan pandangan ke bawah. Menggenggam erat kain tipis yang tersampir menutupi sebagian tubuhnya, serta merta ia menurunkan kain tirai penutup pintu ruangan perlahan-lahan.


Jaka segera sadar akan posisi dirinya. Ia lalu berbalik membelakangi tirai.


“Ma, maafkan aku, Nyimas!” ucap Jaka setengah gugup.


“I, iya, Kangmas! Tak apa! Aku pun salah tidak memperhatikan akan keadaan sekitar terlebih dahulu..” balas Nyi Dewi dengan ucapan lirih.


“Aku sudah berbalik. Tunggulah aku menjauh hingga beberapa langkah. Setelah itu, Nyimas sudah bisa keluar. Aku tidak akan menoleh ke belakang,” ucap Jaka bergerak menjauhi pintu ruangan.


“Te, terima kasih, Kangmas..” balasnya masih dengan suara yang lirih.


Jaka pun segera menjauh beberapa langkah. Setelah dirasanya cukup, ia pun mengeraskan suaranya agar bisa didengar oleh Nyi Dewi.


“Nyimas, kau sudah boleh keluar!”


Tidak ada sahutan apa pun dari dalam. Jaka mencoba menunggui hingga beberapa saat, setelahnya ia kembali menghampiri tirai.


“Nyimas..” Jaka mencoba memastikan bahwa Nyi Dewi telah keluar sewaktu dirinya berbalik dan menjauh dari tirai beberapa saat lalu.


Karena tidak ada sahutan apa pun dari dalam, Jaka yakin bahwa Nyi Dewi sudah keluar dari dalam ruangan tersebut. Ia pun segera masuk dan langsung membersihkan diri setelahnya.


###

__ADS_1


Malam hari. Di ruang makan..


Jaka dan Nyi Dewi duduk dengan posisi yang saling berseberangan dan saling berhadapan satu sama lain. Porsi makan keduanya masih banyak tersisa sementara yang lainnya sudah sebagian dari pada porsi makanannya telah berkurang, apalagi Laras yang hampir selesai menyantap seluruh bagiannya.


“Nyi, Den, apa kalian sedang tidak bernafsu?” tanya Nyi Pucung di sela-sela makannya yang melihat porsi makan Jaka maupun Nyi Dewi belum berkurang setengahnya pun dari porsi makan keduanya.


Kala itu, baik Jaka maupun Nyi Dewi memang seperti tidak ikut hadir di tempat makan, seolah hanya raganya saja yang ikut hadir.


“Ah, tidak, tidak!” jawab Nyi Dewi tersentak dengan pertanyaan Nyi Pucung.


Nyi Pucung melirik Jaka. Jaka pun ikut membenarkan ucapan Nyi Dewi dengan gelengan kepalanya.


"Atau barangkali rasa makanannya yang tidak sesuai dengan selera makan kalian?” tanya Nyi Pucung lagi.


“Tidak! Masakan Bibi selalu kami makan. Tak ada masalah dengan rasanya,” ucap Jaka membuka suara.


“Benar, Bibi. Masakan Bibi tak ada yang terasa tidak enak.” Nyi Dewi ikut menambahi ucapan Jaka.


Menaruh wadah airnya. “Apakah ada sesuatu yang kini tengah membebani pikiran kalian?” tanya Ki Pucung.


“Tidak ada!” jawab Jaka dan Nyi Dewi hampir bersamaan.


“Benar. Dinda merasa Mbakyu seperti orang yang sedang banyak pikiran,” ujar Laras ikut membuka suaranya. “apakah terjadi sesuatu pada Mbakyu dan Kanda? Atau mungkin saja Kanda melakukan sesuatu kepada Mbakyu?” Tiba-tiba menatap tajam ke arah Jaka.


Jaka hampir tersedak oleh makanan yang berada di dalam mulutnya. Ia mengisyaratkan dengan tangannya agar Laras memberinya jeda waktu untuk menghabiskan makanannya sebelum ia menanggapi ucapan Laras. Dengan cepat Jaka mengunyah dan menelan makanan di mulutnya.


