
Setelah Patih Banaspati berlalu cukup jauh, kelimanya berkumpul di barak mereka. Setibanya di barak, salah seorang yang tadi menerima tali kekang kuda dari Patih Banaspati langsung berucap dengan nada ketus, "Apa kalian lihat tadi saat Patih Banaspati datang? Jangankan untuk tersenyum, sapaannya kepada kita pun tak ada!"
"Iya! Setidaknya ucapkanlah beberapa patah kata atau anggukan kecil!" timpal lainnya yang juga merasakan pandangan yang sama.
"Hus! Kalian jangan sampai berkata-kata sembarangan! Bagaimana jika ada yang mendengar percakapan kita nanti?" ujar seseorang yang lain setengah takut jika ada orang lain yang tak sengaja mendengarkan percakapan mereka.
"Apalah daya kita ini yang hanya seorang penjaga kuda. Masih mau berinteraksi dengan kita pun sudah untung bagi kita," ucap yang paling tua di antara mereka sembari mengucurkan air dari dalam kendi dan langsung meminumnya.
"Tapi kalian tidak tahu, kan? Aku dan juga Kakang Samun sempat bertemu dengan Raden Jaka Umbara yang merupakan Cucu Paduka beberapa waktu lalu," ucap seseorang yang paling muda ikut serta membuka suaranya. "benar, kan, Kakang?" tanyanya pada orang yang paling tua. Orang yang paling tua hanya tersenyum dengan iringan anggukan pelan di kepalanya. "Raden Jaka Umbara itu terlihat lebih ramah dan mudah untuk tersenyum. Juga Nyi Dewi.. Ah, andai aku juga memiliki seorang gadis yang begitu cantik sepertinya!.." ucapnya lagi dengan wajah setengah malu.
"Hus! Buanglah jauh-jauh pikiran kotormu itu! Siapa memangnya dirimu hingga kau berani untuk bermimpi seperti itu?"
Orang yang paling muda pun merasakan perasaan amat dongkol saat mendengar ucapan dari kawannya itu. Sementara yang lainnya hanya bisa tertawa-tawa melihat orang yang paling muda tak mampu lagi untuk mengatakan sepatah kata pun.
...***...
"Raden!" sapa Patih Laya yang berpapasan dengan Patih Banaspati di sekitar luar aula besar. Patih Laya menganggukkan kepalanya lirih disertai seuntai senyuman hangat saat menyambut kedatangan dari Patih Banaspati di istana kerajaan. Patih Laya pun segera menghentikan langkahnya untuk berbasa-basi dan sekedar menyapa Patih Banaspati.
Patih Banaspati hanya menunjukkan wajah datar tanpa senyuman saat membalas sapaan dari Patih Laya. “Ya! Apakah Paduka berada di dalam ruangannya?”
"Benar, Paduka tengah membaca surat laporan yang diterimanya siang tadi," jawab Patih Laya tetap mengulum senyuman.
"Baiklah, terima kasih!" Patih Banaspati pun segera melenggang melewati Patih Laya tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Iya, kembali, Raden!" balas Patih Laya sembari menggelengkan kepalanya melihat Patih Banaspati yang berlalu melewatinya begitu saja.
Setelah sampai di ruangan yang dituju, Patih Banaspati bergegas masuk untuk menemui Baginda Raja Baskara Nara Diningrat.
“Paduka, Hamba Patih Banaspati! Datang menghadap untuk menyampaikan laporan!” ucap Patih Banaspati dari luar ruangan setelah mengetuk pintu.
__ADS_1
“Masuklah!”
Patih Banaspati bersegera masuk. Baginda Raja tengah duduk dan membaca surat pada sebuah tempat duduk yang terletak di dekat jendela ruangan yang saat itu tirainya setengah terbuka. Baginda raja hanya seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun dalam ruangannya.
“Pamanda!” Patih Banaspati menghaturkan hormatnya seperti kebanyakan orang yang menghadap atau pun bertemu dengan Baginda Raja.
“Duduklah!” pinta Baginda Raja. Patih Banaspati pun menurut. Patih Banaspati mengambil tempat duduk di depan Baginda Raja, saling berhadapan dengan meja yang cukup besar sebagai pembatas keduanya.
“Bagaimana hasilnya? Apa kau menemukan sesuatu?”
