Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Semangat baru


__ADS_3

Dirasa tak ada sahutan apa pun, akhirnya Jaka pergi ke ruangan depan dan mulai tertidur. Sesekali ia terjaga dari tidurnya. Mengecek kondisi anak perempuan itu.


Tak ada yang berubah. Matanya belum terpejam, makanannya tidak tersentuh, hanya pijakan duduknya saja yang agak bergeser sedikit. Jaka pun kembali tidur di ruang depan.


Pagi sudah menjelang ketika Jaka mulai terbangun dari tidurnya.


Ia mengecek kembali kondisi dari anak perempuan itu, namun tak jauh berbeda dengan kondisi terakhir seperti yang ia lihat tadi malam.


Tak ada perubahan besar yang didapati tiap kali Jaka mengecek keadaannya.


Beberapa hari berlalu sejak tinggalnya anak perempuan itu bersama Jaka.


Hari-harinya sama seperti sebelumnya. Ia hanya mengurung diri tak melakukan apa pun, tak menyentuh makanan yang Jaka hidangkan, bahkan tak mau bicara walau sepatah kata pun.


Semenjak kepergian ayahnya, ia terlihat hanya mengurung diri sembari berbaring dan menghadap ke arah dinding di kamar yang biasa digunakan oleh Jaka, seolah-olah tak ada gairah untuk dirinya kembali melanjutkan hidupnya.


Terkadang air matanya tak henti-hentinya membasahi pipinya. Isak tangis kadang kala terdengar walaupun tak begitu keras. Bahkan ia sering menyebut-nyebut sang ayah dalam isak tangisnya.


Tepat tiga hari setelah kedatangan anak perempuan yang harus ia jaga, ditambah bahan makanan yang mulai berkurang, Jaka memutuskan untuk mencari hewan buruan di hutan agar tidak kekurangan bahan makanan.


Hari itu ia mulai menyiapkan segalanya. Kuda dan peralatan berburu pun sudah ia persiapkan dengan matang.


Setelah membersihkan diri, Jaka kembali ke kamarnya dan membersihkan tempat tidurnya, mengecek kembali bagaimana kondisi anak perempuan itu untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi berburu ke hutan.


Lagi-lagi anak perempuan itu masih tetap tak berpindah dari tempat ia berbaring. Ia masih memanggil-manggil sang ayah yang sudah tiada sambil memeluk lutut menghadapi dinding kamar.


Jaka semakin menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir mengenai tingkah lakunya itu yang selalu sama setiap harinya.


“Kalau kau tak suka dengan makanannya, aku akan pergi mencari buruan ataupun makanan lainnya. Kau diamlah di sini dan jangan pergi ke mana-mana sebelum aku kembali!”


Jaka membalikkan badannya, bersiap-siap untuk pergi berburu. Anak panah beserta busurnya sudah ia bawa. Namun, langkah kakinya tiba-tiba tertahan.


Sebuah tangan seketika menarik bajunya dengan cepat.


“Ka, Kakanda.. Ja, jangan tinggalkan aku sendirian! Aku takut!”


Itulah kalimat yang keluar untuk pertama kalinya dari mulut anak perempuan itu. Jaka bersyukur, anak perempuan itu kini sudah mau berbicara padanya walaupun tak banyak.

__ADS_1


Jaka tersenyum hangat. “Siapa namamu?” tanya Jaka dengan lemah lembut.


“Aku.. Din, Dinda. Dinda Kirana Larasati.” Anak perempuan itu menyahut sembari menundukkan kepalanya.


Jaka duduk di sampingnya sebentar. Anak perempuan itu terlihat malu dan enggan berinteraksi dengan Jaka cukup lama.


Jaka tersenyum sembari mengelus-elus rambutnya dengan lembut. Jaka berkata pelan penuh perhatian, “Baiklah! Kalau begitu, bersihkan dirimu dulu. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu. Dan mulai hari ini, kau kupanggil Laras saja, bagaimana?”


Anak perempuan itu tak menggubrisnya, raut wajahnya terlihat menunjukkan rasa malu, hanya anggukan kecil yang menjadi jawabannya.


Jaka lantas menuntun anak perempuan itu untuk pergi membersihkan diri, lalu meninggalkannya, pergi mencari pakaian dan menyiapkan makanan untuknya.


Semenjak hari itu, anak perempuan itu mulai terlihat bangkit dari kesedihannya yang mendalam.


Ia sudah mau melakukan berbagai hal-hal kecil. Jaka pun mensyukuri perubahan dari anak perempuan yang kini dijaganya.


Jaka berharap aura hidupnya akan mulai tumbuh secara perlahan. Sedikit demi sedikit.


