
Hampir beberapa saat suara guntur mereda. Setelahnya suara guntur agak melengang, namun masih terdengar meskipun suaranya agak kecil dan tak lagi beriringan.
“Kau.. Awas saja kalau kau mencoba mengambil keuntungan dariku!” Mengancam sembari mendekapkan kedua tangan pada dadanya.
“Bagaimana bisa kau memikirkan hal itu di saat-saat seperti ini!?” ucap Jaka merasa heran dengan jalan pikiran Dewi Mayasari.
“Mungkin saja, kan.” Memicingkan matanya, menunggu reaksi dari Jaka. “begitu aku lengah, kesempatanmu juga akan terbuka lebar untuk melakukannya,” tuduh Dewi Mayasari.
Jaka merasa kesal dengan tuduhan Dewi Mayasari yang tidak mendasar atas dirinya. “Bagaimana kau sajalah! Aku tak mengerti bagaimana dengan jalan pikiranmu itu,” sungut Jaka dengan ketus.
“Kenapa kau menjadi marah? Harusnya akulah yang..”
Beberapa saat setelah tak terdengar. suara keras guntur tiba-tiba kembali. Dewi Mayasari yang mendengar suara keras guntur menjadi panik. Tubuhnya bergeser mundur dan menabrak kaki Jaka.
“Hei, Apa yang terjadi sekarang? Bukankah kau yang mencoba menimbulkan kesalahpahaman padaku jika kau duduk seperti ini?”
“Diam! Apakah kau tidak mendengar suara keras guntur yang barusan itu?” Meringis ketakutan.
“Aku dengar! Tapi hanya kau yang takut akan suara keras guntur, sedangkan aku tidak!”
__ADS_1
“Kau..” Dewi Mayasari merasa kesal atas ucapan Jaka.
Suara guntur yang menggelegar tak terdengar lagi. Dewi Mayasari bisa bernapas lega. Aaah! Dewi Mayasari merebahkan tubuhnya tanpa sadar, menyandar pada tubuh Jaka. Dewi Mayasari merasakan ada hal yang aneh baginya. Ia berpikir sejenak, hal apa yang terasa aneh menurutnya. Ia terbelalak kaget, mendapati tubuhnya bersandar pada Jaka tanpa disadarinya. Ia bergegas hendak menarik tubuhnya untuk bangkit. Sejurus kemudian, kilatan petir terlihat jelas. Seluruh ruangan gua seakan terang benderang. Melihat itu, Dewi Mayasari berpikir akan ada suara guntur yang akan menggelar tak lama setelah kilatan terang itu. Ia segera menunduk cepat pada tangan Jaka sambil menjerit. Namun tak ada suara guntur pun yang terdengar.
Dewi Mayasari menarik tubuhnya bangkit terduduk karena dirasa tak ada suara guntur yang akan terdengar. Ia mencoba memajukan sedikit posisi duduknya agar menjauhi Jaka.
Beberapa detik kemudian, suara guntur yang menggelegar tanpa kilatan terang tiba-tiba saja terdengar sangat kencang, seakan menggetarkan dinding-dinding gua tempat ia dan Jaka berteduh. Suaranya bahkan lebih keras dari suara-suara guntur yang sebelumnya.
Demi mendengar suara itu Dewi Mayasari menjadi sangat terkejut dan ketakutan dibuatnya. Ia bergeser semakin mundur, bahkan merapat dengan tubuh Jaka. Tubuhnya gemetaran. Dewi Mayasari akhirnya tak tahan dan mulai menangis.
“Sudah, sudah, jangan menangis! Takkan ada suara guntur lagi,” hibur Jaka mengusap air mata Dewi Mayasari.
“Bagaimana bila nanti suara gunturnya datang lagi dan lebih keras dari yang barusan?” Terisak dengan mata berkaca-kaca.
Dewi Mayasari masih terisak. Ia menyadari ada sesuatu yang memegangi tubuhnya. “Kenapa kau mengambil keuntungan dariku?” isaknya sembari menyeka sisa-sisa air matanya.
“Lihatlah dirimu! Kau sangat kedinginan! Apa kau tidak menyadarinya? Bagaimana jika nanti kau tidak sadarkan diri karena kedinginan? Kau pasti akan merepotkanku bila kau sampai tak sadarkan diri di sini. Terlebih lagi tubuhmu itu sedikit berat.”
“Aku tidak berat!” Berkata keras dengan nada marah dan cemberut.
__ADS_1
Baik, baik. Kau tidak berat. Untuk sekarang, biarkan aku melakukan ini dengan terpaksa. Sebagai balasannya, aku akan menebus permintaan maafku dan mengabulkan satu permintaanmu setelah kita sampai di padepokan nanti.”
“Aku.. Aku.. Tapi tidak perlu dengan seperti ini pun masih bisa, kan?” Tiba-tiba wajah Dewi Mayasari memerah.
Jaka bertanya dengan rasa penasaran, “Cara apalagi yang kau kira bisa lebih cocok selain ini?”
Dewi Mayasari tak bisa memberikan alasan yang kuat untuk menyangkal pertanyaan Jaka. “Tapi tidak perlu dengan memelukku seperti ini juga..” ucap Dewi Mayasari pelan seakan tak bersuara.
“Hah! Apa yang kau gumamkan? Suaramu terlalu kecil, aku bahkan tidak bisa mendengarnya!”
“Tidak ada! Kau tidak mendengar apa pun!” Sedikit berteriak dan memukul-mukul tangan Jaka karena malu.
“Apakah kau merasa kesal?”
“Hngh!” Berpaling muka.
“Ataukah kau sedang marah padaku?”
“Huh!” Semakin memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Baiklah! Aku akan melepaskan tanganku jika kau keberatan aku memelukmu.”
Entah kenapa, Dewi Mayasari merasa enggan Jaka melepaskan pelukannya. “Ka, kali ini saja! Kali ini, aku akan mengizinkanmu memelukku..” ucapnya lirih.