“Ampun beribu ampun, Pamanda! Hamba telah mengutus orang agar mengusut masalah tersebut. Dan sepertinya hal itu belum menemukan adanya sebuah titik terang.”
Baginda raja bangkit, berjalan perlahan menghadap ke arah luar jendela, berdiri tegap dan membelakangi Patih Banaspati dengan kedua tangan di belakang punggung.
“Hm.. Sudah dua bulan ini desas-desus kabar tentang adanya sebuah upaya gerakan-gerakan pemberontakan terhadap kerajaan kita ini mencuat naik hingga terdengar sampai ke telingaku.” Berbalik dan kembali ke tempat duduknya. “aku juga mendapatkan sebuah surat yang menyatakan bahwa pemberontakan itu kian dekat dan hanya tinggal menunggu waktu saja.”
“Hamba pikir, desas-desus itu hanyalah isu semata saja, Pamanda. Bukankah terlalu dibesar-besarkan?”
Baginda Raja memandang Patih Banaspati. Pandangan itu seakan menyiratkan sesuatu yang memunculkan rasa kekhawatiran pada diri Patih Banaspati seketika. Patih Banaspati menduga bahwa Baginda Raja mengira dirinya tahu akan desas-desus pemberontakan yang akan terjadi.
Patih Banaspati pun balas memandang Baginda Raja dengan pandangan yang meyakinkan agar Baginda Raja tidak menaruh curiga seperti dugaannya.
“Bagaimana pendapatmu?”
Patih Banaspati tertegun. Detak jantungnya serasa mau copot dan hampir berhenti berdetak. Patih Banaspati merasa tarikan napasnya terasa begitu sesak oleh pertanyaan Baginda Raja Baskara Nara Diningrat.
“Ham, hamba tentunya sejalan dengan pemikiran Pamanda barusan! Gerakan-gerakan pemberontakan terhadap kerajaan kita ini memang harus diberantas sampai ke akar-akarnya.”
“Langkah apa yang sebaiknya kita ambil?”
__ADS_1
“Hamba akan segera mengusut lagi masalah ini sampai tuntas hingga ke pelosok-pelosok wilayah kerajaan kita, Pamanda!”
Baginda Raja mencermati perkataan Patih Banaspati. Patih Banaspati masih menunjukkan pandangan yang meyakinkan. Tubuhnya sedikit gusar. Keringat dingin terasa mengucur pelan.
“Baiklah. Kau boleh kembali!”
Patih Banaspati segera bangkit berdiri dan memberikan penghormatan kepada Baginda Raja sebelum keluar dari dalam ruangan tersebut. “Hamba mohon undur diri, Pamanda!” ucapnya kemudian.
Setelah Patih Banaspati keluar dari ruangan, tak lama berselang, Patih Laya masuk ke dalam ruangan setelah dipersilahkan oleh Baginda Raja.
Patih Laya terduduk di hadapan Baginda Raja seperti halnya Patih Banaspati duduk setelah menghaturkan penghormatannya. Patih Laya membawakan beberapa berkas yang diminta oleh Baginda Raja untuk dicarikan.
“Mohon ampun, Paduka! Hamba hanya menemukan sebagian dari yang paduka minta Hamba carikan.”
“Bagaimana dengan perkembangannya saat ini?”
“Jawab, Paduka! Saat ini Demang tengah berusaha menenangkan seluruh penduduk agar tidak terlalu resah akan wabah penyakit yang menjangkiti sebagian penduduk di sana.”
“Apakah kau telah mengirimkan obat-obatan dan beberapa orang agar ikut membantu merawat mereka?”
"Benar, Paduka!"
"Mintalah beberapa orang lagi untuk pergi membantu yang lain!"
"Baik, Paduka! Akan segera Hamba laksanakan!"
"Baguslah!"
Sesaat kemudian suasana ruangan tiba-tiba berubah menjadi hening. Baginda Raja menyibukkan dirinya dengan beberapa surat laporan lainnya. Sedangkan Patih Laya ikut menyibukkan diri dengan mengecek kembali berkas-berkas yang di mintakan oleh Baginda Raja.
__ADS_1
"Patih?" panggil Baginda Raja yang telah selesai membaca semua surat laporan.
"Hamba, Paduka!" sahut Patih Laya sedikit tersentak oleh suara Baginda Raja yang memanggilnya.