Menarik napas sembari menunggu makanannya turun melewati kerongkongannya. “Laras, jangan menyudutkan Mbakyumu! Tak ada hal apa pun yang kuperbuat padanya. Aku akan tersedak makananku saat ini jika aku memang melakukan hal itu.”


“Dinda tidak percaya!” Berpaling pandang dari Jaka.


Jaka hanya menghela napas, tak mampu lagi menjelaskan apapun kepada Laras.

__ADS_1


“Diajeng, Kakakmu tidak melakukan hal buruk apa pun kepada Mbakyu.” Melirik Jaka sesaat, lalu menundukkan pandangannya. “Bibi, maafkan aku tidak menghabiskan makanannya. Aku hanya merasa sudah cukup kenyang saja,” ucap Nyi Dewi sembari mengalihkan pandangannya kepada Nyi Pucung. Nyi Pucung hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


“Mbakyu, katakan saja jika Kanda melakukan sesuatu yang macam-macam kepada Mbakyu.”


Nyi Dewi tak berkomentar, hanya memberikan seuntai senyum menanggapi ucapan Laras.


“Laras, kau tak boleh berkata begitu. Baik Kakakmu maupun Mbakyumu mempunyai batasannya masing-masing. Tak baik kau berbicara seperti itu kepada mereka. Hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman nantinya,” tegur Nyi Pucung atas sikap Laras.


“Baik, Bibi.” Menundukkan pandangan seolah merenungkan sikapnya. “Mbakyu, Kanda, maafkan Dinda sudah berkata begitu,” tambahnya.


Jaka mengusap rambut Laras dengan lembut. “Tidak apa! Aku bisa mengerti dengan perasaanmu. Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada Mbakyumu, ya!”


Hmm! Laras mengangguk pelan.


“Baiklah, kalau begitu, biarkan aku dan Laras membereskan sisa makanannya,” ujar Nyi Pucung bangkit dan merapikan alat makan yang telah digunakan. Laras turut bangkit membantu Nyi Pucung merapikan alat makan mereka.


“Bibi, aku akan ikut membantu juga,” sahut Nyi Dewi ikut bangkit dan langsung meraih beberapa wadah yang masih berisi lauk pauk dihadapannya.


“Ka, Kangmas, apakah Kangmas ingin menambah lauknya? Ataukah sudah selesai makan? Biar kubantu bereskan bekas makanannya.”


“Tidak! Biarkan saja! Aku akan menghabiskan sisa bagianku. Aku akan merapikannya sendiri nanti.”


Tidak berani beradu pandang. “Baiklah..”


Dalam sekejap saja, hanya tersisa sebuah kendi air dan sebuah gelas yang terbuat dari potongan bambu besar, serta alat makan yang digunakan Jaka di atas meja. Jaka kembali melahap sisa makanannya meski hanya tinggal dirinya sendiri di ruang makan.


Jaka melahapnya sesuap demi sesuap hingga bagiannya hampir selesai ia makan. Di sela-sela makannya, ia memikirkan ucapan Laras, kemudian teringat saat dirinya dan Nyi Dewi berpapasan setelah Nyi Dewi selesai membersihkan diri.


“Apa maksudnya dengan berbuat sesuatu yang macam-macam?” batin Jaka sembari memasukkan sesuap nasi di tangannya. Bayangan Aan dirinya yang berpapasan dengan Nyi Dewi tiba-tiba kembali muncul di pikirannya. Kala itu Jaka memang sempat memperhatikan seluruh tubuh Nyi Dewi meski hanya sepintas saja.


“Saat itu kan..” ucap Jaka lirih. Dan sebelum ucapannya selesai, ia tersedak makanannya. Ia segera meraih wadah air, namun tak berisi. Lantas meraih kendi air, berharap masih ada sisa-sisa air yang bisa ia teguk di dalamnya. Namun, pada saat ia menuangkannya, tak ada setetes air pun yang keluar darinya.

__ADS_1


Bangkit dan merasa kesal. “Apa aku memang sudah melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepadanya!?” Membatin kesal seraya bangkit membereskan alat makan dan membawanya ke ruang belakang.


__ADS_2