Sudah dua bulan berlalu sejak Jaka tinggal bersama Dinda Kirana Larasati, seorang anak perempuan yang dititipkan oleh pria paruh baya kepadanya.


Seorang gadis belia yang kira-kira berusia belas-an tahun itu mulai membuka mulutnya. Ia sudah mau berbicara dengan Jaka, walaupun tak banyak mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


Aura kehidupannya kini mulai terlihat jelas. Setelah dua bulan berselang, gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik nan periang. Terkadang ia juga menemani Jaka berlatih.


“Kanda, apa latihannya sudah selesai?”


“Sudah! Aku pikir latihan untuk hari ini sudah cukup.”


“Dinda bawakan minuman dan makanan untuk Kanda. Kanda makanlah, supaya tenaga Kanda pulih kembali!”


“Terima kasih, Laras. Kau memang pandai membuat senang Kakakmu ini.”


Laras tersenyum. “Apakah hari ini Kanda akan pergi berburu ke hutan lagi?”


“Ya. Beberapa bahan makanan kita sudah mulai berkurang, bahkan untuk beberapa hari kedepan pun aku pikir takkan cukup dengan persediaan kita saat ini.”


“Baiklah, Kanda berhati-hatilah!” ucap Laras memaklumi. “tapi, Kanda jangan kembali terlalu malam."

__ADS_1


“Apakah kau merasa kesepian kutinggal sendirian ke hutan?” tanya Jaka. Laras mengangguk. Raut wajahnya seakan-akan mengatakan agar Jaka tidak pergi.


“Tenang saja! Aku akan pulang dengan cepat begitu aku dapat buruan, ya. Kau tak perlu khawatir. Tunggulah aku pulang dan jangan pergi ke mana-mana.” Mengelus lembut rambut Laras.


Menganggukkan kepalanya, kemudian membalas dengan amat berat hati, “Baik, Kanda.”


“Ya sudah, kalau begitu aku mau bersiap-siap dulu, simpanlah sisa makanan tadi untuk malam nanti. Semoga saja aku kan mendapat tangkapan besar hari ini.”


Laras segera berlalu sambil membawa sisa makanan dan meninggalkan Jaka yang tengah mempersiapkan perlengkapan berburunya.


“Kanda! Cepat, kemarilah! Cepat!” teriak Laras, begitulah panggilan Jaka Umbara pada Dinda Kirana Larasati. Ia berlarian ke arah Jaka yang tengah membereskan busur panahnya. “Aku melihat ada kelinci putih di belakang rumah!”


“Kenapa memang?” tanya Jaka keheranan.


“Dinda ingin sekali memakan daging kelinci, Kanda,” ucap Laras. “tolong, tangkapkan untuk Dinda, ya!” pintanya sambil memelas.


Menarik napas. “Baik, baik, tunjukkanlah padaku di mana kelincinya.” Tak tahan melihat raut wajah Laras.


“Itu.. dia ada di belakang, Kanda. Dinda melihatnya di samping pohon besar itu. Cepatlah, nanti dia keburu pergi lagi!”


Laras menarik tangan Jaka dengan cepat. Keduanya langsung menuju ke tempat kelinci itu berada.


“Di mana kelincinya? Tak ada apa pun di sana!”


“Tadi, ada! Dinda melihat dengan mata kepala Dinda sendiri, tadi ia berada tepat di dekat semak itu.” Menunjuk semak-semak dekat pohon besar yang rindang yang menutupi sebagian atap padepokan.


Wajahnya tiba-tiba muram, menunjukkan sedikit kekecewaan yang terpancar di wajahnya.


“Iya, iya. Sekarang mana? Tak ada, kan? Sudahlah! Nanti aku akan tangkapkan beberapa ekor di dalam hutan untukmu."


Jaka berbalik hendak kembali ke dalam, tapi langkahnya tertahan. Laras segera mencegah Jaka.


“Ahh, lihatlah, Kanda! Itu kelincinya! Dia ada di sana, di belakang pohon besar itu!” Laras begitu antusias saat melihat kelinci itu belum pergi jauh. Kemenangan seolah terpancar dari wajahnya.


“Cepat, Kanda! Cepat! Nanti dia keburu pergi jauh!”


Jaka mengambil anak panah dan langsung membidik kelinci yang ditunjukkan Laras. Konsentrasi penuh ia pusatkan di ujung anak panah yang tengah dipegangnya.

__ADS_1


Srakkk! Anak panah melesat dengan cepat menembus semak-semak. Seketika kelinci itu pun terkapar di hadapan mereka.


Sekali lagi rona kemenangan terpancar di wajah Laras. Ia merasa senang akhirnya bisa memakan makanan kesukaannya.


__ADS_2