Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin

Jaka Umbara; Sang Pendekar Angin
Dua mayat yang terbunuh


__ADS_3

Sebuah teriakan tiba-tiba saja terdengar dari luar kamar. Suara derap kaki beberapa orang yang berlarian terdengar amat jelas. Beberapa orang yang berlarian sembari membicarakan tentang penemuan mayat dan pembunuhan.


Jaka tiba-tiba bangkit dan segera mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi.


“Hei, aku belum selesai bicara,” ucap Dewi Mayasari dengan kesal.


“Kita bicarakan itu nanti saja. Sekarang aku akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi di sini. Kau jangan kemana-mana, tetaplah di kamar.” Bergegas keluar kamar dengan cepat.


“Tidak! Aku ingin ikut.” Bangkit dan segera mengejar Jaka keluar kamar.


Beberapa baris dari kamarnya, di sebuah kamar, Jaka melihat banyak kerumunan orang-orang yang berdiri.


“Apa yang terjadi?" tanya Jaka pada orang yang berdiri di hadapannya.


“Aku tidak tahu! Aku baru saja sampai di sini dan sudah banyak orang yang berkerumunan,” jawabnya.

__ADS_1


Jaka menjadi kebingungan untuk menyimpulkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Pandangan matanya seketika menangkap sosok yang tak asing di ingatannya. Ia segera menghampirinya.


“Kasim, apa yang sebenarnya telah terjadi?" Bertanya sembari menepuk pundak orang yang dikenalnya. Orang yang dipanggilnya Kasim itu menoleh. Wajahnya terlihat sedih, seakan ia mengalami suatu hal yang memilukan.


“Jaka..” Terisak dan memeluk Jaka.


Jaka Kebingungan atas sikapnya. “Hei, apa yang sebenarnya telah terjadi?"


“Saudaraku.. dia, dia..” Ia menangis tak bisa berkata-kata.


“Kenapa kau kemari? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tetap di kamar?”


“Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.” Menjawab enteng sambil terus mengikuti Jaka.


Jaka merangsek semakin ke depan diikuti oleh Dewi Mayasari. Setelah sampai di tujuan, tampaklah oleh keduanya apa yang menyebabkan orang-orang berdiri berkerumun.

__ADS_1


Seorang mayat laki-laki tampak terlihat tak mengenakan pakaian sehelai pun. Yang lebih mengenaskan lagi kedua matanya dicukil dengan benda tajam secara kasar. Di sampingnya seorang mayat perempuan yang lebih muda darinya juga terlihat mengalami hal yang sama. Mayat perempuan itu bahkan terlihat lebih mengenaskan. Mulutnya menganga, buah dadanya hancur terkoyak benda tajam, sedang wajahnya nyaris tak berupa. Jaka melihat ada sebuah jarum yang menembus kulit di kedua leher mayat tersebut, sama persis dengan jarum yang menancap di dinding kamarnya.


Melihat itu Dewi Mayasari terlihat panik dan hampir menangis. Jaka kemudian mendekapnya. “Sudah kukatakan untuk tetap berdiam di dalam kamar. Kenapa kau malah keluar dan mengikutiku?”


“Aku hanya ingin tahu. Aku, aku tidak mengira akan melihat hal seperti ini..”


“Ya sudah, mari kita kembali saja.” Menuntun Dewi Mayasari menghindari kerumunan.


Jaka kembali menghampiri orang bernama Kasim yang dikenalnya untuk mengetahui lebih jelas mengenai kejadian yang telah terjadi. Jaka mengajaknya agak menjauh dari kerumunan.


“Kasim, apa sebenarnya yang telah terjadi pada mereka?”


“Saudaraku hendak menemuiku pada awalnya, kemudian ia menyewa sebuah kamar di penginapan. Ia lalu meminta seorang teman wanitanya datang menemuinya. Besoknya mereka hendak mengajakku untuk makan bersama. Tapi.. tapi.. begitu aku mendatangi mereka. Mereka sudah..” Kembali menangis karena tak kuasa menjelaskan apa yang dialami saudaranya.


“Apakah kau melihat ada tanda-tanda yang mencurigakan?”

__ADS_1


Kasim menggeleng pelan. Ia mengatakan tak mencurigai apa pun sebelum saudaranya itu menjadi korban pembunuhan. Jaka belum sepenuhnya percaya pada ucapan Kasim. Ia masih berspekulasi bahwa Kasim tahu akan sesuatu, namun tidak memberitahukan sesuatu itu kepada Jaka. Pasalnya Jaka dan Dewi Mayasari bisa jadi akan bernasib sama seperti dua mayat itu, mengingat kejadian semalam yang sangat misterius.


__ADS_2